
Malam hari Dea merebahkan tubuhnya di samping Justin, sepulang dari rumah sakit tadi Dea mendapatkan kuliah dari suami nya itu karena keluar rumah tanpa memberi tahu dirinya.
Kali ini Justin pura-pura marah kepada Dea agar istrinya itu tidak lagi pergi tanpa ijin dan meninggalkan Aiden tanpa menitipkan nya kepada para suster yang berada di rumah, bukan apa-apa hanya saja ia merasa khawatir dengan kandungan Dea apalagi saat dirinya baru mengetahui kehamilan Dea dulu hingga membuat Dea menangis histeris.
Dea melirik ke arah Justin ternyata suami baik nya itu bisa marah juga, sebenarnya terlihat lucu dimata Dea namun ia tidak ingin tertawa yang akan membuat Justin semakin kesal.
"Abang" panggil Dea, namun Justin tidak menjawab dan malah membelakangi istri nya itu.
"Abang marah" lirih nya dan Justin masih saja seperti itu, Dea ingin memeluk suaminya namun ia urungkan karena merasa gengsi.
"Dea tau Dea salah harusnya Dea bilang dulu sama Abang biar Abang gak khawatir, tapi karena Dea panik Mae akan lahiran jadi Dea buru-buru" ucap Dea mencoba menjelaskan, namun Justin masih saja mendiamkan nya.
Sebenarnya Justin merasa tidak tega mendiamkan Dea, namun mau bagaimana lagi ia ingin memberikan pelajaran kepada istrinya itu dan Justin juga mendengar ucapan mami Alin yang mengatakan jika Dea hampir terjatuh.
Dea menghela nafas nya ia membelakangi Justin dan memejamkan matanya, meskipun awalnya ia tidak bisa tidur namun Dea memaksanya.
...
Pagi hari Dea sudah tidak melihat keberadaan Justin di samping nya, Dea pun terbangun dan berjalan ke kamar mandi.
Dea membersihkan diri setelah itu ia berjalan keluar kamar menuju kamar putranya, dilihatnya Justin sedang memakaikan Aiden baju.
"Mom" panggil Aiden membuat Dea tersenyum, namun Justin sama sekali tidak menoleh.
"Anak mom sudah mandi" ucap Dea berjalan mendekati Aiden.
"Iya Daddy yang memandikan aku mom" ucap Aiden membuat Dea mengernyit heran.
"Daddy" ucap Dea membuat Justin menoleh.
"Aku akan membawa Aiden ke kantor" ujar nya membuat Dea terbelalak.
"Kenapa? biasanya juga Abang gak mau bawa Aiden ke kantor. bukan kah Abang tidak ingin wajah Aiden di lihat orang lain" ucap Dea, sungguh ia merasa terkejut dengan perkataan Justin.
"Tidak apa, aku hanya ingin menjaganya tanpa harus meninggalkan nya" ucap Justin.
"Tidak aku tidak mengijinkan Aiden ikut dengan Abang" ucap Dea.
"Kenapa? aku Daddy nya bukan kenapa aku tidak boleh membawa putraku. aku akan menjaga nya tidak akan meninggalkan nya begitu saja tanpa menitipkan nya" ucap Justin membuat Dea membuka mulutnya, ini kali pertama bagi pasangan suami istri itu berdebat hingga seperti ini.
"Tidak! Aiden sama mommy" ucap Dea menarik tangan Aiden.
"Lepas Aiden akan ikut bersamaku" ucap Justin langsung menggendong tubuh mungil Aiden, sementara Aiden menatap mom and dad nya dengan bingung.
Aiden mencoba untuk mengerti keadaan dan hanya diam, selagi orang tuanya tidak melakukan hal yang kelewatan ia tidak akan protes. lagi pula Aiden tahu apa yang membuat Daddy nya kesal.
"Ayo sayang" ucap Justin Dea berjalan mengekor di belakang, jujur saja kali ini Dea merasa takut ketika melihat wajah dingin Justin.
Mami alin yang melihat Dea berjalan cepat mengejar Justin pun panik, ia memberikan Aleta kepada pengasuh nya dan berlari memegang tangan Dea.
"Dea apa yang kamu lakukan" ucap mami alin membuat Justin menghentikan langkahnya.
"Mami" ucap Dea ngos-ngosan karena mengimbangi langkah Justin.
"Ada apa kenapa kamu berjalan cepat seperti itu, bagaimana jika kamu terjatuh ingatlah kamu sedang mengandung" ucap mami alin mengelus pelipis Dea yang berkeringat.
Justin menoleh ke arah Dea dengan tataoam dingin nya, melihat tatapan Justin seperti itu Dea menundukan kepala nya dan mami alin mengerti jika anak dan menantunya sedang ada masalah.
"Aku berangkat mi" ucap Justin membuat mami alin melongok.
"Eh Aiden mau kamu bawa kemana" tanya mami alin.
"Kantor" jawab nya.
"Bang kamu gak bisa bawa Aiden nanti dia akan bersama siapa disana" ucap mami alin.
"Kenapa tidak bisa dirumah juga putraku hanya di tinggalkan bukan, ada aku dan Jack yang akan menjaga Aiden" ucap Justin membuat mami alin mengerti, sementara Dea langsung berbalik menuju kamar nya. Justin yang melihat Dea menangis menghembuskan nafasnya kasar.
"Keterlaluan kamu bang" ucap mami alin meninggalkan Justin.
...
Di kediaman Dio lelaki itu sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja di bantu oleh Mei, Dio begitu senang karena Mei terlihat lebih ceria.
"Ahhh, aku mau di bawain mpek-mpek aja ya" ucap Mei dengan mata yang berbinar.
"Siap nyony Artadinata" ucap Dio mencium pipi Mei.
"Abang pulang sore apa malam?" tanya mei, saat keduanya tengah berjalan ke ruang makan.
"Kaya nya Abang pulang jam 7an sayang, nanti kalo kamu lapar makan duluan aja gak usah nunggu Abang" ucap Dio membuat Mei mengangguk.
Mei mengantar Dio ke depan saat keduanya sudah selesai sarapan, Dio menciumi setiap inci wajah Mei sebelum berangkat kerja.
"Istirahat gak boleh kemana-mana dan gak boleh kecapean oke honey" ucap Dio.
"Siap bos" bales Mei.
Dio pun pergi melajukan mobilnya setelah mobil Dio menjauh Mei kembali masuk kedalam rumah, ia menonton televisi untuk mengisi kebosanan nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Daddy yang lagi ngambek π
Aiden yang jadi rebutanπ
Mommy yang lagi di diemin Daddy π
***Happy reading ππ€ jangan lupa like komen dan vote nya ππ
A**: ini gue baru kali ini kasi Justin sama Dea berantem ini π
N: nggak apa-apa biar lucu gitu Thor Jan romantisan Mulu lah π
A: iya biar ada bumbu-bumbunya gitu kan π
N: nah iya bener biar kaga datar Bae sama kebahagiaan π€£
A: aseeekkkk π
N: itu nanti pasti pada ngoceh emang suster nya pada kemana π
A: suster nya ada cuma Dea pergi tuh gak ijin babang Tintin gitu loh, dan gak titipin Aiden ke ana biasanya kalo pergi Dea bilang ana tolong jaga Aiden dan Aleta bentar gituπ
N: oh pantes lah π orang Aleta sama Aiden mah anak emas nya bang Tintin π
A: bukan gitu khawatir dia kalo Aiden nyariin mom nya, sementara Aleta kan tau kalo Dea pergi jenguk Mae π
N: bagus sii jadi ada berantem nya gitu π
A: mereka berantem Lo seneng π
N: iya π€£π€£π€£π€£*