
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, mereka tiba di kediaman Artadinata. Sisil memandang rumah mewahnya yang menjadi saksi dalam pernikahan nya.
Saat tiba Sisil melihat Mei yang sudah berdiri di teras rumah nya, wajah Mei terlihat cantik dan semakin berisi.
Dena yang melihat kakak ipar nya itu langsung berlari memeluk Mei, karena Mei lah yang menjadi tempat nya bercerita.
"Kakak" pekik Dena.
"Hmmmmm, sayang tubuh mu jadi besar begini. bagaimana apa kamu betah disana hingga tidak ingin kembali" tanya mei.
"Ya, aku sangat betah disana" kekeh nya.
"Bunda" panggil Mei, memeluk Sisil.
"Hai sayang, gimana kabar kamu hmmmm" tanya Sisil.
"Aku baik, bagaimana dengan bunda dan ayah" balas Mei.
"Tentu saja kami baik nak" ucap Sisil.
"Bun kau tau aku sangat merindukanmu" ucap Mei.
"Begitupun dengan bunda, tanya adik mu itu kenapa dia tidak ingin kembali kesini" ucap Sisil, yang sudah duduk di ruang keluarga.
"Bun ayolah, tidak usah mempermasalahkan hal itu. lebih baik sekarang kita pergi ke rumah kak Dea, aku sudah merindukan keponakan ku itu" ucap Dena.
"Hah, benar sekali. Mei Abang dimana" tanya Sisil.
"Abang pergi ke negara C, karena tahu bunda akan pulang jadi aku tinggal di rumah gak ke rumah kak Dea" jawab Mei.
"Baiklah ayo kita ke rumah Dea" ucap Sisil.
Sisil Dena dan Mei pun berjalan ke rumah Dea, Sisil dan Dena melupakan rasa lelah nya. ia ingin cepat menemui cucu kesayangan nya itu.
"Assalamualaikum" ucap ketiga wanita yang bertamu ke rumah Dea.
"Walaikumsalam" jawab Dea.
"Bundaaaa" pekik nya, ia memeluk Sisil dengan erat. air mata nya menetes membuat Dena ikut menangis.
"Ini tolong dong jangan nangis-nangis Bombay, Dena kan ikutan Melo" ujar nya membuat Dea tersenyum.
"Waaahhh, adik bontotnya kakak makin cantik aja" ucap Dea memeluk Dena.
"Inilah yang di katakan didikan opa, dia tumbuh menjadi paling beda di antara kamu dan Dio" ucap Sisil.
"Badan Dena bongsor banget, cepet tinggi juga lagi" ucap Dea.
"Lah gimana nggak bongsor coba, kerja nya makan tidur olah raga doang" kekeh Sisil.
"Udah ih ngapa jadi ngomongin Dena dah" kesal nya.
"Lagian kamu kakak kamu aja nanti kalah de tinggi nya" ucap Mae, yang tiba-tiba datang.
"Ya biarin, berdoa aja semoga jodoh nya Dena lebih tinggi dari Dena oke" celoteh nya.
"Amin" jawab semua orang.
"Baby ai sama baby El mana?" tanya Dena.
"Oh, ada tuh di dalam lagi di jagain ana" jawab Dea.
"Ooh, kak bawa sini dong" ucap Dena.
"Ana, tolong ajak Aiden kesini na" panggil Dea, tak lama ana pun mengajak Aiden ke ruang keluarga.
"Iya kak" jawab nya, ana terdiam saat melihat Dena. sementara Dena tersenyum manis.
"Hay Mbak ana" ucap Dena.
"Eh, iya non" balas ana.
"Panggil Dena aja nggak usah pake non" ujar nya.
"Hmmmmm, baiklah" ucap ana.
"Ada kok Bun, lagi di kamar nya" ucap Dea, ya memang semalam Carl pulang mumpung lagi libur ia memilih untuk kembali.
Deg.... mendengar Carl ada di rumah Dena tersenyum masam, ia tidak tahu bagaimana Carl akan memperlakukan nya.
"Na panggilin Abang na" ujar Dea, saat ana akan berjalan ke kamar Carl. namun Carl sudah lebih dulu menuruni anak tangga, melihat Carl sudah keluar dari kamar nya ana pun terdiam.
"Bunda" ucap Carl saat melihat Sisil.
"Hay sayang, yaampun cucuk nya bunda makin ganteng aja" goda Sisil.
"Carl kangen bunda" lirih nya memeluk Sisil
"Yang di kangenin bunda aja ni, gadis yang di sebelah bunda nggak" ledek mei.
"Eh" ucap Carl, ia menatap Dena. gadis kecil bawel nya itu sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita.
"Hai, apa kabar bang" ucap Dena.
"Baik, kamu apa kabar" tanya Carl.
"Baik" jawab nya.
Carl terus memandangi Dena, lalu berganti ia melihat ana yang duduk di samping Dea dengan memangku Aiden.
Dua gadis cantik yang selalu menghibur dirinya, Carl tersenyum manis kepada Dena yang semakin menggemaskan namun gadis itu malah cuek seakan tidak melihat senyum Carl.
Bukan apa-apa Dena hanya tidak ingin terlalu dalam untuk menyukai laki-laki di hadapan nya itu, ia hanya tersenyum seperlunya saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading ππ€
Carl Yudistira Abrisham
Clara Ariana (ana)
***A**: gue nggak tau lagi deh harus gimana πͺ ini cakep-cakep banget π
N: Dena kan bukan buat Carl terus buat siapa π
A: tau dah gue Masi mikir Uun π
N: cari yg cocok ya Thorπ
A: iyalah Dena nya aja cakep begitu π
N: haihhhπ
A: πππ*