Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 271


Setelah cukup lama menunggu akhirnya dokter pun tiba, ia langsung memeriksa keadaan Mae yang masih tidak sadarkan diri.


Setelah selesai dokter pun menghampiri Sisil yang masih terlihat gelisah, Sisil memberikan banyak pertanyaan kepada dokter itu.


"Bagaimana dok, apa yang terjadi?" tanya Sisil.


"Nona tenang lah, saya akan menjelaskan" jawab nya.


"Bagaimana saya bisa tenang anak saya tidak sadarkan diri dokter" pekik Sisil, yang membuat dokter itu berjingkat.


"Bun tenang, kalo bunda marah-marah yang ada dokter nya takut sama bunda" ucap Mei.


"Ha iya, maafkan saya dok jadi bagaimana" tanya Sisil lagi.


"Jadi begini nona putri anda tidak apa-apa ini wajar terjadi jika ibu hamil mengalami stress, jadi saya minta nona menjaga kenyamanan dan kesehatan nya karena usia kandungan nya masih sangat muda jadi sangat rentan untuk mengalami keguguran" ucap dokter itu menjelaskan, Sisil mematung masih mencerna ucapan dari dokter itu. hingga suara Mei membuyarkan lamunannya.


"Ha_hamil dok" tanya Sisil terbata.


"Iya nona selamat anda akan menjadi seorang nenek dan usia kandungan nona Mae baru tiga minggu, kalau begitu saya permisi dan ini vitamin yang harus di minum oleh nona muda" jawab nya, dan berlalu meninggalkan Sisil.


Sisil langsung masuk ke kamar Mae dan menatap wajah pucat Mae, ia benar-benar merasa kasihan terhadap Mae.


"Mae apapun usaha kamu untuk pisah dari Julian seperti nya itu tidak akan berhasil, apalagi disini ada Julian junior Mai" ucap Sisil mengelus perut Mae.


"Bun" panggil Dea yang sudah tiba di rumah Sisil.


"Sayang kamu kesini" tanya Sisil, Dea pun mengangguk.


"Hmmmmm, bagaimana keadaan Mae" jawab nya.


"Mae baik-baik saja kak, hanya_" ucapan Sisil menggantung, ia takut jika putrinya akan sedih atau tersinggung.


"Hanya apa?" tanya Dea.


"Hanya tertekan kak, Mae merasa stres dan itu tidak boleh kita biarkan karena Mae sedang...sedang mengandung" jawab Sisil, yang membuat Dea terbelalak.


"Me_mengandung" tanya Dea.


"Iya nak, kamu yang sabar ya sayang bunda yakin kamu akan secepatnya bisa memberikan Carl adik" jawab Sisil.


"Bun apaansi aku nggak apa-apa, Justru aku senang jika Mae tengah mengandung. aku tidak merasa sirik sama sekali, lagian bagiku Carl sudah cukup jika aku tidak bisa memiliki anak lagi kan ada Carl dia juga anakku. bagiku Carl adalah putra kandungku Bun dan namanya saat ini adalah Carl Yudistira Abrisham karena bagi kami dia adalah putra pertama kami dan cucuk tertua keluarga Abrisham" jawab Dea membuat Sisil terharu, ia benar-benar bangga kepada Dea yang memiliki hati begitu tulus dan penyayang.


Namun tiba-tiba Dea merasa kepalanya pusing, ia menggelengkan kepalanya barharap pusing itu hilang.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Sisil.


"Nggak apa-apa Bun, mungkin hanya pusing biasa" jawab nya.


"Mama" lirih Mae, dan suara Mae membuat Sisil dan Dea menoleh.


"Mai are you ok" tanya Dea.


"Ma...ma hiks..hiks.." tanpa menjawab Mae terus saja meracau memanggil mama nya.


"Mae hei sayang ini bunda nak" ucap Sisil, mendengar suara Sisil Mae membuka matanya.


"Dea bunda" lirih nya.


"Are you ok" tanya Dea menangkup wajah Mae, bukannya menjawab Mae justru menangis dan memeluk Dea.


"Mae kamu harus kuat, kamu gak boleh nyerah gitu aja kamu harus bertahan demi anak yang ada di dalam kandungan kamu. anak kamu butuh orang tua yang lengkap babyh" ucap Dea membuat Mae terkejut, Mae melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dea.


"A_anak" tanya Mae tidak percaya.


"Hmmmmm baby" jawab Dea tersenyum.


Refleks Mae mengelus perutnya yang masih rata, ia menitihkan air matanya dengan haru. Mae tidak menyangka ia akan menjadi seorang ibu secepat ini.


"You must be a strong mother to your child (kamu harus menjadi ibu yang kuat untuk anak kamu)" ucap Dea, dengan cepat Mae mengangguk. Sisil memeluk Mae dan Dea ia benar-benar bahagia melihat Dea yang begitu menyayangi Mae.


"Bundaaaaaaaaa aku mau punya ponakan lagi" teriak Mei kegirangan.


"Iya sayang kamu akan menjadi aunty lagi" ucap Sisil.


"Hore, aku doakan kak Dea pun akan cepat kasi dedek buat Carl" ucap Mei tulus.


"Mae istirahat lah, kamu tidak boleh banyak fikiran dan kamu harus menjaga kesehatan kamu jangan sampai stres" ucap Sisil.


"Iya Bun makasih" jawab Mae.


"Istirahat calon mommy, aku ke kamar dulu" ucap Dea, Mae pun mengangguk.


Setelah keluar dari kamar Mae, Sisil mengajak Dea ke kamarnya. ia tidak yakin jika Dea tidak merasa sesak di dada nya.


"Sayang" panggil Sisil, dan benar saja dugaannya Dea meneteskan air matanya.


"Bun i'm sorry" lirihnya.


"No problem honey, bunda understand your feeling, son. (tidak masalah sayang, bunda mengerti perasaan kamu, nak.)" ucap Sisil menenangkan Dea.


"Aku senang Mae hamil itu artinya ia tidak akan berpisah dengan Julian, tapi aku berfikir apakah aku bisa merasakan hamil kembali hiks... aku memang menyayangi Carl sangat menyayangi nya hingga aku ingin sekali memberi nya kebahagiaan Bun, Carl sangat berharap memiliki adik tapi aku bahkan sampai saat ini aku belum merasakan apapun dalam tubuhku" lirih Dea.


"Ayolah sayang kamu harus percaya bahwa cepat atau lambat doa Carl akan di kabulkan, Carl yang berdoa kamu yang berusaha. kamu bersyukur karena memiliki putra sebaik Carl bukan" ucap Sisil.


"Hmmmmm, sekalipun nanti aku memilih anak Carl akan tetap menjadi kesayangan kami Bun. aku dan Abang tidak akan membedakan antara Carl dan anak kami nanti, karena bagi aku dan Abang Carl adalah anak kandung kami" ujar Dea.


"Itu artinya Carl lah yang menyandang status sebagai cucuk tertua keluarga Abrisham, dan dialah yang akan menjadi sorotan nantinya nak" ucap Sisil.


"Nggak Bun, aku gak akan publikasikan Carl karena aku dan Abang tidak ingin membahayakan keamanan Carl. aku dan Abang hanya ingin Carl bersama dengan orang-orang yang tulus menerima nya, bukan dengan orang yang hanya memandang kedudukan nya saja" ujar Dea membuat Sisil tersenyum.


"Itu keputusan yang tepat nak, apa kamu akan melakukan hal itu kepada semua anak kamu" tanya Sisil.


"Hmmmmm, tentu saja kami tidak ingin membedakan antara Carl dan adik-adiknya nanti" jawab Dea.


Merekapun berbincang dengan penuh kasih sayang, Dea pun menceritakan tentang ia yang merengek minta rujak kepada sang putra hingga membuat Sisil terkekeh. Namun dibalik itu Sisil merasa aneh dengan permintaan putrinya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Daddy Justin



Mommy Dea



Abang Carl (kesayangan mom and dad 😍)



***Happy reading πŸ˜ŠπŸ€—


A**: tebak ya ada apa dengan DeaπŸ˜‚


N: tebak-tebakan Mulu Lo mah🀣


A: lagi hobby tebakan gue 🀣


N: sue dah ah πŸ˜‚


A: haha Mon maap oke 🀣


N: oke πŸ˜‚*