
Kini tinggal lah Dio dan Meitha saja yang berada di ruangan itu, karena setelah memakan kue yang di bawa oleh Mei Juna langsung pulang.
Ia memutuskan meninggalkan pasangan yang sedang di mabuk cinta itu, bagaimana tidak keduanya selalu LDR dan saat inipun jarang bertemu karena Dio yang selalu sibuk.
Dio mengangkat tubuh Mei dan mendudukkan nya di atas pangkuan Dio, hal itu membuat Mei terkejut dengan wajah merona.
"Astagfirullah bang, belum halal kita main angkat-angkat aja" ceplos Mei membuat Dio terkekeh.
"Bentar lagi halal honey tunggu aja" ucap Dio.
"Bang besok-besok gak usah ketemu ya, was-was gue" ujar nya.
"Lah kenapa?" tanya Dio bingung.
"Abang itu main angkat-angkat aja dikira gue karung beras" cebik Mei.
"Gemes" ucap Dio menciumi pipi Mei.
"Bang yaampun sadar gue calon bini bang, bukan Dena yaampun" ujar Mei, ya semenjak lama menjalin hubungan LDR dengan Dio. Mei lebih sering menggunakan kata Lo/gue hal itu tidak masalah untuk saat ini, namun jika sudah nikah maka itu harus di ubah.
"Lagian pipi kamu bulet" ucap Dio.
"Kaya apa tuh" tanya mei.
"Kaya bakpao" jawab Dio membuat Mei mendengus kesal.
"Bang ih geli" rengek nya.
"Ini belum apa-apa honey, gimana nanti saat malam pertama" goda Dio.
Blussshhh... pipi Mei menjadi merah karena malu, Mei menutup wajah nya dengan kedua tangan.
"Hei kenapa" tanya Dio tersenyum tipis.
"Tulung, Abang nggak ada ahlak belum nikah udah bahas begituan" jawab Mei.
"Terus kenapa nutup muka gitu" tanya nya lagi.
"Mei malu. aaaaaaaakh" jawab nya, namun tiba-tiba Mei menjerit karena Dio menggigit bahu nya.
"Abang ihhh" pekik Mei.
"Hehe, maaf abis gereget" ucap Dio, membuat Mei menatap Dio intens.
"Mei mah curiga ini bukan gereget, hayoo ngaku" ujar Mei.
"Nggak, orang cuma gereget doang akunya" ucap Dio.
"Awas macem-macem Mei tabok" ancam Mei.
"Iya nggak, kalo aku macem-macemin kamu bisa di coret dari kartu keluarga aku sama ayah" ucap Dio, namun ia di kejutkan oleh Mei yang tiba-tiba mencium bi*ir nya.
Saat Mei akan menjauhkan wajahnya dengan cepat Dio menahan tengkuk Mei, hingga membuat gadis itu memberontak karena merasa kekurangan oksigen.
"Huh....huhhh... gila ma*i gue" ucap Mei, ia langsung beranjak dari pangkuan Dio.
"Kamu yang mulai ya" ucap Dio, mengelus pipi Mei.
"Mei niat nya cuma mau nempel doang begitu, ngapa jadi traveling dah" dengus nya.
"Lah ia Mei jua normal, lagian kalo Abang gak normal mana mau Mei sama Abang" cebik Mei.
"Pengen cepet nikah" ucap Dio, ia menyembunyikan wajahnya di leher jenjang milik Mei.
Sementara Mei mematung ia membandingkan sikap Dio dan Dea, jika merasa takut saat berdekatan dengan Justin berbeda dengan Dio yang main sosor jika bersama dengan mei.
"Bang tobat bang jangan begini" ucap Mei, mencoba melepaskan pelukan Dio.
"Sebentar saja honey, besok kan udah gak boleh ketemu." ujar Dio, karena mereka akan secepatnya menikah maka keduanya tidak boleh bertemu dulu.
"Yaampun bang, Mei gak enak ini nanti ada karyawan Abang gimana" ucap Mei.
"Gak bakal, mana berani mereka masuk kalo di ruangan Abang ada tamu" balas Dio.
"Yaudah deh terserah Abang aja ya, Mei mah mau ngomong juga nanti kalah Mulu" ucap Mei membuat Dio mengangguk.
Mei mengelus kepala Dio dengen lembut, tindakan Mei memberikan kenyamanan untuk Dio. hingga Dio benar-benar merasa yakin jika ia sangat mencintai gadis nya itu.
Apapun yang terjadi Dio tidak akan melepaskan Mei, dan jika ada yang mencoba memisahkan mereka. maka Dio akan menghancurkan orang itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗
A**: semangatin author nya terus ya 🤗
**N**: iya Thor gue semangatin ko😁
A: makasih Uun ku 😍
N: sama-sama author ku 🤗*