
Di tempat lain terlihat mami alin yang sedang menceramahi putra bungsunya itu, namun dasarnya Julian yang ngeyel malah menggoda sang mami.
Hingga membuat mami alin mengancam akan melaporkan nya kepada justin, dan jika sudah menyeret nama sang Abang maka Julian tidak akan bisa berkutik lagi.
Ia lebih takut kepada Justin daripada sang papi, karena papi Julian masih bisa dirayu berbeda dengan sang Abang yang keputusan nya tidak bisa di ganggu gugat.
"Jul kamu jangan begini Mulu apa Jul" ucap mami alin.
"Terus aku harus gimana mi?" tanya Julian.
"Kamu liat dong Abang kamu Jul" jawab mami alin.
"Kan tiap hari aku liat Abang mi tiap Abang balik kerja" ucap Julian.
"Yaampun ngidam apa mami dulu, kenapa bisa punya anak model begini" dengus mami alin.
"Mami kan waktu hamil aku berantem Mulu sama papi" goda Julian.
"Sok tau kamu, liat aja nggak" ucap mami alin.
"Tapi aku denger" jawab Julian asal.
"Hilih Jul, mami serius ini. masa kamu mau begitu terus" kesal mami alin.
"Yaudah aku harus gimana mi?" tanya Julian.
"Deketin Mae lah Jul" jawab mami alin.
"Apa?!" teriak Julian terkejut.
"Gak usah teriak mami gak budek" kesal mami alin.
"Mami ngapain si mi, kenapa harus si saroh coba" ucap Julian.
"Mae Julian Mae" ucap mami alin.
"Namanya Siti Maesaroh mami" balas Julian penuh penekanan.
"Terserah, pokonya mami mau jodohin kamu sama Mae" ucap mami alin.
"Nggak bisa gitu dong mi" protes Julian.
"Nggak bisa kenapa coba?" tanya mami alin.
"Masa Abang sama Dea yang anggun, lah aku sama speaker rusak" jawab Julian.
"Heh kamu, nanti tiba-tiba suka aja sama Mae baru nyahok kamu Jul" ucap mami alin kesal.
"Ayolah mi" mohon Julian.
"Kamu tau darimana Dea pendiem hah?" tanya mami alin.
"Emang Dea galak ya mi?" balas Julian.
"Ya mana mami tau, kamu tanya aja Abang kamu sana" ucap mami alin membuat Julian mendengus kesal.
Ia tahu jika ia bertanya kepada Justin maka sang Abang akan dengan peka, mengerti jika Julian kalah berdebat dengan mami nya.
Harusnya Julian tidak menolah, karena percuma sekeras apapun Julian menolak mami akan tetap dengan keputusan nya.
Buktinya Justin yang berakhir pernikahan dengan Dea, itu karena ia selalu kalah berdebat dengan mami nya dan berujung pasrah.
...
Di sisi lain Dea sedang bermanja dengan bundanya, setelah puas meledek Dio Dea pun memutuskan untuk menghampiri sang bunda.
Dan disinilah mereka di gazebo taman belakang rumah nya, Dea merebahkan kepalanya di pangkuan Sisil yang sedang mengelus kepala Dea dengan lembut.
"Kakak udah ada keputusan buat kedepannya?" tanya Sisil.
"Udah Bun, kakak mau lanjut kuliah aja. lagian Abang juga masih sering sibuk" jawab Dea.
"Mau lanjut kuliah disitu apa mau pindah aja, takutnya kakak ngerasa gak nyaman" ucap Sisil.
"Lanjut disana aja lah Bun, gak usah pindah" balas Dea.
"Udah ijin Abang?" tanya Sisil.
"Hmmmmm, Abang sempet nyuru aku pindah cuma aku gak mau" jawabnya.
"Gak apa-apa, yang penting kakak nyaman bunda dukung" ucap Sisil membuat Dea tersenyum.
"Makasih" lirih Dea, membuat Sisil menunduk dan menatap putrinya.
"Bunda yang udah sayang banget sama kakak, bunda yang udah selalu ada buat kakak. kakak gak tau kalo orang tua kakak bukan bunda bakal kaya gimana hidup kakak" ucap Dea membuat Sisil berkaca-kaca.
"Kakak tau bunda berharap punya anak wanita yang cantik, dan pas keluar pertama laki-laki dan itu Dio bunda sempet sedih. namun pas kedua yang keluar itu bayi perempuan yang cantik dari situlah bunda merasa bahagia" ucap Sisil.
"Kalian melengkapi hidup dan hari-hari bunda" tambah nya.
"Tadinya aku mau ajak Dena tinggal sama aku dan Abang" ucap dea.
"Kenapa begitu?" tanya Sisil.
"Tapi aku takut gak bisa rawat Dena kaya bunda rawat kita, apalagi aku yang masih kuliah dan Abang sibuk kerja" jawab Dea.
"Gak usah buru-buru buat punya anak, mungkin kejadian kemarin karena kalian sedang dikasi waktu untuk pacaran dulu" ucap Sisil.
"Iya bunda bener, bahkan bunda tau buat Deket sama Abang aja waktunya lama banget" balas Dea tertawa.
"Iya kamu nya yang gak mau di sentuh Abang" ledek Sisil.
"Nggak usah dibahas bunda" ucap Dea menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ihhh kenapa kok malu gitu" ledek Sisil.
"Iyalah gak mau di sentuh kan tiba-tiba hamil aja" ucap Dea malu-malu.
"Iya bunda Bru tahu, ternyata anak bunda mau di sentuh nya pas udah pindah rumah" goda Sisil terkikik geli.
"Aaaaaaaa bunda mah" ucap Dea menyembunyikan wajahnya di perut Sisil.
"Ih bener kan kak" ucap Sisil.
"Iya tapi jangan bahas itu aku malu" ujar Dea.
"Gak lama pindah anak bunda langsung midun gaes" goda Sisil.
"Haaaahhh tapi gak jadi punya cucuk kan bundah" ucap Dea dengan mata berkaca-kaca.
"Dia akan menjadi malaikat kamu, meskipun dia gak ada tapi dia akan selalu jadi yang pertama buat kamu dan Abang" ucap Sisil.
"Tapi kalo nanti aku punya anak lagi, tetep aja dia yang pertama kan Bun. soalnya kan yang pertama belum kebentuk dan_" ucap Dea terhenti.
"Tuhan akan mengganti semua yang telah ia ambil dengan yang terbaik" ucap Sisil menenangkan Dea.
"Bun kalo aku punya anak lagi nanti Abang bakal sayang gak ya?" tanya Dea.
"Pati lah itu anak nya kak" jawab Sisil.
"Semoga" balas Dea. Sisil pun memeluk Dea.
Sisil menenangkan Dea dan berusaha meyakinkan putrinya, bahwa Justin adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ๐๐ค
A**: vote nya apa Uun ๐ญ
N: ia nanti gue kasi Thor๐
A: gue tunggu๐
N: bawel dah๐
A: bodomamat ๐
N: iyadah serah Lo sama si Mamat aja๐
**A: ๐คฃ๐คฃ๐คฃ***