Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 194


Malam hari Justin sudah kembali dari kantor nya, setelah menyalami Sisil dan Rio ia bergegas menuju ke kamarnya. Justin memang tinggal di rumah Rio dulu untuk sementara, sampai Dea siap di ajak pindah.


Setibanya di kamar ia melihat Dea yang sedang melamun, Dea memikirkan ucapan sang bunda. namun biarkan saja semua akan berjalan dengan sendirinya.


"Kenapa melamun?" tanya Justin membuat Dea terkejut.


"Astagfirullah, Abang ngagetin aja" jawab Dea mengelus dadanya.


"Kamu kenapa hmmmm?" tanya Justin, mengangkat Dea keatas pangkuannya.


"Bang ngapain?" Tanya Dea takut.


"Kenapa? gak boleh?" balas Justin.


"Aku bisa duduk sendiri, gak usah begini" ucap Dea, merasa malu karena saat ini ia berada di atas pangkuan Justin.


Justin menatap mata Dea dengan dalam, dan ia mendaratkan bibirnya dengan bibir milik Dea. Justin Melu*at nya dengan lembut hingga membuat Dea terbawa suasana.


Tanpa sadar Dea melingkar kan tangan nya di leher Justin, namun tiba-tiba Justin merasa Jerry nya mulai beraksi.


Justin kesal dan frustasi karena setiap ia berdekatan dengan Dea, makan si Jerry akan lebih dulu merespon.


"Shiiiitttt!" umpatnya menurunkan Dea.


"Saya mau mandi" ucap Justin, membuat Dea menatapnya bingung.


Tentu saja karena itu kebiasaan Justin, namun Dea tidak ambil pusing mungkin memang Justin kegerahan fikirnya.


Justin tidak tahu sampai kapan ia akan bersolo terus di kamar mandi, namun ia mengerti jika Dea belum siap untuk semuanya.


Sementara Justin mandi Dea menyiapkan baju tidur untuk sang suami, setelah nya ia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Ceklek... pintu kamar mandi terbuka, nampak lah Justin dengan handuk yang melingkar di pinggang nya.


Gleek... Dea menelan ludah nya melihat keseksian tubuh Justin.


(ini beneran suami gue kan ya. ngapa ganteng banget sii, seksi dan Abang bikin mata gue ternodai begini. kalo tiap hari begini bisa hilaf gue) batin Dea.


Namun dengan cepat ia menepis semua fikirannya, Dea kembali fokus kepada ponselnya hingga Justin ikut berbaring di samping Dea.


"Good night" ucap Justin dan *Cup* ia mencium kening Dea.


Membuat jantung keduanya berdegup kencang, Justin merasa bingung dengan perasaannya begitupun dengan Dea.


Namun keduanya tidak mau ambil pusing hingga akhirnya mereka terlelap.


...


Tengah malam Justin tiba-tiba terbangun, dan ia menatap wajah wanita di samping nya. Justin menyeringai licik, ia membuka kancing piama tidur Dea dan menampakkan dada mulus dan berisi milik sang istri.


"Tahan Justin tahan, Lo gak boleh kalap gak boleh" Gumam nya.


Namun siapa sangka Justin menenggelamkan wajahnya di dada Dea yang berisi dan kencang, ia menggesek-gesekan wajahnya hingga membuat Dea menggeliat kegelian.


Karena aksi Justin yang tidak berhenti mengganggu nya, Dea pun perlahan membuka matanya dan betapa terkejutnya ia melihat Justin yang berada tepat di depan dada nya.


"Astagfirullah Abang! ngapain" pekik Dea, berusaha menjauh. namun justin menahannya.


"Seperti ini aja ya, gak lebih ko janji" Pinta Justin dengan wajah memelas.


"Nggak mau" ucap Dea.


"Plis" pinta Justin lagi, yang membuat Dea mengalah.


"Terserah Abang! asal gak ganggu tidur nya aku" ucap Dea, toh Justin tidak melakukan hal lebih. hanya menempelkan wajah nya saja.


...


Pagi hari Dea terbangun dan ia melihat Justin masih dengan posisi yang sama seperti semalam, Dea tersenyum malu namun ia segera beranjak dari tempat tidur nya.


Setelah membersihkan diri ia melihat Justin yang sudah terbangun dengan wajah yang di tekuk, Dea bingung dengan suaminya itu ada apa? dan kenapa.


"Abang kenapa?" tanya Dea. tanpa menjawab Justin berlalu ke kamar mandi.


"CK. dasar bocah, gelar nya doang CEO" cetus Dea.


Ia segera menyiapkan pakaian untuk Justin, dan setelah nya ia bergegas turun ke bawah dilihat Mei sudah duduk di meja makan.


Dea tersenyum ia menghampiri Mei dan menciumi pipi adiknya itu, Mei yang di perlakukan seperti itu tersenyum hangat kepada sang kakak.


"Morning" balas Mei.


"Ayah sama bunda mana ya?" tanya Dea.


"Ayah sama bunda gak ada, udah jalan dari pagi katanya ada urusan ke luar negeri" jawab Mei.


"benarkah? terus Dena?" tanya Dea lagi.


"Ikut ayah, tadinya mau di tinggal berhubung kakak belum bangun jadi di ajak" jawab Mei.


"Kenapa gak bangunin aku aja sii, berapa lama ayah sama bunda pergi" ucap Dea.


"Paling cepet satu Minggu, paling lama dua Minggu" balas Mei membuat Dea menghela nafasnya.


Saat tengah berbincang, Justin turun dan menghampiri keduanya. tanpa sarapan Justin pergi ke kantor, setelah kepergian Justin Dea kembali menghampiri Mei yang saat ini berada di ruang tv.


"Mei" panggil Dea.


"Iya?" tanya mei.


"Masuk sekolah kapan?" tanya Dea.


"Hmmmmm, dua mingguan lagi" Jawab nya.


"Oohhh" balas Dea, membuat Mei menoleh.


"Kakak Kenapa?" tanya mei.


"Nggak apa-apa" jawab Dea.


"Mei, ayah sama bunda jadi sibuk mereka jadi sering pergi-pergi" ucap Dea.


"Iya bener" balas Mei.


"Padahal dulu bunda mana mau ikut sama ayah, ninggalin kita ke rumah Oma aja gak mau" ucap Dea.


"Mungkin dulu ayah sama bunda gak tenang kalo ninggalin kita" ujar Mei.


"Terus sekarang mereka tenang gitu?" tanya Dea, menatap Mei.


"Ya kan sekarang anak ayah yang di tinggal gak banyak, kaya dulu." ucap Mei.


"Maksudnya?" tanya Dea.


"Kalo dulu ayah ninggalin kita kan ada kak Dea, ada aku sama bang Dio" jawab Mei.


menyebutkan nama Dio hati Mei terasa sakit, namun ia segera tersadar bahwa Mei gak boleh terus-menerus sedih.


"Iya sekarang yang di tinggal cuma aku sama kamu aja" ucap Dea.


Mei dan Dea bercanda bersama, hingga keduanya kelelahan hingga terlelap. bagi Mei meskipun Dea sudah menikah tapi tidak ada perubahan sama sekali, ia masih bisa mengenali kakak nya yang sangat ia sayangi itu.


.


.


.


.


.


.


***jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜‰


A**: vote nya yang banyak ya😁


N: nguli dulu gue biar bisa vote Lo ThorπŸ˜‚


A: gue minta poin bukan koin😁 tapi kalo mau di kasi koin juga gak apa-apa πŸ˜‚


N: hilihhh πŸ˜’


**A: 🀣🀣🀣***