Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 237


Dea yang merasa tidak pantas untuk menjadi pimpinan, namun semenjak perusahaan itu di bawah Kendali Dea manjedi semakin maju dengan pesat.


Hingga membuat Rio, Sisil, tuan Gerry juga Justin bangga kepada Dea. meskipun ia harus membagi waktu dengan kuliah namun Dea berhasil meningkatkan perusahaan sang opa.


Bersyukur Mae mau membantu dirinya, semenjak keluar dari rumah sakit Mae membantu Dea dan akan menemani Dea kemanapun.


Dua wanita yang memiliki cita-cita menjadi wanita karier itu sekarang sedang memantapkan tujuannya, keduanya berusaha dengan baik agar bisa pantas disebut atasan.


"De" panggil mae.


"Ya?" sahut Dea.


"Abis ngampus Lo mau langsung ke kantor apa gimana?" tanya Mae.


"Lo ke kantor duluan aja Mai, gue mau ke kantor bang Justin dulu" jawab Dea.


"Tapi hari ini ada pertemuan sama klien de" ucap Mae.


"Huffffhhh, Lo handle Mai plis" pinta Dea.


"Ya baiklah baiklah" ucap Mae. ya kepintaran Mae hampir menyamai Dea. bahkan Mae bisa mengikuti Dea melompat kelas dan sekarang mempercepat kuliah keduanya.


Selesai dari kampus Mae bergegas ke perusahaan opa Gerry, dan Dea ke perusahaan sang suami.


Setibanya di lobi kantor Justin, Dea buru-buru masuk dan bertanya kepada resepsionis. bersyukur resepsionis nya baik dan ramah.


Ya pasti baik penampilan Dea memperlihatkan bahwa ia berasal dari kalangan atas, meskipun sederhana baju yang di kenakan Dea baju-baju bermerek.


"Permisi" ucap Dea lembut.


"Ya nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya nya.


"Ah iya, saya mau bertemu dengan tuan justin" jawab Dea.


"Apa nona sudah membuat janji?" tanya nya lagi.


"Ah iya, aku lupa bagaimana ini" gumam Dea menepuk dahinya.


"Nona?" panggil resepsionis itu.


"Ammmmm, katakan saja Dea ingin bertemu" jawab Dea.


Dan resepsionis itupun menelpon sekretaris Justin, dan menanyakan apakah Justin sedang ada tamu atau tidak.


Setelah mendapatkan jawaban Dea pun di persilahkan untuk ke ruangan Justin, dan setelah manaiki lift Dea tiba di lantai paling atas.


Iyapun berjalan mencari ruangan Justin dan terlihat lah pintu paling beda dari yang lainnya, tanpa menunggu lama Dea segera membuka pintu itu.


Karena meja sekretaris Justin kosong jadi Dea langsung masuk, dan baru saja membuka pintu ia melihat sekretaris Justin yang berusaha menggoda suaminya. namun justin selalu menghindar dan tidak merespon itu yang membuat Dea percaya penuh kepada suaminya.


"E...eh maaf aku ganggu" ucap Dea membuat Justin menoleh.


"Hai kamu sudah sampai" tanya Justin, beranjang mendekati Dea.


"Ya aku baru sampai" jawab Dea.


Justin merangkul pinggang Dea dan mencium kening nya, sementara sekretaris Justin menatap Dea sinis dari ujung kaki sampai ujung kepala.



Dea yang selalu berpenampilan sopan, apalagi saat ke kantor Justin karena ia tidak ingin di nilai sebagai wanita rend*han. karena pernikahan nya belum di publikasikan, maka dari itu Dea selalu berpenampilan sewajarnya saja.


Justin meminta sekretaris nya keluar, dan ia menarik tangan Dea untuk duduk di sofa. Justin mendudukkan Dea di atas pangkuannya.


"Abang lepas jangan seperti ini" ucap Dea memberontak.


"Kenapa hmmmm?" tanya Justin.


"Abang malu, nanti ada yang liat lepasin aku" rengek nya, namun justin malah mempererat pelukannya.


"Abang huaaaaaa nyebelin, tau kaya gini aku gak mau datang ke kantor Abang" protes Dea membuat Justin terkekeh.


"Kenapa kamu menyesal menemui suami kamu?" tanya Justin.


"Aku kangen" ucap Justin.


"Oh my God, aku ngomong apa dia jawab apa" kesal Dea, ya beginilah Dea kalo suaminya mulai manja. akan menjadi perdebatan sengit antara keduanya.


"CK. kamu kenapa ko bahagia gitu muka nya" ledek Justin, saat melihat wajah kesal milik Dea.


"Uhhh tentu apalagi yang harus aku lakukan, saat suamiku tidak mendengar perkataan aku" sindir Dea.


"Ya itu artinya kau sangat bahagia Eku peluk seperti ini, hanya saja kamu gengsi" goda Justin.


"Apa?! siapa yang gengsi. hello selama ini yang gengsian itu Abang bukan aku" protes Dea.


"Sayang sudahlah aku tau kamu bahagia, jadi nikmatilah. karena akhir-akhir ini kamu sibuk di kantor, aku sangat merindukanmu" rengek Justin, dan itu membuat hati Dea perih ia menyesal menerima keinginan opa dan ayah nya. jika itu membuat ia harus berjarak dengan suaminya.


"Maaf" lirih Dea.


"Hmmmmm, kenapa minta maaf?" tanya Justin.


"Gara-gara aku mau gantiin Dio Abang jadi jarang ketemu aku, kalo gak aku yang lembur abang yang lembur" jawab Dea dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak apa, aku yang mengijinkan. aku tahu jika aku tidak mengijinkan maka kamu tidak akan membantu opa mu" ucap Justin.


Saat keduanya tengah berbincang pintu ruangan Justin tiba-tiba di buka oleh sekretaris nya, hal itu membuat Dea malu dan menyembunyikan wajahnya di cengkuk leher Justin.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu" ucap Justin kepada sekretaris nya.


"Ma...maaf tuan saya kira" ucap nya terhenti.


"Ada apa" potong Justin.


"Ini berkas yang anda minta tuan" jawab nya.


"Letakan di meja, dan kau boleh keluar" ucap Justin yang masih memeluk Dea.


Perset*n dengan sekretaris nya itu, untung ia belum memulai aksinya tadi. setelah sekretaris nya kembali keluar Justin menangkup wajah Dea dan mencium bibir nya.


Ia benar-benar merindukan istri kecilnya ini yang sangat manja, namun tidak untuk sekarang karena keduanya di sibukkan oleh pekerjaan. Dea selalu berdoa agar Dio segera kembali, ia tidak ingin mengecewakan suaminya karena terlalu sibuk.


Dea tidak ingin Justin kekurangan kasi sayang dan perhatian dari dirinya, ia selalu ingin mengurus suaminya dengan baik.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***happy reading ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—


A**: segini dulu ya๐Ÿ˜


N: iya Thor๐Ÿ˜


A: vote nya Uun rangking gue melorot lagi๐Ÿ˜’


N: iya Thor nanti gue vote๐Ÿ˜Š


A: makasi Uun๐Ÿ˜Š


N: sama-sama ๐Ÿค—*