
waktu begitu cepat berlalu hingga kini saatnya Dea kenaikan kelas, dan saat ini pula Sisil dan Rio akan menampakkan dirinya sebagai orang tua Dea dan Dio. mereka telah sepakat akan menunjukkan anak-anak nya ke publik.
saat ini Dea dan Dio sedang berada di kelas nya, jika biasanya yang menghadiri acara kenaikan kelas asisten Rio maka hari ini Sisil dan Rio lah yang menghadiri. namun ternyata tidak sesuai dengan harapan karena saat ini Rio dan sisil tidak jadi mempublikasikan anak-anaknya.
fikirnya mungkin nanti saat wisuda kelas tiga, Dea dan Dio pun menyetujui nya, Sisil dan Rio pun masuk ke ruang guru untuk mengambil raport milik kedua anak nya. namun setelah itu keduanya langsung pergi karena ada urusan penting.
"guys Dea langsung pulang ya soalnya badan Dea gak enak banget" ijin Dea kepada dua sahabatnya.
"emarkonah Lo sakit?" tanya Mae memegang kening Dea.
"gak tau ini lemes banget" jawab nya.
di belakang ada mami alin yang menghampiri Dea bersama dua putranya yang baru saja pulang, karena mengetahui sisil dan Rio ada urusan maka mami alin ingin menggantikan nya.
"Dea sayang" panggil mami alin dan Dea pun menoleh lalu tersenyum.
namun seketika kepalanya terasa berat pandangan nya kabur dan hitam.
bruugghh.... Dea terjatuh tidak sadarkan diri dan itu membuat sahabat juga mami alin terkejut.
"markonah kenapa" teriak Mae panik.
"Dea saroh Dea" ujar Nina.
"eiya lupa tukiem bangun apa" ucapnya membuat Nina kesal.
"Dea yaampun saroooooooooohhhhh" teriak Nina.
"iyaiya Dea bangun" ucap Mae panik.
"Dea" teriak mami alin mendekat.
saat sudah di dekat Dea mami alin memeluk tubuh Dea yang dirasa kurang sehat.
"Dea bangun sayang ini mami" ucap mami alin khawatir.
"Dea nak ayo bangun" tambah nya lagi membuat Nina dan Mae saling pandang.
"mi sebaiknya sekarang Dea kita bawa pulang dulu" ucap Justin yang mengambil alih tubuh Dea di pelukan mami alin.
"iya sayang ayo" ucap mami alin. dan merekapun pergi dari sekolah Dea.
sementara Mae dan Nina masih bingung apa yang terjadi, mereka hanya bengong hingga Mae memecah keheningan.
"jamileh Gimana kalo kita ikutin mereka" ajak Mae.
"buat apa?" tanya Nina
"ini tas si markonah ketinggalan. sekalian aja kita cari tau rumah itu si markonah gimana?" ajak nya lagi yang di angguki oleh Nina.
keduanya pun pergi menggunakan mobil milik Mae..
...
setelah tiba di depan Mension mewah bak istana Mae dan Nina saling pandang, karena mereka bingung Dea memiliki rumah di dalam komplek namun di kawasan elite khusus Mension-mension mewah. disana ada dua Mension paling mewah yaitu milik Rio juga milik mami alin orang tua Justin.
"esaroh ini rumah nya yang mana?" tanya Nina
"nggak tau na ini rumah apa istana ya" jawab Mae.
namun seketika Mae melihat mobil yang diikutinya, yaitu mobil Justin di dalam gerbang rumah Justin.
"jamileh itukan mobil yang dari tadi kita ikuti ya" tanya Mae.
"iya bener coba aja kita kesana" jawab Nina.
hingga akhirnya merekapun turun dari mobil menghampiri penjaga.
"permisi pak kami mau tanya. apa benar ini rumah Dea" tanya Nina.
"maaf adek-adek ini siapa ya?" tanya penjaga itu.
"oh kami teman nya Dea pak" jawab Mae.
"oh begitu. itu dek rumah nona Dea yang di sebrang itu" ucap penjaga menggerakkan tangannya menunjuk rumah Rio. Mae dan Nina pun mengikuti arah tangan sang penjaga.
hingga seketika Nina dan Mae membuka mulutnya karena terkejut, apakah benar istana kedua itu tempat tinggal Dea setelah istana yang saat ini ada di hadapannya.
tak lama Nina dan Mae pun di kejutkan oleh mobil Dio yang masuk ke pekarangan rumah Rio. sungguh hari ini benar-benar banyak kejutan.
"saroh kaya nya kita salah alamat" ucap Nina
"nggak gue yakin nggak. ini pasti ada yang di umpetin dari kita ini" ujar Mae ala-ala detektif.
saroh dan Mae pun kembali bertanya kepada penjaga, karena mereka merasa penasaran tingkat Nasional.
"pak Mon maap ini ya, bukannya apa-apa bapak gak salah itu rumah Dea?" tanya Mae.
"iya non itu memang rumah nona Dea anak tuan muda Rio kan" jawab nya kembali membuat dua gadis di hadapannya terkejut.
"a... pak Mon maap lagi nih tapi tadi kita lihat Dea di bawa sama mobil itu" ucap saroh menunjuk mobil Justin.
"oh itu mobil tuan muda Justin nona, memang tadi tuan muda membawa nona Dea kemari" ujarnya.
"ya kan tadi nona nanya rumah non Dea" jawab nya.
"yaudah saya mau ketemu Dea pak. percuma saya ke rumah nya kalo Dea nya ada disini" ucap mae memelas.
si penjaga pun meminta Nina dan Mae menunggu, tak lama iapun kembali dan mempersilahkan kedua gadis itu masuk.
setelah berada di dalam rumah Mae benar-benar takjub, bahkan rumah yang ia tempati pun tidak semewah rumah ini.
Mae dan Nina di antar ke kamar yang Dea tempati di rumah mami alin, saat tiba di kamar terdapat Dea yang sedang duduk di atas tempat tidur, juga ada mami, alin, Julian dan Justin.
"hey kemari nak" panggil mami alin kepada Nina dan Mae.
Dea yang melihat itu langsung salah tingkah. ia bingung harus menjelaskan apa kepada kedua temannya itu.
"de Lo gak apa-apa kan?" tanya Nina panik.
"nggak ko gak apa-apa na" jawab Dea.
"Lo kenapa si de bisa pingsan gitu? kurang makan Lo?" tanya Mae. ya Mae memang sosok yang ceplas-ceplos jadi Mon di maklum.
"nggak lah masa gue kurang makan" jawab Dea.
saat sedang berbincang dan tertawa datang lah dua orang lelaki tampan. bertubuh tinggi putih juga wanita cantik bak seorang model siapa lagi kalo bukan Dio, Rio dan juga Sisil yang merasa khawatir kepada Dea. tadi Sisil sedang berada di rumah papa nya karena urusan penting, namun saat di telpon oleh mami alin mengenai Dea Sisil dan Rio pun bergegas pulang hingga Sisil menghubungi Dio.
"apa kita sedang di kerajaan? kenapa banyak pangeran tampan seperti ini" ucap Mae.
"Mae itukan tuan muda Rio" ujar Nina dan Mae pun tersadar. ia dan Nina memutuskan untuk tidak banyak bertanya saat ini, iya lebih memilih menonton saja biar nanti Dea yang menjelaskan begitu fikir nya.
"sayang kamu tidak apa-apa" tanya Sisil memeluk Dea dan mengecup kening dan pipi nya.
"iya aku tidak apa-apa" jawab dea, hatinya Dea merutuki dirinya sendiri kenapa bisa sampai terjadi seperti ini yang membuat nya mempunyai hutang penjelasan.
"sayang ayah sangat khawatir kepadamu nak" ucap Rio yang menciumi wajah sang putri.
"ayah aku tidak apa-apa" jawab nya lagi.
sementara kedua temannya terbelalak mendengar perkataan ayah antara Dea dan Rio.
"kenapa bisa pingsan si? Lo gak makan emang" tanya Dio.
"Dio gak boleh gitu nak. kakak kamu ini lagi sakit" ucap Sisil.
"Lo jadi adik gak ada ahlak emang" dengus Dea membuat Dio tertawa kecil.
"haha kakak ku tersayang kamu kenapa? kenapa bisa pingsan apa kamu kelaparan? atau kamu kurang minum?" ucap Dio memeluk Dea.
"akutuh tadi pusing kepalaku berat dan aku gak tau lagi" jawab Dea.
"mangkanya kepala itu pake mikir. bukan pake bawa batu" ledek Dio
"ayaaaah Dio nya jahat. durhaka Lo dasa gaada hati" rengek Dea.
"bang" ucap Rio Dio pun mengangkat tangan membentuk sebuah huruf V
Nina dan Mei yang melihat itu kepala nya jadi pusing. apa-apaan ini ayah? bunda? adik? apa maksudnya semua ini.
Nina dan Mae pun memutuskan untuk pamit kepada Dea juga orang yang berada di rumah mami alin.
"de kita pulang dulu ya. inget Lo hutang penjelasan sama kita" ucap Mae membuat Rio dan semuanya tersenyum.
setelah kepergian kedua teman Dea Rio pun membawa Dea pulang, meskipun dilarang oleh mami alin namun pada akhirnya mami alin mengijinkan Dea pulang dengan mata berkaca-kaca. karena ia sangat menyayangi Dea.
.
.
.
.
.
.
.
***jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
N**: semangat beybeh😂
A: siap tukiem😂
N: ganti-ganti Mulu😒
A: gapapa lah😁
N: serah ah😌
**A: 😂😂😂***