Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 185


Hari ini sangat terasa beda, jika biasanya Mei yang akan menggangu Dio namun tidak untuk kali ini. justru malah Dio yang menggangu Mei.


Dio masuk dan melompat ke atas tempat tidur Mei, hingga membuat si empunya kaget karena mengampul ke atas.


"Astagfirullah, terbang gue" Ucap Mei kaget.


"Haha badan Lo kecil si jadi terbang" Ledek Dio.


"Kecil apaan, Abang nya aja yang kegedean. sekali lompat udah kaya gem*a" cetus Mei.


"Eh mana ada gede, liat nih badan gue gak gede" ucap Dio.


"Iyalah terserah tuan raja aja udah, neng mah kalah Mulu" kesal Mei karena Dio tidak mau mengalah.


"Dih ngambek bocah" ucap Dio mencolek pipi Mei.


"Apasi Abang ah, colek-colek Mei bukan sambel" ucap Mei membuat Dio terkekeh.


"Mei sini" panggil Dio, meminta Mei untuk duduk di sofa sebelah Dio.


"Apa Abang?" tanya nya.


"Gue mau nanya" ucap Dio.


"Ya silahkan" balas mei, namun hati Mei merasa tidak enak. jantung nya berdegup kencang seperti sedang berdisko.


(etolong ya jantung, untuk kali ini bekerja samalah dengan akoh. ini akoh lagi ketakutan Lo enak-enakan berdisko jep ajep-ajep) batin Mei.


"Gue mau nanya Mae sama Nina cantikan mana?" tanya Dio. sebenarnya Dio hanya ingin mencari tahu mengenai perasaan Mei, dan mungkin agar Mei tidak terlalu kesepian saat dirinya pergi. karena Mei akan berfikir jika Dio menyukai Siti Maemunah atau Nina.


deegg... jantung Mei berdegup semakin kencang, sesak tentu saja namun karena apa? iapun bingung.


"Ya nggak tau lah Abang" ucap mei ragu.


"Oke gue kasi foto nya" ucap Dio menunjukan foto mae dan Nina. namun ia kebablasan ikut menunjukkan foto Mei.


Nina Tunisia



Siti Maesaroh



Meitha Putri Pradanta



Hati Mei terasa cenat-cenut saat melihat foto Nina dan Mae yang cantik, namun seketika matanya membulat sempurna saat Dio menunjukan foto dirinya. yang ia yakini foto itu di ambil dari ponsel Dea, karena Mei tahu hanya Dea yang punya foto itu karena usil memotret dirinya.


"Ehhh kelewatan Mei" ucap Dio cengengesan.


"Mana yang lebih cantik Mei?" tambah Dio.


"Abang nanya yang paling cantik?" tanya mei.


"Iya" jawab Dio mengangguk.


"Yang paling cantik itu bunda sama orang ini" jawab Mei kesal, menunjukan foto Dea yang ia kagumi kecantikan nya.


Dea Anggita Putri Artadinata



"Yeeeee itumah Dea Uun" ujar Dio.


"Emang. cantik ya kakak" balas Mei memandang foto Dea.


"Sekilas mirip elo ah gak lucu" kesal Dio.


Ya karena jika Mei dan Dea sedang berdua mereka sering di bilang kembar. apalagi tubuh Mei yang tinggi menyusul Dea hal itu membuat Dio mendengus kesal. yang kembaran Dea kan dirinya kenapa malah Mei yang dikatakan sangat mirip dengan Dea.


"Udah ah Abang pergi sana" ucap Mei.


"Lo ngusir?" Tanya Dio.


"Nggak, Mei mau tidur lebih baik Abang keluar" pinta Mei lagi namun Dio hanya mendengus kesal.


"Lo Kenapa si Mei? ko kaya yang ngehindar dari gue" ucap Dio membuat Mei menelan Saliva nya kasar.


"Siapa yang ngehindar si Abang?" tanya mei.


"Elo lah yakali kang cilok kan gak lucu" jawab Dio.


"Nggak Mei gak ngehindar" jawab nya gugup.


"Boong kan Lo, gue gak bodoh yang gampang Lo boongin" cetus Dio.


"Apaansi orang gak boong" balas Mei berlalu meninggalkan Dio.


Dio menatap kepergian Mei hingga punggungnya tidak terlihat lagi, ia bingung dengan sikap Mei akhir-akhir ini. ia juga takut karena tingkahnya yang menunjukkan foto Nina dan Mae akan membuat Mei sakit hati, tapi bukan itu tujuan Dio dia hanya ingin saat ia pergi Mei tidak merasa kehilangan.


...


Di tempat lain Mei menangis sesenggukan karena melihat foto mae dan Nina di ponsel Dio, Mei tidak tau apa yang saat ini ia rasakan. yang Mei tahu hanya nyaman, aman dan tidak kesepian. Mei belum mengenal cinta maka dari itu ia tidak tahu kenapa hatinya merasa sakit.


Melihat Mei yang menangis sendirian di balkon Dea menghampiri gadis itu, tanpa bertanya Dea merengkuh tubuh Mei. Dea ingat Mei tidak boleh merasa sedih ataupun tertekan, apalagi gadis yang berada dalam pelukannya saat ini masih sering membayangi wajah kedua orang tuanya.


Maka dari itu Dea berat jika harus tinggal terpisah dari rumah nya saat ini, mengingat Mei yang selalu memendam perasaannya, memendam sakitnya, juga memendam rasa rindunya kepada gio dan Nita selaku orang tua nya. bahkan Mei sering menangis tanpa sepengetahuan orang lain dan hanya Dea yang sering memergoki nya menangis seperti saat ini.


"Jangan nangis Mei, ada aku disini" ucap Dea mengusap punggung Mei.


"Kakak" lirih nya.


Dea memang masih remaja, namun rasa sayang yang begitu besar kepada adik-adik nya membuat Dea terlihat dewasa.


"Aku takut hiks...hiks..." ucap Mei.


"Hei jangan takut, aku disini bersamamu" balas dea.


Dan Mei mendongakkan kepalanya menatap manik mata indah sang kakak, ia merasa nyaman saat bersama Dea ia merasa Dea benar-benar kakak kandungnya.


Mei melihat ketulusan kasih sayang yang Dea berikan, terlihat jika Dea sedang khawatir kepada nya. Mei tersenyum namun Dea merasa khawatir, karena jika Mei sudah merasa tertekan lalu menangis dan setelah nya tersenyum ia akan tidak sadarkan diri. Mei masih merasa trauma akan kepergian orang tuanya yang tidak mudah baginya melupakan keberadaan Nita dan gio yang sekarang tidak lagi di sisinya dan.


Bruuuk.... Benar saja Mei tidak sadarkan diri, Dea yang belum siap pun ikut terjatuh karena Mei ambruk kedalam pelukannya dan karena tidak seimbang merekapun jatuh bersama.


"Awwhhh" pekik Dea sambil menahan kepala Mei agar tidak terbentur.


"Mei" lirih Dea menepuk pipi Mei. tanpa sadar air matanya menetes.


"Me..Mei bangun" ucap Dea gemetar.


"Hiks...kamu kenapa? Mei bangun! kenapa seperti ini lagi" lirihnya mengangkat sedikit kepala Mei dan memeluknya.


"Bangun, siapa yang bikin kamu kaya gini" ucap nya lagi.


setelah goncangan kepergian orang tuanya Mei selalu di jaga dengan baik oleh Rio, Sisil, Dea juga Dio. agar Mei tidak merasa tertekan.


"Tolong hiks... ayaaahhh, om Eza, om Zian tolong" teriak Dea.


"Ihhhh lamban sekali. hiks...." kesal nya karena tidak ada yang datang.


"Bunda, ayah, om Eza, anteh kankan, anteh Sabil, om Zian, Dio tolong" teriak Dea histeris.


mendengar teriakan Dea nama-nama yang dipanggil pun, buru-buru berlari mencari keberadaan Dea. hingga akhirnya terkejut melihat Mei yang terkulai lemah dan tubuh Dea yang di tibani.


"Mei" teriak semuanya bersamaan.


"Kak ada apa dengan mei?" tanya Rio, mengangkat tubuh mungil Mei.


"Aku gak tau yah, tadi aku lihat Mei sedang menangis" jawab Dea.


Semuanya membawa Mei ke kamarnya, kanita dengan cepat memanggil dokter hingga beberapa menit kemudian dokter datang dan memeriksa Mei.


Syukurlah Mei tidak kenapa-napa, hanya saja ia merasa stres dan tertekan. setelah semuanya pergi dan membiarkan Mei beristirahat Dea melirik ke arah sang adik yang terlihat merasa bersalah.


Tanpa aba-aba lagi Dea menarik Dio ke kamarnya, Dea menghempaskan tangan Dio dan menatap sang adik dengan tajam.


Dio yang di tatap seperti itupun bergidik ngeri, kenapa ia bodoh membuat singa nya marah. ini hanya satu tapi sudah seram bagaimana jika pasukan singa yang lain nya marah, yang paling muda saja membuat darah nya terasa berhenti mengalir bagaimana yang paling tua.


"Ada apa dengan mei?" tanya Dea.


"Kenapa nanya ke gue?" balas Dio.


"Gue nanya dan harusnya Lo jawab! bukan balik nanya" ucap Dea membuat Dio menelan Saliva nya kasar, jika Dea udah mengeluarkan kata gue dengan tajam itu artinya tanduk Dea udah keluar.


"Gu...gue...anu" ucap Dio terbata.


"Nama Lo Dio Anggara bukan Dio anggagap! jawab yang bener" ucap Dea kembali membuat Dio bergidik.


(ini kakak gue ngapa jadi ganas begini dah, apa gara-gara mau nikah sama bang Justin dia jadi ketularan garang nya? araaagghhh mamp*s Lo bang jali nikah sama Dea. bikin kesalahan sekali aja bisa hancur ini kompleks) batin Dio.


"Dio jawab" ucap nya lagi penuh penekanan.


"Jangan garang-garang apa. gue jadi menciut ini berhadapan sama elo" ujar Dio jujur.


"Oke Lo jawab sekarang, atau gue panggil ayah" balas Dea.


Deegg... ini lagi ketuanya singa di bawa-bawa, bisa di cabik-cabik badan gue. begitulah pemikiran Dio.


"Oke, oke gue jelasin" ucap Dio, dan menjelaskan semuanya dari ia menggoda Mei. dan menunjukkan foto cewek ke Mei Dio menceritakan semua tanpa terlewatkan, mendengar penuturan Dio air muka Dea berubah dan menatap adik nya dengan kesal.


plakkk. Dea memukul lengan Dio.


"Awwhhh sakit jamileh" ucap Dio.


"Itu gak sebanding sama rasa sakit nya Mei! sekali lagi Lo ngelakuin hal bodoh model begitu gue jamin besok lusa kuping Lo di ganti sama belalai gajah" tegas Dea berlalu meninggalkan Dio. sementara Dio ternganga dan masih mencerna ucapan Dea.


"Oke, oke gue salah. tadinya mau bikin Mei ikhlas malah gue yang gak ikhlas kalo dia begini" gumam Dio.


Setelah kejadian itu Dio benar-benar merutuki dirinya yang bodoh, kenapa bisa menyakiti wanita yang selama ini selalu membuat hari-hari nya ramai.


Dio merebahkan dirinya, setelah mendapat Omelan dari singa junior memilih untuk tidur saja lah.


.


.


.


.


.


.


***jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


A**: di kasih lagi kan ya😁


N: banyak gak? 😂


A: lumayan lah, Jan lupa vote yang banyak biar akoh semangat 😁


N: siap dah😂*