
hari-hari cepat berlalu kini Dea sudah menginjak kelas dua SMA, dan Sisil pun akan sebentar lagi akan melahirkan. saat ini Sisil sedang teriak-teriak menahan sakit di perut nya karena sang anak sudah tidak sabar ingin keluar.
"huh huh kakaaaaaak" teriak nya menahan sakit.
Mei yang mendengar teriakan di bawah pun yang posisi nya di ruang keluarga bergegas turun.
"bunda.... bunda kenapa" tanya Mei
"Mei sakit hiks...hiks" jawab Sisil
"apanya yang sakit bunda?" tanya nya lagi
"perut bunda sakit Mei" jawab Sisil, tak lama kemudian Dea datang menghampiri keduanya, dan kaget melihat sang bunda yang kesakitan.
"lah bunda kenapa?" tanya Dea panik
"bunda sakit perut katanya" jawab Mei
"yaudah kita ke kamar mandi ayo" ucap Dea polos.
"kok kamar mandi si kak" ucap Sisil yang masih meringis.
"ya kan perut bunda sakit" ujar Dea
"kakak yaampun bunda bukan pengen ke kamar mandi, ini Adek kamu udah maksa minta keluar" ucap Sisil dengan nafas yang memburu.
"apa?" teriak Mei dan Dea barengan.
"kenapa teriak, kuping bunda sakit" ucap Sisil geram
"ma..maaf bunda aku kaget" ucap Dea.
"bunda jangan tarik baju Mei apa nanti sobek" ucap Mei
"Mei telpon ayah Mei suru pulang, terus kita minta tolong mami alin aja cepet Mei" teriak Dea. Mei pun berlari keluar rumah dan ke rumah alin.
"mami...mami tolong...mami tolong" teriak nya di gerbang rumah alin.
"ini orang pada kemana dah" Grutu Mei, sesaat ia terdiam dan menepuk dahinya sendiri.
"Mei bodoh banget kalo lagi kaya gini. mana bakal denger yang punya rumah, orang rumah nya udah kaya istana gini. lagian kenapa teriak dah orang ada bel juga" gerutu nya terus menekan bel. hingga akhirnya gerbang pun terbuka.
"ada apa Mei" tanya Julian namun Mei menerobos masuk.
"bocah tengik! untung cakep Lo kalo jelek udah due tendang" Grutu Julian
Mei menemui alin dan Justin yang sedang bersantai di ruang tengah. ia menarik tangan alin begitu saja.
"loh Mei kamu kenapa?" tanya alin bingung.
"mami tolong mi hosh hosh" ucap nya ngos-ngosan.
"iya tolong kenapa" tanya alin melihat Julian yang baru saja muncul.
"mi tolong i...itu kak dea mau melahirkan" jawab Mei cepat, tanpa sadar ucapan nya membuat semua orang terkejut begitu pun dirinya.
"apa?" teriak alin, Justin dan Julian bersamaan. membuat Mei berjingkat kaget.
"kenapa kalian teriak bikin jantung ku mau copot saja" ucap Mei kesal.
"ma...maaf sayang mami terkejut" ucap mami alin
"Dea mau melahirkan?" tanya Julian
"eh kok kak Dea. salah maksudnya bunda kak Dea" ucap Mei dan membuat semuanya berlari ke rumah Sisil.
...
di kediaman Sisil Dea terus menenangkan sang bunda, baju Dea sudah berantakan karena di tarik-tarik oleh Sisil.
"bunda jangan tarik baju kakak dong" ucap Dea karena saat ini ia menggunakan baju pas tubuh hingga membuat bahu putih mulus dan sedikit bagian perut nya keliatan.
"Dea sakit ini hiks...hiks" ujar Sisil
tak lama meitha, alin dan kedua putranya pun tiba. Mei yang melihat Dea kusut berantakan pun menahan tawanya, karena ini perdana penampilan Dea yang berantakan terlihat oleh dua cowok ganteng. Karena biasanya Dea selalu tampil cantik dan memukau meskipun sederhana.
melihat ada Justin dan Julian Dea pun semakin tidak enak, karena saat ini ia mengenakan celana hotpants itulah Dea jika di dalam rumah.
"bunda baju Dea nanti sobek" lirih nya yang terus merapikan baju.
melihat Dea dengan cepat alin meminta Julian dan Justin membantu Sisil ke rumah sakit, hari ini Dio sedang menemani sang ayah ke luar kota. dan akan kembali paling cepat malam dan paling lambat besok malam.
Dea pun bergegas masuk ke dalam mobil Justin bersama alin, sementara Mei di mobil lain bersama Julian. di dalam mobil Dea menelpon sang ayah karena saat ini bundanya sudah sedikit tenang menahan sakit dan tidak meraung-raung seperti tadi. panggilan video pun terhubung.
***Rio**: ya kak Gimana bunda? (panik)
Dea: ini ada di belakang aku sama mami alin
(Dea duduk di samping Justin, dan mengarahkan ponselnya ke wajah sang bunda)
Rio: sayang kuat ya Bun, maaf karena saat seperti ini aku tidak ada di samping kamu (sedih)
Rio: apa aku pulang aja? aku gak tega kalo kamu lahiran sendiri.
Sisil: nggak usah yah gak apa-apa, aku di temani sama mbak alin kok.
Rio: maaf aku benar-benar minta maaf (meneteskan air mata)
ya semenjak kepergian gio Rio jadi semakin sibuk, karena ia harus kesana kemari belum lagi urusan perusahaan keluarga nya, perusahaan ayah Sisil dan sekarang sedikit banyak nya ia harus memantau perusahaan gio yang nantinya menjadi milik meitha.
Sisil: yah kamu baik-baik ya aku sayang kamu, jangan sedih aku gak apa-apa kok.
Rio: iya Bun kamu juga ya sayang aku cinta kamu, sumpah demi apapun itu aku sangat mencintaimu.
Sisil: yasudah telpon nya aku tutup dulu*.
panggilan pun terputus, mendengar percakapan ayah dan bunda nya Dea meneteskan air mata. sungguh ia kagum kepada ayah nya laki-laki pertama yang membuat dirinya jatuh cinta. ayah yang selalu menjaga nya memberikan kebahagiaan untuk nya. bahkan Dea ingin memiliki suami seperti sang ayah.
omong-omong penampilan Dea kerumah sakit masih sama seperti tadi saat ia di unyeng-unyeng oleh bunda nya, celana pendek hotpants dan kaos putih polos yang agak longgar namun pas Bandan panjangnya.
bahkan sesekali Justin melirik Dea, ia kagum dengan postur tubuh Dea yang bongsor bahkan dengan penampilan seperti saat ini ia masih terlihat sangat cantik. tanpa sadar sedal yang di gunakan Dea adalah sendal jepit.
merekapun tiba di rumah sakit, Sisil langsung dimasukan ke ruang bersalin di temani oleh mami alin. Dea terus mondar-mandir dan tingkah menjadi pusat perhatian yang lewat.
Mei dan Julian tiba di rumah sakit, Mei langsung memeluk Dea yang sedang menangis.
"kakak tenanglah bunda tidak akan kenapa-napa" ucap Mei
"tapi aku takut mei" lirih nya
Julian menghampiri Dea dan terpaku melihat penampilan Dea yang dibilang cukup seksi, tubuh nya yang bohay semakin menunjukkan kecantikan nya.
Justin sadar jika Dea saat ini tengah menjadi pusat perhatian para lelaki, setiap yang lewat selalu menatap Dea dengan tatapan memangsa. Justin melepaskan switer nya dan menarik Dea dari pelukan Mei hal itu membuat Julian, Mei juga Dea kaget.
Justin merangkul pinggang Dea dan mengikatkan switer nya di pinggang Dea agar dapat sedikit menutupi paha nya. tea terkagum dengan tindakan Justin ia tidak menyangka jika Justin akan melakukan hal itu kepadanya. begitupun Julian sebagai adik Justin baru kali ini ia melihat sang Abang yang memberikan perhatian kepada seorang wanita.
"duduk lah" ucap Justin dan Dea pun mengikuti nya.
Mei baru tersadar melihat penampilan kakak nya, pantas saja Justin melakukan itu Mei pun akan melakukan hal yang sama jika ia sadar akan pakaian Dea sedari tadi.
"kakak apa kau gila" tanya Mei menatap Dea.
"kenapa kau mengataiku gila" jawab Dea.
"hilih lihat lah pakaian mu?" ucap Mei menunjuk tubuh Dea. Dea pun terbelalak melihat pakaian nya.
"Mei aku lupa mengganti bajuku" lirihnya.
"paha mu sudah tertutup, tapi bahu mu terlihat" ucap Mei menepuk dahinya nya.
Dea pun semakin menundukan kepalanya, ia merasa tidak enak karena selama ini ia tidak pernah berpenampilan seperti ini jika keluar rumah, sekalipun ia memakai hotpants saat olahraga tetap saja ia masih menggunakan legging di dalam nya.
bagaimana jika ayah nya tahu mengenai pakaiannya saat ini, tapi ini semua karena ia panik dan buru-buru.
Justin yang melihat itupun kagum, dan yakin jika selama ini Dea sosok wanita yang selalu di ceritakan oleh mami nya itu wanita baik-baik. namun ia masih belum menerima jika Dea akan menjadi pasangan nya nanti.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***jangan lupa like komen dan vote nya ππ
*terimakasih untuk kalian yang selalu mendukung karya saya, dan selalu menunggu update terbaru nya. saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih ππ Tanpa kalian saya tidak akan sampai ke episode ini dan terimakasih atas semangat yang kalian berikan untuk saya π*
(karena hari raya idul Fitri telah tiba saya mengucapkan minal aidzin walfaidzinπ mohon maaf lahir dan batin, maaf kalau saya ada salah kepada para readers saya minta maaf yang sebesar-besarnya πππ**)
A: Mun aku minta maaf ya suka ledekin kamohππ
N: iya Thor asal up yg banyak ya Thor π
A: iya Mun aku usahakan yaπ
N: iya Thor maaciw π
A: sama-sama Maemunah π*