Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 266


Pagi hari Mae terbangun dan melihat tubuhnya yang tidak mengenakkan pakaian, ia pun merasa tubuhnya nya sangat sakit termasuk di Area tertentu.


Mae teringat dengan kejadian semalam ia menatap benci kepada Julian yang masih terlelap di samping nya, Mae berusaha bangun meskipun sakit ia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dalam kamar mandi Mae menangis tersedu-sedu di bawah guyuran shower, Mae benci kepada dirinya sendiri. kenapa ia harus melayani suaminya yang sedang tidak sadar.


Mae buru-buru keluar dan memakai pakaian nya, ia buru-buru berlari menuju ruang makan sebelum Julian bangun.


Ia melihat Carl yang sudah duduk di ruang makan, Mae masih saja menunjukkan senyum terbaiknya kepada ponakan ganteng nya itu.


"Morning boy" ucap Mae, mengelus kepala carl.


"Morning aunty" balas Carl, namun ia tertegun melihat mata mae yang bengkak.


Carl tidak ingin lancang untuk bertanya, ia menundukkan kepalanya sambil menunggu Dea.


"Carl mau sarapan roti atau nasi goreng? biar aunty yang siapin" ucap mae.


"Eh nggak usah aunty, aku bisa sendiri" Jawab Carl.


"Tidak apa, biar aunty yang siapin. mau apa boy" ujar Mae.


"Aku_" ucapan Carl terhenti saat mendengar suara Dea.


"Carl sarapan nasi goreng aja Mai" ucap Dea membuat Mae dan Carl tersenyum.


"Morning mom, dad" ucap Carl.


"Morning boy, morning sayang" balas Dea dan Justin Secara bersamaan.


Merekapun duduk dan makan dengan tenang, namun seketika Dea terkejut saat melihat wajah Mae dengan jelas.


Dea tidak ingin bertanya biarkan saja Mae yang bercerita kepada nya, Dea tidak ingin terlalu mencampuri urusan rumah tangga Mae.


Tak lama kemudian Julian dan mami alin turun, melihat Julian yang akan duduk di samping nya. membuat Mae takut dan dengan cepat Mae pindah dah duduk di samping Carl.


Hal itu membuat semua orang bingung dengan Mae, namun mereka mengerti apa yang terjadi kepada Julian dan Mae.


"Boy aunty duduk di dekat mu tidak apa-apa?" tanya Mae, takut Carl tidak nyaman.


"Ya tidak apa-apa aunty, duduklah" jawab Carl membuat Mae tersenyum.


Setelah selesai sarapan Mae dan Dea pergi ke kantor, begitupun dengan Justin dan Julian. Julian merasa Mae tengah marah terhadap nya, namun ia pun tidak tau harus bagaimana.


Kali ini Mae terlihat sangat berbeda dari biasanya, Mae lebih pendiam dan itu membuat Dea khawatir.


Setibanya di kantor Dea meminta Mae untuk ke ruangan nya, di dalam ruangan nya Dea menatap Mae yang saat ini duduk di sofa tepat disampingnya.


"Mai" panggil Dea, membuat Mae menoleh dan tersenyum. sungguh Dea salut terhadap Mae yang masih bisa tersenyum.


"Gue gak apa-apa de" lirih Mae.


"Gue belum nanya Lo kenapa Mai" ucap Dea membuat Mae, tersenyum miris.


"Ya gue udah tau Lo pasti nanya kan" ujar Mae.


Dea merengkuh wajah Mae dan menatap nya dalam, Dea melihat ada kesakitan, ketakutan dan kekecewaan. namun Dea bingung apa yang sebenarnya terjadi kepada Mae, yang Dea tau Mae memang sering berdebat dengan Julian namun Dea tidak pernah melihat Mae sampai seperti ini.


"Lo gak mau cerita dulu gue itu orang yang Lo anggao adik bukan, dan sekarang status gue adalah kakak ipar Lo. apa Lo gak mau ngadu sama kakak Lo ini" tanya Dea, yang berhasil membuat Mae meneteskan air matanya.


Mae manunduk dalam dengan Isak tangis nya, tubuh nya bergetar hebat ya mungkin karena itu yang pertama kali untuk Mae dan Julian pun berlaku kasar saat itu.


"Kenapa" tanya Dea lembut, namun itu membuat Mae mendongak dan Dea melihat kilatan amarah dalam tatapan Mae.


"Gue benci sama diri gue sendiri de, kenapa gue bisa terjebak dalam keadaan seperti ini" ucap Mae.


"Kenapa apa maksudnya?" tanya Dea, ia benar-benar tidak mengerti.


"Gue itu itu hak dia hiks...tapi gak bisa kah dia berlaku lembut sama gue" lirih nya, oke dari sini dea paham. ia tidak sepolos dan sebo*oh dulu, yang tidak mengerti akan kewajiban nya.


Dea merengkuh tubuh Mae kedalam pelukannya, ia mengusap punggung Mae dengan lembut.


"Mae gue ngerti perasaan Lo, dan gue yakin Lo kuat. Lo udah berteguh buat bikin Julian jatuh cinta sama Lo dan tunduk sama Lo bukan" ucap Dea menenangkan.


"Gue ngerti, wanita mana yang gak kecewa kalo di perlakukan seperti itu" ucap Dea.


"Tapi Lo harus yakin, setelah ini Julian lah yang akan minta buat Lo balik sama dia dan memulai semuanya dengan cinta" tambah Dea.


"Apa gue bisa de?" tanya Mae.


"Lo pasti bisa, gue ada disini buat Lo mau. Lo nggak sendirian ada gue, bunda, mami alin Mei juga ada ayah, papi dan bang Justin. kita semua ada buat Lo" jawab Dea menyemangati.


"Tapi gue takut, gue takut gagal Dea" tangis Mae kembali pecah.


"Kegagalan dalam usaha itu sudah biasa mai, termasuk kita menjalankan nya. Lo mau terus berusaha hingga mendapatkan hasil yang baik atau akan berhenti dan menerima kegagalan Lo" ucap Dea, dan berhasil membuat Mae tenang.


"Oke. demi mama papa, mami papi, ayah dan bunda gue akan berusaha kuat de" ucap Mae, membuat Dea tersenyum lembut.


Sungguh jiwa keibuan Sisil benar-benar menurun kepada Dea, meskipun kadang Dea Terlihat menyeramkan melebihi Sisil.


Namun Mae percaya bahwa Dea memiliki hati yang sangat baik, terlihat dari cara Dea memperlakukan Mae dan juga Carl. bahkan Dea sangat menyayangi adik-adiknya.


Mae bersyukur ia memiliki kakak ipar yang penyayang seperti Dea, ia selalu berdoa agar Dea di berikan kebahagiaan yang lebih lengkap lagi.


Setelah selesai bercerita dan membuat Mae tenang, Dea dan Mae pun kembali kepada pekerjaan yang sudah menunggu untuk di sentuh oleh keduanya. hingga membuat Mae dan Dea sibuk bukan main.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***happy reading ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—


A**: dikit dulu ya Uun ๐Ÿ˜


N: besok up lagi ya Thor๐Ÿ˜‚


A: iya jangan lupa aja vote nya Uun ๐Ÿ˜‚


N: siap dah Thor๐Ÿ˜


A: gue kasih greget nya jangan di hujat ya UN yah๐Ÿ˜‚


N: iya nggak Thor ๐Ÿ˜


A:. bilang temen Lo Mon maap kalo gue bikin semosi๐Ÿ˜‚


N: oke siap Thor๐Ÿ˜‚


A: makasih Uun ๐Ÿค—


N: sama-sama Thor ๐Ÿค—*