
Sepulang dari rumah sakit Mae terlihat murung dan pendiam, bahkan Julian dan mami alin merasa sangat khawatir dengan keadaan Mae.
Julian sering tidak masuk kantor bahkan pulang lebih awal hanya untuk menemani Mae, karena hanya Julian lah yang bisa membuat Mae tersenyum.
Tingkah menyebalkan Julian membuat Mae selalu berdebat dengan nya, namun hal itu membuat semua orang senang karena Mae mau berbicara.
Seperti saat ini Julian terlihat merebahkan kepalanya di pangkuan Mae, ia menghadapkan wajahnya ke perut Mae. Julian mengelus perut buncit istri.
"Sayang lihat lah mami mu, sudah jelek terus saja cemberut. papi jadi takut jika mami nya akan semakin jelek" ceplos Julian membuat Mae mencebikan bibirnya.
"Mana ada jelek" dengus Mae.
"Lihat lah nak bibir nya manyun seperti bebek" ledek Julian.
"Heh, biar seperti bebek begini kamu masih suka ny*s*r" cetus Mae.
"Mana ada, bahkan untuk mendekat pun aku takut" ujar Julian.
"Kenapa?" tanya Mae penasaran.
"Takut di patuk" canda Julian yang mendapat pukulan dari Mae.
Plaaakkk... Mae memukul lengan Julian.
"Awwwwh, kenapa kau memukul ku" pekik nya.
"Kamu menyebalkan, mana ada suami yang tega mengatakan istri nya seperti bebek" kesal Mae.
"Aku hanya bercanda kenapa kau marah" tanya Julian.
"Itu sama saja kau mengataiku" ucap Mae.
"Nggak sayang mana berani aku mengatai induk singa seperti mu" balas nya, membuat Mae menjatuhkan kepala Julian.
"Haih kau ini malah melakukan kdrt" ucap Julian memelas.
"Kau menyakiti hati RT" kesal Mae.
"Mana ada hati RT disini kamu ngaur" jelas Julian.
"Terserah aku malas berdebat dengan mu" ucap Mae berlalu meninggalkan Julian. Julian memang sengaja mengajak Mae berdebat berharap istrinya itu banyak bicara, Julian lebih suka Mae yang bawel daripada yang diam.
...
Di tempat lain Dea yang saat ini tengah berada di rumah Sisil tengan membicarakan tentang pertunangan Mei dan Dio, Karena Sisil yang tidak mau menundanya lagi mengingat kandungan Dea yang sudah semakin besar.
Ia tau jika Dea akan selalu membantu dalam urusan adik nya, saat ini Sisil duduk di samping Dea lalu mengelus perut putri nya itu.
"Bagaimana kandungan nya kak" tanya Sisil.
"Baik bun, pertumbuhan nya juga sangat baik sesuai dengan usia kandungan nya" Jawab Dea.
"Bunda suka elus-elus perut kamu kaya gini" ucap Sisil, membuat Dea menoleh.
"Hmmmmm, Kenapa begitu Bun" tanya Dea.
"Karena waktu bunda hamil perut bunda gak di elus kaya gini sama Oma kamu" jawab nya mengingat kehamilan pertamanya saat mengandung Dea dan Dio, ya selain ibu Sisil yang sudah meninggal mama Rio pun selalu sibuk. hingga Sisil menjalani kehamilan nya sendiri, sedih memang tapi itulah hidup saat sudah tidak memiliki ibu.
Dea menatap bundanya dengan tersenyum, ia memegang tangan Sisil yang berada di perut nya. seketika Dea mengingat Mae yang di tinggalkan oleh orang tuanya dan itu membuat Dea takut kehilangan Sisil.
"Berjanji lah bunda tidak akan pernah menjauh dariku" ucap Dea yang menirukan suara anak kecil, ia ingin sekali jika anak nya memanggil sisil bunda mengingat Sisil yang masih terlihat sangat muda dan cantik.
"Aku akan menunggumu lahir, aku akan menyambut mu dengan senang cucukku" ucap Sisil tertawa kecil.
"Bun kalo anak nya laki-laki aku kasi nama apa?" tanya Dea.
"Lebih baik kamu bicarakan dengan bang Justin kak, ngomong-ngomong emang anak nya nggak kembar?" tanya sisil, namun Dea menggeleng.
"Dokter bilang bayi nya gede kaya dua, tapi yang satu gak keliatan Bun jadi kaya gede aja gitu" ucap Dea, ia sendiri pun tidak mengerti apa yang terjadi pada kandungan nya.
"Aku pengen nya nggak kembar Bun, dan mungkin memang babby nya aja yang besar gitu. dan kata Abang juga gak kembar gak apa-apa paling kasi jarak 3/4 tahun buat punya dedek lagi biar keliatan kembar" jawab nya terkekeh.
"Nggak apa-apa bagus itu, urus anak kembar repot kak. apalagi kamu kan nanti lahiran pasti barengan Mae beda dikit doang. kasian mbak alin kalo mantu langsung brojol banyak" ucap Sisil, yang mengingat kehamilan Mae yang manja ingin selalu bersama dengan mertua nya.
"Aku mau sama bunda aja lah, lagian ini lahiran pertama aku kan Bun" ujar Dea, membuat Sisil tersenyum.
"Apapun keputusan kamu bunda dukung asal itu yang terbaik, mungkin pas kamu lahiran adik kamu udah nikah. biar dia bisa bantu bunda buat ngurus kamu" ucap Sisil membuat Dea terkekeh.
"Dasar bunda" kekeh nya.
Sisil memeluk Dea dan mencium pipi putri nya yang mulai chubby, setelah memutuskan acara pertunangan yang kan di adakan lima hari lagi dan acara pernikahan satu Minggu setelah pertunangan Dea kembali ke rumah mami alin.
Ia masuk ke dalam rumah dengan nafas yang terengah-engah membuat mami alin tersenyum melihat menantu nya, Dea duduk di sofa dan meluruskan kaki nya.
Mami alin menghampiri Dea dengan segelas air putih di tangan nya, ia mengusap punggung Dea hingga Dea menoleh.
"Udah mulai engap ya" ucap mami alin, Dea pun mengangguk. keringat dingin bercucuran di dahi nya.
"Engap banget mi, jalan dikit aja udah capek banget" keluh Dea.
"Minum dulu nak" ucap mami alin, menyerahkan gelas yang berisi air ke tangan Dea. Dea pun menerima dan meminum nya hingga tandas.
"Memang gitu namanya juga kamu bawa perut kemana-mana" ucap mami alin.
"Iya mi, Dea juga usahain tiap pagi jalan-jalan komplek biar kaki Dea gak pada bengkak" ujar nya.
"Iya emang harus seperti itu, kehamilan kamu yang udah menginjak lima bulan harus sering olahraga" ucap mami alin, Dea memang berbeda dengan Mae yang lebih malas olahraga. bahkan tubuh Mae sudah terlihat membengkak.
"Tiap pagi Dea olah raga di kerjain anak mami, yang minta ini minta itu pake teriak" ucap Dea mengadu kepada mertuanya, ia heran dengan suaminya yang menjadi sangat manja.
Mami alin tersenyum melihat keluhan Dea, di antara kedua menantunya Dea lah yang paling sabar. jika Mae berani membantah kepada Julian Dea hanya bisa mengatakan ia jika suaminya sedang kesal.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗
A**: maaf ya telat 😁
N: ngaret dah Lo 😪
A: ya maaf Uun kan gue bagi waktu nya dulu 😁
N: iyadeh 😁 yang adil ya Thor 😂
A: iya Uun 😂*