
Tiga bulan kemudian tepat saat usia kandungan Mae menginjak usia 5 bulan, saat itulah di kediaman Artadinata gaduh karena Mei yang selalu muntah-muntah di pagi hari.
Dio sempat merasa khawatir dan frustasi saat melihat keadaan sang istri, hingga Dio meminta Dea menemani Mei.
Namun saat menemani Mei Dea pun merasa mual, karena Mei yang terus-menerus memuntah kan isi perut nya.
"Mei udah mei kamu muntah Mulu, aku ikutan mual ini Mei" cerocos Dea.
"Kakak gak nahan ini. huuuueeekkk" ucap Mei kembali ke kamar mandi.
"Dia yang muntah-muntah kenapa badan gue yang lemes, haduh" gumam Dea, sampai keringat dingin memenuhi pelipisnya.
"Kak" panggil Mei.
"Iya" teriak Dea, ia benar-benar tidak tahan lagi.
"Lah kakak kenapa" tanya mei.
"Masi nanya kenapa, aku tuh mual liat kamu bolak-balik kamar mandi Mei" ucap Dea, membuat Mei tersenyum.
"Ya maaf,, tadinya gak niat buat kakak ikut mual" lirih mei.
"Ini ada yang nggak beres" ucap Dea, wajah ibu dua anak itu terlihat merah. jelas sekali Dea tengah menahan sesuatu.
"Apanya yang nggak beres" tanya Dio, yang tiba-tiba muncul.
"Mei kamu hamil" pekik Dea, membuat Mei dan Dio melotot.
"Mana ada aku aja_" ucap Mei terhenti, saat Dea memotong ucapan nya.
"Kapan terakhir kali kamu datang bulan" tanya Dea.
"Nggak tau, Mei lupa" jawab nya, fiks Dea merasa Mei sedang tidak baik-baik saja.
"Dio panggil dokter... hueeekkk" ucap Dea, kali ini dirinya yang berlari ke kamar mandi.
"Lah kak kenapa" tanya mei panik.
"Jangan deket-deket, ganti baju sana baju kamu kotor" teriak Dea, Mei yang mengerti pun langsung mengganti pakaian nya. sementara Dio lelaki itu memanggil dokter untuk memeriksa istrinya.
"Sayang kamu gak apa-apa" Tanya Dio, yang kini menghampiri Mei yang duduk di sofa dengan wajah pucat nya.
"Suami g*la, udah tau istrinya lagi gak baik-baik aja" cetus Dea, wajah Dea yang putih menjadi merah karena menahan mual.
"Dea juga kenapa ikutan muntah-muntah, tiati Midun jug" ceplos Dio membuat Dea terdiam.
Tidak lama kemudian seorang pelayan wanita datang dengan dokter di belakang nya, melihat dokter itu sudah datang Dio mempersilahkan untuk langsung memeriksa Mei.
Karena sudah mendapatkan persetujuan dari Dio dokter itu pun langsung memeriksa Mei, setelah selesai sang dokter tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Dio.
Dengan bingung Dio menerima uluran tangannya, hingga dokter itu memandang Mei dan Dea secara bergantian.
"Selamat tuan muda, saat ini nona tengah mengandung. dan usia kandungan nya sudah menginjak usia tiga bulan, mohon lebih di perhatikan lagi dan jangan terlalu banyak mengerjakan pekerjaan yang membuatnya lelah. dan untuk lebih jelas nya tuan bisa mengajak nona untuk ke dokter kandungan" ucap dokter tersebut, membuat Dio tertegun. setelah selesai dokter pun pamit dengan keadaan Dio yang masih tertegun.
"Dio" panggil Dea, ia menyenggol lengan adik nya itu.
"Hoyyy" sahut Dio kaget.
Dengan cepat Dio memeluk dan menciumi wajah Mei, hal itu tidak lepas dari pandangan Dea, pemandangan di hadapan nya membuat Dea kesal juga terharu.
"Hargain orang yang lebih tua apa disini" celoteh Dea, membuat Dio dan Mei menoleh.
"Tua beda 10 menit doang" ucap Dio.
"Adik nggak ada ahlak" dengus Dea.
"Tadi katanya suruh peluk" ujar Dio.
"Ya peluk aja gak usah di cium-cium depan gue juga" kesal nya, membuat Dio dan Mei terkekeh.
"Eh Lo gak di periksa" tanya Dio.
"Nggak, orang gue gak apa-apa kok" ucap Dea.
"Tapi tadi Lo muntah-muntah" ujar nya.
"Nggak apa-apa Dio paling masuk angin doang" ujar nya, yasudah jika Dea sudah seperti itu Dio mengalah saja daripada kakak nya itu konser.
Setelah menemani dan mengucapkan selamat kepada Mei, Dea pun memutuskan untuk pulang ke rumah nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗
A**: maaf ya udah bikin kalian nunggu 😊
N: suka banget Lo gantungin gue Mumun 😭
A: iya Mon maap ya Uun 😂
N: nyari pencerahan ya Thor 😂
A: lah iya bener 😂
N: aseeekkkk 😂
A: 🤗🤗🤗*