Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 201


Mae memeluk Dea dan mengajaknya keluar kelas diikuti oleh nina, namun saat akan berjalan ke parkiran Dea kembali melihat laki-laki yang di takutinya. ya Dea kembali melihat Dodi yang sedang berjalan ke arah nya untuk menghampiri Nina.


Benar saja sekarang Dodi berada tepat di hadapannya, dan menyapa Nina.


"Hai na" sapa Dodi dengan wajah polos nya, tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Hai di" balas Nina.


"Mau pada kemana nih?" tanya Dodi, melirik sekilas ke arah Dea.


"Oh, kita mau nganter Dea balik" jawab Nina.


"Gimana kalo gue aja yang nganter Dea boleh gak" pintanya.


"ya boleh lah di, boleh banget" jawab Nina tersenyum. saat mendengar Jawaban Nina yang menyetujui permintaan Dodi, tubuh Dea kembali bergetar dan air matanya pun kembali luruh.


Mae yang menyadari tubuh sahabatnya kembali bergetar hebat pun merasa kasihan dan tidak tega, Mae pun merasa kesal kepada Nina yang mengiyakan seenak jidat.


Tidak Mae tidak akan membiarkan Dea di antar oleh Dodi, ia tau kalau Dea diserang ketakutan.


"Na Lo apa-apaan sii, malah iya in gitu aja" kesal Mae.


"Ya kan emang gak apa-apa kali Mai, Dodi kan baik" ucap Nina.


"Nggak, pokonya gue gak bakal biarin Dea balik sama Dodi. kalo Lo gak mau nemenin gue nganter Dea gak apa-apa, gue bisa sendiri ko na" ujar Mae menarik tangan Dea, dan membawa nya pergi.


"Mai Lo kenapa marah sama gue si? tunggu apa mai" teriak Nina.


Mar yang merasa kesal kepada Nina pun tidak menggubris ucapan Nina, ia membuka pintu mobil dan menyuruh Dea duduk di samping kemudi berada tepat di sampingnya. sementara Nina ia duduk di belakang kemudi.


"De Lo tenang ya, udah jangan nangis Mulu capek de" ucap Mae.


Selama dalam perjalanan kerumah Dea suasana sangat hening, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya merekapun tiba di rumah Dea, Dea yang kembali mengingat perlakuan Dodi yang mencoba menyentuh nya, mencengkram tangannya, dan bahkan mencoba untuk menciumnya pun kembali meneteskan air matanya.


"De udah dong nangis nya, nanti bunda Lo ngira gue jahatin elo" ucap Mae. iapun menghapus air mata di pipi sahabatnya.


Mae mambentu Dea turun dari mobilnya, dan menuntun Dea untuk masuk ke dalam rumah nya.


"Assalamualaikum" ucap Mae dan Nina bersamaan.


"Walaikumsalam" jawab Sisil dan mei, namun keduanya di kejutkan dengan penampilan Dea terutama Sisil. ia begitu terkejut melihat Dea dengan wajah yang sembab dan terlihat ketakutan.


Sisil menghampiri Dea dan merengkuh tubuh mungil sang putri kedalam pelukannya, Sisil mengajak Dea dan teman-teman nya untuk masuk. merekapun duduk di ruang tamu.


"Kak, kakak kenapa?" tanya Sisil, ia merasakan tubuh Dea yang masih bergetar.


"Bun kakak kaya orang ketakutan apa shock gitu" ucap Mei, yang di angguki oleh Sisil dan Mae.


"Mei bilang mbak suruh bawa minum dan Camilan" ucap Sisil yang di ngguki oleh Mei.


"Kak, hei kenapa? lihat bunda kakak Kenapa?" tanya nya lagi.


"Hiks...hiks...de, Dea takut Bun" ucap Dea pelan, nyaris tidak terdengar.


"Iya cerita sama bunda apa yang bikin kamu takut" ucap Sisil, namun sang putri tidak menjawab nya. Dea masih menangis dalam pelukan Sisil, hingga Sisil mengalihkan pandangan ke arah Mae dan Nina.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama Dea?" tanya Sisil kepada mae.


"kita gak tau Bun, tadi Dea masuk kelas udah dalam keadaan nangis dan tubuhnya bergetar hebat" jawab Mae.


"Apa Dea punya musuh di kampus?" tanya Sisil lagi.


"Setau Mae nggak ada Bun" jawab Mae.


Ya karena selama ini yang Mae tahu hampir seluruh mahasiswa di universitas A sangat menyukai dan mengagumi Dea, dan tidak ada yang menyenggol atau mencari masalah kepadanya.


"Kakak kenapa, cerita nak jangan bikin bunda panik" ucap Sisil lembut.


Karena Sisil tahu Dea tidak pernah ketakutan seperti ini jika hanya bertengkar dengan teman nya saja, ia sangat tahu sifat Dea yang tegar. namun satu yang menjadi kelemahan nya selama ini yaitu jika di sentuh secara paksa oleh lawan jenisnya, atau tindak pelecehan lainnya.


Selama ini Dea tidak pernah dekat dengan lelaki manapun Selin ayah dan adik nya Dio, dari sekolah hingga saat ini hanya Rio dan Dio lah yang bisa menyentuh Dea di tambah Justin yang saat ini menjadi suaminya. di sentuh oleh Justin aja yang notabene nya suami dea susah nya minta ampun apalagi di sentuh oleh cowok lain yang bukan siapa-siapa.


"Kakak bertengkar dengan Abang?" tanya Sisil.


Dea pun menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia ingin cerita kepada sang bunda namun ia takut akan menyinggung Nina. Dea tidak ingin persahabatan nya hancur hanya karena dirinya, selama ini yang Dea tahu Nina sangat dekat dengan Dodi, bahkan Nina selalu memuji dan mengatakan bahwa Dodi itu baik.


"Mei hubungi Abang, dan bilang kakak ada disini" ucap Sisil.


Sebenarnya Mae dan Nina merasa bingung saat Sisil menyebutkan kata Abang, siapa yang di maksud dengan kata Abang? apakah Dio. tapikan Dio sedang tidak berada disini.


Setelah menghubungi Justin dan Rio Mei kembali ke ruang tamu, selama 45 menit menunggu Rio dan Justin pun tiba. keduanya memutuskan untuk pulang lebih cepat saat mendengar kabar dari Mei yang mengatakan Dea pulang ke rumah dengan keadaan menangis dan ketakutan.


"Assalamualaikum" ucap keduanya bersamaan.


"Walaikumsalam" jawab Sisil dan yang lainnya, Mae dan Nina terpaku melihat ketampanan Justin yang aduhai hingga membuat mulut keduanya terbuka.



Ini ekspresi Justin saat melihat Dea dalam pelukan Sisil, Justin merasa khawatir dengan keadaan sang istri yang seperti itu.


"Wahh gantengnya" ceplos mae.


"Iya ganteng ya, tau aja kalo sama yang ganteng" goda Rio, membuat Mei dan Sisil tersenyum.


"Eh, anu hehehe maaf ayah" ucap Mae membuat Rio tersenyum.


Justin mendekati Dea dan duduk di sampingnya, ia memegang tangan Dea dan mengelus nya.


"Ay kamu kenapa hey?" tanya Justin lembut, membuat mata Mei dan Nina membulat sempurna. namun keduanya berfikir mungkin Justin kekasih atau tunangan nya Dea, dan tidak ada yang sampai berfikir jika Justin suami Dea.


Dea semakin mengeratkan pelukannya kepada Sisil dan menenggelamkan wajahnya, di dada sang bunda.


"Sayang kenapa?" tanya Justin lagi.


"Hiks...hiks...ak..aku takut Abang" jawab Dea pelan. mendengar jawaban sang putri Rio pun menarik nafasnya panjang.


"Feeling ayah gak enak nih" ucap Rio tiba-tiba, membuat semuanya menatap ke arah Rio.


"Kenapa begitu?" tanya Sisil heran.


"Kamu inget Bun emang pernah Dea ketakutan sampe segitunya? nggak kan. kalo cuma berantem sama teman atau sama seniornya dia gak bakal ketakutan begitu. sama mantannya Si Abang aja yang umurnya lebih tua dia berani lawan, di gam*Ar malah. lain lagi hal nya kalo menyangkut kelemahan Dea" jawab Rio.


"Maksud ayah?" kali ini justin yang bertanya.


"Dea itu paling takut kalo di pegang-pegang sama orang bang, apalagi kalo di sentuh paksa atau masuk dalam kategori pelecehan. dari jaman sekolah dia gak pernah deket sama laki-laki selain Dio, maka dari itu Dio selalu mengawasi Dea dan menjaga Dea dari jauh" jawab Rio.


Mendengar perkataan ayah mertuanya airmuka Justin berubah, ia menarik Dea dalam pelukan Sisil agar masuk kedalam pelukannya. sementara kedua teman Dea sudah pamit pulang setelah mendengar pertanyaan Rio.


Mae merasa tidak tega melihat Dea, dalam hatinya ia tahu siapa yang membuat Dea menangis hingga ketakutan. namun karena belum ada bukti Mae tidak bisa menuduhnya lebih dulu, ia akan mencari tahu dan setelah itu ia pasti akan memberikan pelajarannya.


.


.


.


.


.


***jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜‰


A**: gue sebel Uun😭


N: sebel ngapa Lo😁


A: udah nulis banyak eh ke apus😭


N: yaaa sue banget Lo Thor🀣


A: iya kesel tapi gak emosi, gue langsung nulis lagi😊


N: uwuuuuuuuu terbaik πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


A: vote nya Uun biar gue semangat 😁


N: siap dah ThorπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


A: terbaik emangπŸ˜‚


N: πŸ€—πŸ€—πŸ€—*