Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 393


Hari ini Dena menghampiri ana di kamarnya, ia merasa jika dirinya memang harus berbicara kepada ana.


Kembali nya Dena saat ini karena ingin dekat dengan ana, ya Dena memang sudah menyukai ana sejak saat melihat ana.


Tok...tok... Dena mengetuk pintu kamar ana, dan tidak lama ana pun membuka pintu kamar nya, ia begitu terkejut melihat Dena.


"Loh nona" ucap ana.


"Mbak jangan panggil aku nona, panggil Dena aja" ucap nya membuat ana tersenyum.


"Dena boleh masuk gak" tanya nya.


"Tentu saja silahkan nona" jawab ana, Dena pun masuk ke kamar ana dan memandang kamar itu.


"Mbak kita pergi ke luar yuk" ajak Dena, ia ingin menghabiskan waktu nya bersama ana.


"hmmmmm, memang nya kita mau kemana nona" tanya ana.


"Kita pergi ke mall mbak" ucap Dena, namun ana menolak nya ia merasa tidak enak jika harus pergi bersama dengan Dena.


"Maaf nona sepertinya saya tidak bisa" balas ana dengan lembut.


Mendengar jawaban ana Dena pun tersenyum, baiklah ana memang gadis yang cocok untuk abang nya itu.


Dena yang memang sudah tidak memiliki rasa suka ataupun kagum kepada lelaki yang ia panggil Abang itu, bersikap biasa saja tanpa ada rasa malu. bahkan Dena bersikap galak.


"Ayolah mbak" ajak Dena.


"Maaf nona saya tidak bisa, sungguh" balas ana, Dena pun mengerti dan ia memutuskan untuk keluar dari kamar ana untuk menemui Dea.


Saat keluar dari kamar ana Dena menabrak tubuh seseorang yang berdiri tepat di depan pintu kamar ana, hal itu membuat Dena mendengus kesal.


Bruuuk... tubuh Dena pun sedikit terpental.


"Wadawww" pekik nya, Dena merasa kesal karena ia selalu mengalami keapesan jika bertemu Carl. ya lelaki itu adalah Carl yang ingin memanggil ana untuk menemani nya ke toko buku.


"Loh dek, kamu ngapain" tanya Carl.


"Dek dek, onty gitu! Dena tuh onty nya Abang" cebik Dena, membuat Carl terkekeh.


"Aunty kecil gitu maksudnya" ledek Carl.


"Kecil-kecil gini juga mempesona ya bang, jangan lupa karisma seorang Dena Anggia" ujar nya membuat Carl dan ana tertawa kecil, ana membantu Dena bangun dari duduk nya.


"Buktiin dong dek, jangan cuma ngomong aja" ledek Carl.


"Abang liat ya bang ya, nanti nih kalo udah waktunya Dena akan bawa pangeran ke depan Abang" ujar nya penuh penghayatan.


"Abang tunggu saat ini mini onty" ucap Carl.


"Tentu saja, dan aku juga mau Abang ajak wanita yang nanti akan menjadi ponakan Dena" ucap Dena.


"Baiklah aku akan mengajak nya bertemu kamu" ucap Carl, mata lelaki itu melirik ana namun ana tidak menyadari nya.


"Mbak ana ingat, kalo Abang mengajak wanita mbak harus liat wanita nya cantik atau tidak" ledek Dena.


"Kenapa seperti itu" tanya ana.


"Memang harus seperti itu" ujar Dena.


"Ya ya terserah kamu lah ya, aku tunggu kamu dewasa dan mengajak lelaki tampan di hadapan ku" tantang carl, lelaki itu langsung menarik tangan ana dan membawa nya pergi membuat Dena mencebik.


"Abang, mbak ana gue mau Lo bawa kemana" pekik Dena mengejar Carl dan ana.


"Apasi dek" ucap Carl.


"Abang mau bawa Mbak ana kemana? hari ini mbak ana milik Dena ya. Abang jangan bawa Mbak ana" ucap nya, perdebatan Dena dan Carl membuat Mae dan Dea menghampiri mereka.


"Loh ini ada apa" tanya Dea.


"Abang nih kak, masa mau bawa Mbak ana pergi kan Dena duluan yang nemuin Mbak ana" ucap Dena, membuat Carl menatap wajah Dena sinis.


"Emang Abang mau bawa ana kemana" tanya Dea.


"Keluar bentaran mom" jawab Carl, ana yang di perebutkan merasa risih.


"Emang ana nya mau pergi sama kamu boy" tanya Mae dengan tatapan meledek nya.


"Mau kok" ucap Carl percaya diri.


"Siapa bilang, ana kan mau pergi sama nona Dena" jawab ana, membuat Carl terbelalak Carl tidak ingin ada jarak lagi antara dirinya dan ana.


"Denger kan Lo, lepas tangan Mbak ana. lagian nih ya bang dengerin kalo Abang kan bisa sering ketemu Mbak ana. kalo Dena kan susah kesini nya aja beberapa tahun sekali" dengus nya membuat Dea dan Mae menganga.


Dea dan Mae sempat khawatir jika Dena akan merebut Carl dari ana dalam arti menjauhkan Carl dari ana, tapi kali ini justru Dena malah tidak ingin jauh dengan ana.


"Aku cuma pinjem ana sebentar ke toko buku doang, lagian kamu juga kalo malam kan bisa tidur sama ana" ucap Carl tidak ingin kalah, benar juga bahkan setiap malam Dena selalu mengganggu ana.


"Baiklah Abang boleh bawa Mbak ana tapi Dena ikut, Dena ingin beli sesuatu juga" ucap nya yang di setujui oleh Carl, mereka bertiga pun pergi menuju toko buku. mau tidak mau Carl harus mengajak Dena, sementara Dea dan Mae saling memandang.


"Lo ngerasa ada yang aneh gak de" ucap Mae.


"Iya, Carl akhir-akhir ini lebih sering gangguin ana" ucap Dea tersenyum.


"Kalo misal Carl sama ana berjodoh Lo bakal restuin?" tanya Mae membuat Dea mengernyit.


"Tentu, gue sama Abang gak pernah larang Carl menyukai siapapun. lagi pula gue tau kalo perasaan Dena ke Carl cuna sekedar perasaan anak kecil aja" ujar nya, merekapun duduk di sofa ruang tengah.


"Dena kan mau nya dapetin orang luar de" ucap Mae menatap Dea.


"Iya kalo udah kaya gitu gue yakin Dena udah tertarik sama orang luar tanah air, lagian ayah dan bunda pernah bilang kalo Dena ingin tinggal di luar negeri gak mau deket-deket sama kita yang dapetin cowok lokal" kekeh Dea.


"Ya gue yakin si Dena bisa dapet yang lebih dari Carl, bukan apa-apa lagian ayah Lo mana setuju disini meskipun Carl bukan anak kandung Lo banyak orang tau nya dia anak Lo kan" ucap Mae membuat Dea mengangguk.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Dena Anggia



***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


A**: oke gaes disini aku liat komen kalian banyak yang salah paham 😁


N: tapi gue paham ujung nya bakal kaya gimana 😂


A: yang tau itu cuma beberapa dari banyak nya komen un 😁


N: gak apa-apa Thor, asal nanti jangan pada kecewa aja kan 😁


A: iya bener lagian nanti gue bikin cerita nya lebih sweet lagi 😂


N: di tunggu 😂*