Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 235


Julian berlari membawa Mae ke mobil di ikuti oleh Dea dan Mei, Dea menangis melihat Mae. apa yang sebenarnya terjadi kepada sahabatnya itu hingga Mae jadi seperti ini.


Julian melajukan mobilnya dengan cepat, ia tidak ingin membuat Mae tidak tertolong entahlah hatinya merasa geram. Karena ini kali kedua Mae melakukan hal bodoh yang membahayakan dirinya.


Setibanya di rumah sakit Mae langsung dilarikan ke ruang UGD, Mei Terlihat memeluk Dea yang sedang menangis.


"De sebenarnya ada apa sii? kenapa Mae bisa begitu?" tanya Julian.


"Gue gak tau Jul, tadi kita abis bercanda terus balik ke kamar. udah gitu gue ngerasa gak enak hati dan pengen ketemu Mae, tapi hiks" jawab Dea terhenti.


"Udah lah semua udah terjadi juga, bang Justin belum balik?" tanya Julian, Dea pun menggeleng.


Tidak berapa lama Terlihat Sisil, Rio juga Justin berjalan ke arah mereka bertiga. ya karena Mei mengirim pesan kepada Sisil mengabarkan Mae masuk ke rumah sakit, Justin memeluk Dea yang sedang menangis.


"Mei apa yang terjadi?" tanya Sisil panik.


"Mei gak tau bunda, kita nemuin kak Mae di dalam bathtub dengan kepala yang tenggelam" jawab Meitha, setelah mendengar Jawaban Mei Sisil mengerti jika Mae akan menangis jika sedang sendirian.


Lagi pula wanita mana yang tahan jika melihat lelaki yang di cintainya memperhatikan wanita lain, namun semua yang berada disana merasa salut karena Mae tidak egoi dia lebih memikirkan kebahagiaan orang lain.


Tidak lama setelah itu dokter yang memeriksa Mae keluar, dan menjelaskan keadaan Mae kepada Sisil juga Rio.


"Bagaimana dok?" tanya Rio.


"Keadaan nya saat ini baik-baik saja tuan, beruntung nona cepat dibawa ke rumah sakit. jika tidak makan nyawa nya bisa terancam" jawab si dokter.


"Lalu apa yang membuatnya seperti itu?" tanya Sisil.


"Nona merasa cukup tertekan, namun saya lihat dia gadis yang cukup kuat. tapi tidak perlu khawatir keadaan nya tidak mengkhawatirkan, kalian bisa menjenguk nya setelah nona di pindahkan ke ruang rawat" ucap dokter itu berlalu. Mei yang mendengar itu merasa bersalah, apa ia harus melepaskan Dio untuk Mae? mengapa ini menjadi harus saling mengorbankan.


Merekapun pergi ke ruang rawat Mae, dan terlihat Mae yang sudah membuka matanya. wajahnya yang pucat dan pandangan yang kosong terasa menyayat hati Sisil dan Dea yang melihatnya.


"Mae" panggil Sisil.


"E_eh bunda" lirihnya, sungguh Mae merasa tidak enak.


"Kamu tidak apa-apa nak, cerita sama bunda" Ucap Sisil.


"Mae gak apa-apa, maaf karena Mae bunda dan yang lain jadi kerepotan" lirihnya.


"Hei sayang tentu tidak, kami tidak merasa di repotkan" ujar Sisil mengecup kening Mae.


(bunda Mae mohon jangan terlalu baik kepada Mae, karena itu akan membuat Mae sulit berpaling. Mae bukan hanya mencintai Dio anak bunda tapi Mae juga sudah sangat menyayangi dan mencintai bunda. ayah dan bunda sudah seperti orang tua Mae) batinnya.


"Kakak maaf" lirih Mei menggenggam tangan Mae.


"Hei kamu kenapa?" tanya Mae.


"Kakak gak usah bohong, Mei tahu kakak seperti ini karena melihat kedekatan aku dengan Abang kan" jawab Mei, Mae pun tersenyum.


"Tidak" balas Mae.


"Bohong, kak aku akan lepasin Abang buat kakak tapi Mei mohon jangan sakiti diri kakak. dengan adanya kakak di samping Mei itu udah lebih dari cukup" ucap Mei membuat Dea dan Sisil terkejut. bagaimana bisa kedua gadis itu memperebutkan lelaki yang sama, lalu sekarang malah sama-sama ingin mengikhlaskan demi menjaga perasaan satu sama lain.


"Tidak Mei jangan lakukan itu, jika kamu melepaskan Dio aku tidak akan bisa untuk bersamanya bahkan untuk menjaga nya" ucap Mae sendu.


"Kenapa?" tanya mei.


"CK. kau ini gimana Dio suka sama kamu Mei, dan itu gak mungkin kalo aku harus sama dia. jaga dia dengan baik oke" jawab Mae.


"Ya" sahut Mae.


"Kamu selalu mengorbankan semuanya untuk orang lain, bahkan kebahagiaan kamu sendiri" ucap Rio.


"Tidak ayah, jika aku kekeh itu tidak akan menjadi kebahagiaan. Justin itu menjadi sebuah keegoisan dan hanya akan menyakiti hati banyak orang termasuk diriku sendiri" ujar Mae.


"Cinta itu akan datang dengan sendirinya Mai" ucap Justin.


"Maka dari itu aku tidak bisa untuk bersama Dio meskipun aku mencintai nya, karena aku akan berusaha mencintai orang yang memang tercipta untukku" ujar Mae tersenyum.


"Mei" Mae meraih tangan Mei.


"Ya" sahut Mei.


"Aku gak bisa sama Dio meskipun kamu merelakan nya untuk ku, tapi aku harap kamu tidak akan melepaskan nya" ucap Mae.


"Kita gak pacaran kak" elak Mei.


"Aku tahu, tapi Sungguh aku tidak bisa" ucap Mae meyakinkan.


"Kenapa" tanya mei.


"Pa...papa dan mama sudah menjodohkan aku, dan aku harap kamu tidak mengecewakan bahkan menyakiti Dio. jagalah dia dan hatinya untuk aku mei aku mohon, aku tidak bisa menjaga nya jadi aku harap kamu orang yang dia cintai akan menjaganya." jawab Mae dengan air mata yang mulai menetes.


Ucapan Mae membuat semua orang yang berada dalam ruangan itu terkejut, kenapa bisa di jodohkan? apa maksudnya ini.


Bahkan Julian sendiri pun sampai membuka mulutnya, jika Mae di jodohkan lalu bagaimana dengan ibunya yang sudah banyak bermimpi mengenai Mae yang akan menjadi menantunya.


Ada rasa lega namun ada juga rasa takut dalam diri Julian, namun sudahlah jika Mae untuk nya maka Mae akan bersamanya. itulah yang di fikirkan Julian saat ini...


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ˜ŠπŸ€—


A**: yang ini gue kasi part Mae dulu lah, kasian jadi figuran mele πŸ˜‚


N: sedih gue ah, pake jodohin segalaπŸ˜’


A: anggap aja turun temurun gitu di jodoinπŸ˜‚


N: bermula dari si bunda gitu ya 😁


A: lah iya bener ituπŸ˜‚


N: asiiikkk lah🀣


A: πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚*