Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 225


Setelah mendengar kabar dari Justin atas kesadaran Dea, Sisil, Rio, Mei dan Dio pun bergegas menuju rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit Sisil langsung masuk ke dalam kamar rawat Dea, dilihat nya Dea yang sedang duduk dan berada dalam pelukan mami alin.


Sisil meneteskan air matanya haru, karena putrinya sudah bisa tersenyum lagi di hadapannya saat ini.


"Kak" panggil Sisil, mendengar ada ang memanggilnya Dea pun menoleh.


Dea meneteskan air matanya saat melihat sosok sang bunda, wanita kuat yang selama ini selalu menjaga nya. bahkan wanita yang sangat bahagia saat mengetahui kehamilan nya.


Namun kali ini Dea merasa sudah mengecewakan bundanya, Dea mematung memandangi sisil. ia takut jika Sisil dan Rio akan memarahinya.


Sisil yang melihat reaksi Dea pun mengerti dengan perasaan putrinya, ia tidak ingin membuat Dea tertekan atau bersedih. tanpa menunggu lama Sisil berjalan ke arah Dea dan menarik putrinya kedalam pelukannya hingga tangis Dea pecah.


"Hiks...hiks... maafin Dea bunda maaf" ucap Dea. mendengar ucapan Dea Sisil pun menggelengkan kepalanya. ia menciumi puncak kepala Dea hingga ke wajah putrinya yang masih terlihat pucat.


"Nggak. kamu gak salah" ucap Sisil kembali memeluk Dea penuh cinta.


Rio yang melihat Dea pun menghampiri keduanya lalu ikut memeluk Dea, yang masih berada dalam pelukan Sisil.


"Maafin ayah, karena ayah gak bisa jaga kamu. maafin ayah yang udah bikin anak ayah celaka" lirih Rio yang dibalas gelengan kepala.


"Nggak, hiks... ayah gak salah ini salah aku" balas Dea.


"Sudah tidak usah dibahas, anggap saja itu pelajaran untu kita" ucap mami alin menengahi. karena ia tidak ingin Dea merasa bersedih.


"Iya bener, itu artinya kita harus lebih hati-hati lagi buat jaga kamu" ucap Rio mencium kening Dea.


Dea melihat adik lelakinya ada disana pun tersenyum, Dea melepaskan pelukan Sisil dan Rio lalu merentangkan kedua tangannya. siapa yang sangka sosok Dio yang menakutkan akan tunduk di hadapan sang kakak.


Tanpa menunggu lama Dio menghambur ke dalam pelukan Dea, ia tidak bisa membayangkan jika ia kehilangan Dea yang selalu bersama dengannya. bahkan saat dalam kandungan pun keduanya selalu bersama.


Dio menangis dalam pelukan Dea, ia tidak ingi melihat kakak nya tidak berdaya lagi seperti kemarin. dan Dea malah berniat menggoda adik manja nya itu, Dio hanya akan menja Kepada Dea saja.


"Dih kok nangis si hahaha" ledek Dea membuat Dio menyembunyikan wajahnya di cerik leher Dea.


"Abang nangis haha Bun kenapa ini, masa cowok nangis ah malu gue punya adik cengeng" goda Dea lagi.


"Diem kek ah kak, lomah nyebelin" dengus Dio yang masih berada dalam pelukan sang kakak.


"Haha malu Lo Sam mei dihh, gue kalo jadi Mei ilfeel dah" ledek Dea.


"Kakak si*lan baru juga sadar Lo udah ngajak debat" kesal Dio melepaskan pelukannya.


"Yoooo gak ada ahlak emang Lo, ayah Dio nih kasar" adu Dea.


"Ngadu aja ketemi, mentang-mentang Lo yang paling di sayang" canda Dio.


"Yeee biarin emang Lo, anak bunda kebanyakan cewek. lah Lo anak siapa Lo" ledek Dea yang membuat semuanya tertawa, tingkah Dea dan Dio sangat membantu untuk merubah keadaan yang cukup menegangkan.


"Nyebelin Lo" ucap Dio berjalan kedekat Mei.


"Mei sini Mei, jangan deket Dio. masa nangis gimana mau lindungi kamu" ucap Dea membuat Dio mencebikan bibirnya.


Mei mendekat ke arah Dea dan memeluk Dea, Mei tersenyum melihat Dea yang ceria.


"Lo kak heran gue, masih sakit aja julidnya udah sempurna begitu. gimana kalo udah sembuh" cetus Dio.


Mereka terus saja tertawa, benar-benar terlihat keluarga bahagia. keadaan Dea yang membaik membuat semuanya senang.


...


Hingga tiba-tiba pintu kamar rawat Dea terbuka, dan nampaklah Nina disana sedang berdiri dan menatap Dea.


Dea yang melihat Nina tubuhnya merespon dengan cepat, tubuh Dea yang masih berada dalam pelukan Mei bergetar hebat sampai Mei pun merasakan nya.


Mei pamit melihat wajah Dea yang penuh keringat dingin, wajah yang pucat tubuh yang gemetar.


"Kakak kenapa" tanay Mei, membuat sea orang mengalihkan pandangannya kepada Dea.


Nina mencoba meraih tangan Dea namun dengan cepat Dea menepis nya, Dea menatap Nina penuh kekecewaan gara-gara Nina yang ngotot mendekatkan dirinya dengan Dodi Dea harus kehilangan janin dalam kandungannya.


"De" panggil nina.


"Mau apa Lo kesini?" tanya Dea sinis.


"De gue mau minta maaf" jawab Nina.


"Gue gak butuh maaf Lo na" ucap Dea dengan suara yang mulai meninggi.


"De sorry" lirih Nina.


"CK. sorry Lo bilang hah? Lo tau kata sorry yang keluar dari mulut Lo gak akan balikin anak gue na" bentak Dea.


"De ini salah Lo yang gak bilang kalo Lo udah nikah, kalo Lo bilang semua gak akan kaya gini" ucap Nina, membuat semua orang yang berada disana terkejut.


"Haha g*la, harus nya Lo mikir Nina kenapa gue ngehindar dari terong racun nya Lo itu. Mae aja ngerti kenapa Lo bo*oh banget sampe gak ngerti" teriak Dea, seketika mengingat Mae. meskipun belum ada yang memberi tahu samar-samar Dea mendengar suara tembakan pada kejadian itu, dan hatinya mengatakan jika itu mengenai Mae karena ia mendengar berita Julian dan bundanya memanggil Mae.


"De gue_" ucap Nina terpotong.


"Puas Lo puas hah! Lo udah bikin anak yang gak berdosa itu jadi korban. Lo udah bikin anak yang bahkan belum sempat melihat dunia ini kembali ke pencipta nya! bahkan gue na gue orang yang ngandung dia orang yang belum mengetahui jenis kelamin nya harus rela kehilangan dia yang belum terbentuk. dia yang masih segumpalan darah harus pergi karena kejadian gila itu" teriak Dea yang sudah mulai berontak.


"Dea!" teriak Nina.


"Pergi gue kecewa sama Lo na, Lo udah bikin anak gue pergi ninggalin gue bahkan Lo bikin Mae terluka. pergi gue benci Lo gue benci" teriak Dea.


Justin yang milihat Dea tidak merasa tenang pun mendekap tubuh istrinya, ia memeluk menenangkan Dea. sementara mami alin yang merasa geram kepada Nina ia menyeret Nina keluar.


"Tan" ucap Nina kepada mami alin.


"Pergi kamu dari sini, dan jangan temui menantu saya lagi" tegas mami alin.


"Tan denger aku dulu" mohon Nina.


"Denger apa? denger kamu jelek-jelekin menantu saya? heh asal kamu tahu saya kenal menantu say sejak dia masi bayi dan kamu. kamu tahu apa tentang menantu saya" ucap mami alin.


"Kamu harus nya bersyukur punya temen sebaik menantu saya, tapi apa balasan kamu malah membuat menantu saya menderita karena harus kehilangan calon anaknya. pergi kamu" tambah mami alin, lalu pergi meninggalkan Nina.


Nina benar-benar merasa sendiri, biasanya Dea yang akan selalu untuk dirinya tapi kalo ini bahkan Dea tidak ingin melihat wajahnya.


.


.


.


.


.


.


.


***happy reading ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—


A**: dikit dulu ya Uun๐Ÿ˜Š


N: ngapa emang Thor๐Ÿ™„


A: akhir-akhir ini gue sibuk tar gue tambah deh ya๐Ÿ˜


N: yaudah deh iya aja guemah biar cepet๐Ÿ˜‚


A: oke ๐Ÿค—*