Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 279


Hari ini Dea tengah duduk di taman belakang rumah nya, Dea mengelus perut nya yang mulai membuncit.


Sesekali ia tersenyum membayangkan jika perutnya sudah benar-benar buncit, Dea tidak sabar untuk melihat sang anak.


Saat tengah menikmati angin dan udara yang sejuk Mae menghampiri Dea, karena usia kandungan nya hanya beda dua Minggu saja maka perut Mae pun sama sudah mulai membuncit.


"De" panggil Mae.


"Ya" sahut Dea.


"Bete gak si" tanya nya.


"Nggak mai, gue lagi males kemana-mana pengen nya rebahan mulu" jawab Dea.


"Elah pasukan mager lomah" dengus Mae.


Dea menoleh dan menatap tubuh Mae yang mulai berisi, Dea tersenyum tanpa sadar bahwa tubuh nya lebih berisi daripada tubuh sahabat yang saat ini menjadi adik ipar nya.


"Ngapa Lo" tanya Mae.


"Hehe badan Lo Ndut" jawab Dea, membuat Mae mendengus.


"Hei nona, apa kamu tidak sadar tubuhmu itu lebih Ndut dariku" ucap Mae.


"Gue gak gendut, kata Abang tubuh gue se*si" ujar nya bangga.


"Haih serah Lo yang se*si itu dah" balas Mae.


"Ngomong-ngomong Dio kapan balik de" tanya Mae.


"Ya nanti paling kalo udah beres tugas nya" jawab Dea.


"Ohhhh gitu" balas Mae.


"Iya begitu, udah ah gue mau kedalam dulu" ucap Dea meninggalkan Mae.


Setelah kepergian Dea Julian menghampiri Mae yang tengah duduk, iapun mendudukan tubuhnya di samping Mae.


"Lagi ngapain" tanya Julian, ya akhir-akhir ini ia memang sedikit lebih lembut kepada Mae. apalagi saat tau jika ia tidak boleh kasar kepada istrinya itu.


"Lagi cuci piring" jawab nya asal, membuat Julian menghela nafasnya dan berfikir mungkin ini ka*ma.


"Serius bumil" ucap Julian.


"Aku rasa kamu liat Jul, jadi udah tau dong jawabannya" balas Mae.


"Iya iya aku tau, oiya bosan gak?" tanya Julian membuat Mae menoleh.


"Kenapa emang?" tanya Mae.


"Kalo bosan kita jalan-jalan yuk" ajak nya, membuat Mae menatap Julian dengan intens.


"Kamu gak lagi rencanain sesuatu kan" tanya Mae.


"Yaampun Mai gak mungkin lah, kalo aku mau nyakitin atau celakain kamu itu sama aja aku nyakitin anak aku yang berada dalam kandungan kamu" jawab Julian.


"Ya kan takutnya gitu, kamu gak mau aku sama anak kamu ini disini" ujarnya.


"Yaudah gimana mau gak?" tanya Julian lagi.


"Oke aku ambil tas dulu" jawab Mae, membuat Julian memegang tangan nya.


"Gak usah tadi udah di ambilin sama mba" ucap Julian.


"Benarkah?" tanya nya antusias.


"Hmmmmm, ayo" jawab Julian menggandeng tangan Mae.


Merekapun melakukan perjalanan selama 45 menit, setiba nya di mal Mae dan Julian berjalan beriringan.


Mae terlihat sangat senang karena selama hamil ia hanya berdiam diri di rumah saja, hingga akhirnya hari ini ia di ajak jalan-jalan oleh Julian yang berstatus sebagai suami nya.


"Jul" panggil Mae.


"Ya" sahut Julian.


"Mau ice cream Jul" ujarnya.


"Hmmmmm, ice cream?" tanya Julian.


"Iya" mengangguk antusias.


"Yaudah kamu tunggu sini, aku beliin dulu ice cream nya ya" ucap Julian.


"Oke" balas Mae, Mae pun duduk di kursi panjang yang berada di sudut mall.


Mae mengepalkan tangannya, entahlah semenjak mengandung ia menjadi lebih emosional apalagi menyangkut Julian. begitupun Julian menjadi lebih lengket dengan Mae karena ia tidak ingin berjauhan dengan istrinya itu.


"JULIAN" teriak Mae, Julian yang merasa namanya di panggil pun menoleh dan terbelalak, melihat wajah Mae yang merah padam sorot matanya yang tajam membuat Julian menelan Saliva nya.


"Ma*pus dah gue, bodoh banget kesini sama istri Masi aja ladenin orang ngoceh" batin Julian.


"Siapa Jul?" tanya wanita itu, saat melihat Mae mendekat.


"Eh anu_" ucap Julian terhenti.


"Eh ini kakak kamu ya" tanya si wanita, melirik ke arah Mae.


"Kakak" tanya Mae.


"Iya kamu kakak nya Julian kan, istrinya Justin" ujar si wanita, mendengar itu Mae menatap Julian tajam.


"Haduh inimah sama aja jerumusin gue, cewek ribet amat si doyan banget ngomong" gumam Julian.


"PULANG" ucap Mae, berlalu meninggalkan Julian.


"Lah Jul kakak ipar kamu sok ngatur banget si" ujarnya.


"Mulut Lo kalo ngomong kaga pake rem Sumi, elah alamat tidur di luar gue" ucap Julian.


"Maksud Lo apaan si Jul" tanya nya belum mengerti.


"JULIAN" pekik Mae.


"Iya iya pulang, ayo kita pulang" ucap Julian, menyusul Mae.


Setibanya di dalam mobil Mae diam membisu, Julian sesekali melirik ke arah istri nya itu.


Mae mengalihkan pandangannya ke jalanan dengan mata berkaca-kaca, saat air matanya menetes Mae buru-buru menghapus nya.


(kapan berubah nya si Jul, Lo itu udah bukan single lagi Lo udah mau punya anak. hiks... sakit banget si rasanya hati gue serasa di tusuk-tusuk gitu. haihhhhhh lebay sekali) batin Mae.


"Mai" panggil Julian.


"Mai sorry, jangan marah oke" ucap Julian, ia tidak ingin Mae marah apalagi sedih. karena selain berdampak untuk kandungan Mae itu juga berdampak pada dirinya.


"Hmmmmm" balas Mae.


"Mau kemana? mau beli ice cream" tanya Julian.


"Gak, mau pulang aja" jawab nya.


Julian hanya bisa menghela nafasnya saja, ia tidak ingin membuat Mae semakin bad mood. niat nya untuk membuat Mae bahagia tapi malah gagal.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—


Maaf ya part nya jarang ada Dio muncul, karena Dio muncul nya nanti gaes pas mau series dua oke๐Ÿ˜‰


A**: maaf kalo up nya dikit, lagi nyari pencerahan soalnya ๐Ÿ˜‚


N: lagi lemot ya๐Ÿคฃ


A: iya puyeng gue ๐Ÿ˜‚


N: puyeng ngapa๐Ÿ˜


A: nyari alur nya yg seru lah ๐Ÿ˜


N: Semangat Thor๐Ÿค—


A: oke๐Ÿค—*