
Dea merasa sangat penasaran dengan apa yang akan bundanya katakan, Dea menggenggam tangan Sisil dengan gemetar.
"Bunda" panggilnya.
"Kak selamat nak, kamu akan menjadi seorang mama" ucap Sisil.
Deegg... jantung Dea berdegup kencang setelah mendengar ucapan Sisil, tanpa sadar air matanya luruh. senang, takut, ketidak siapan semuanya bercampur menjadi satu.
Namun ia tidak mungkin menolak, meskipun belum siap Dea akan menjaganya karena i u anugerah dan hadiah terindah dalam hidup nya. Dea akan menyayangi nya karena ini adalah bukti cintanya bersama Justin.
"A..aku hamil?" tanya nya terbata.
"Iya sayang kamu hamil nak" jawab Sisil.
"Aku akan jadi mama Bun" tanya nya lagi, Dea benar-benar tidak percaya.
"Iya sayang kamu akan jadi mama" jawab Sisil, mendengar itu Dea langsung memeluk sang bunda dengan haru Sisil membalas pelukan Dea.
Sisil merasa senang karena Dea bisa menerima semuanya, dan Sisil berharap Dea akan menjaga janin yang dalam kandungan nya dengan baik.
"Kak kamu harus kasi tau Abang" ucap Sisil.
"Nggak, aku mau kasi tahu nanti Bun kalo Abang pulang" ujar Dea.
"Kak lebih baik kamu kasi tahu sekarang, jangan nanti" ucap Sisil lagi.
"Bun nanti kan bisa jadi kejutan kalo Abang pulang" balas Dea, Sisil pun mengiyakan keinginan putrinya.
Setelah berbincang Sisil mengambil makanan yang tadi di masak nya, lalu menyuapi Dea Sisil tersenyum melihat wajah Dea yang berbinar.
Setelah selesai makan Dea memutuskan untuk istirahat, karena ia merasa tubuhnya lelah dan memutuskan untuk kembali tidur.
...
Pagi hari Mei melihat ke samping dan dilihatnya Dea tidak ada, Mei mendengar suara orang muntah di kamar mandi.
Dengan seribu kekuatan Mei terlonjak dan lari ke kamar mandi, di lihatnya Dea yang sedang duduk di bawah wastafel dengan wajah pucat.
"Kakak" panggil Mei.
"Mei" balas Dea.
"Kakak kenapa" tanya mei.
"Perut aku mual Mei berasa kaya di aduk-aduk" jawab Dea.
Dea pun berdiri dan kembali memuntahkan isi perutnya, hingga ia merasa perut dan tenggorokan nya sakit.
Hoeekkk... hoeekkk... saat merasa sudah tidak ada tenaga tubuh Dea merosot dan terduduk.
"Kakak ayo ke tempat tidur" ucap Mei berusaha membantu Dea.
"Nggak Mei aku udah gak ada tenaga" ucap nya dengan air mata yang menetes.
Melihat kondisi Dea Mei pun ikut menangis ia merasa tidak tega, mei berlari ke luar kamar untuk meminta bantuan Rio. sementara Dea ia mengelus perutnya yang masih datar penuh sayang.
"Baik-baik ya sayang, meskipun mama belum siap buat punya kamu. tapi mama akan jaga kamu apapun yang terjadi meskipun dengan nyawa mama nak" gumam Dea, ia menyandarkan kepalanya di dinding.
Tak lama Mei kembali bersama Sisil dan Rio, sungguh Sisil melihat putrinya yang sedang tidak berdaya.
"Kak" panggil Rio, dan segera mengangkat tubuh Dea.
Rio merebahkan tubuh Putrinya dengan hati-hati, ia menatap wajah pucat Dea.
"Minum dulu kak" ucap Sisil memberikan air hangat.
"Mau periksa lagi?" tanya Rio, namun Dea menggeleng.
"Nggak ayah gak perlu" jawab Dea.
"Kalo kakak kaya gini ayah jadi gak tenang" ucap Rio.
Rio dan Mei pun bersiap-siap Mei yang harus ke sekolah terpaksa harus meninggalkan Dea, meskipun tidak ingin sekolah ia paksakan karena Dea memaksa nya.
...
Di tempat lain seorang lelaki sedang merasa kegirangan karena akan menjadi uncle, betapa bahagianya ia saat mendengar jika Dea sedang mengandung kembaran nya akan memiliki anak. ya dia adalah Dio ia di telpon oleh Sisil mengabarkan bahwa Dea akan memberikan ponakan kepadanya.
*Dio: jaga dia Bun jaga baik-baik. jangan sampai Dea kenapa-napa.
Sisil: ia bang, kita juga di sini berusaha buat jaga Dea kok.
Dio: gak nyangka aku Bun bang Justin tokcer juga haha.
Sisil: suee kamu bang haha.
Dio: tapi bener kan Bun, selama ini Dea gak mau banget di sentuh bang Justin. eh taunya Midun aja tuh anak.
Sisil: iya sii kamu bener bang.
Dio: terus itu bang Justin udah tahu Bun?
Sisil: belum katanya sii biar nanti jadi kejutan bang.
Dio: kasi tau aja Bun tapi jangan bilang-bilang sama Dea.
Sisil: ya jangan lah bang, nanti Dea nya ngamuk.
Dio: iya juga sii, lagian Abang ya punya bini galak bener haha.
Sisil: iya bahkan sekarang Dea lagi ngajarin Mei, buat bisa galak bang.
Dio: udah Bun aku tutup dulu ya telpon nya, assalamualaikum*.
belum sempat Sisil menjawab Dio menutup panggilan telpon nya, Ia menelan Saliva nya kasar membayangkan jika Mei akan segala Dea.
Awas aja kalo Dea mengajari Mei untuk galak, gak di ajarin aja si Mei udah lumayan galak sekarang. begitulah fikir Dio.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***selamat membaca ๐๐ค
A**: dukung author nya terus ya ๐ค
N: tiap hari gue dukung Thor๐
A: Alhamdulillah bagus itu๐
N: asal up yang banyak๐
A: doakan aja akunya baik-baik ya ๐
N: siaaap๐*