
Pagi hari Dea menggeliatkan tubuhnya ia mengerjapkan matanya agar bisa mengimbangi cahaya yang masuk, Dea menoleh ke samping di lihatnya Justin yang masih terlelap dengan memeluk nya.
Dea tersenyum namun seketika senyumnya hilang saat mengingat Justin yang akan pergi, Dea takut jika berjauhan dengan Justin. namun ia tidak bisa egois untuk menahan Justin.
Dengan pelan Dea menurunkan tangan Justin yang berada di atas perut nya, iya menuruni ranjang dan bergegas membersihkan diri.
Setelah selesai mandi Dea segera memakai pakaiannya, dan kembali naik ke atas ranjang untuk membangunkan Justin.
"Abang bangun" bisik Dea di telinga Justin.
"Emmmhhh" lenguh Justin.
"Abang sayang bangun" ucap lagi dan mengecupi pipi Justin.
Merasa pipinya di sentuh oleh benda kenyal Justin pun membuka matanya dan tersenyum, Justin menatap Dea yang terlihat cantik namun lagi-lagi ia di alihkan dengan tangan Dea yang menutupi perutnya.
(ada apa? kenapa dia selalu meletakkan tangan nya di bagian perut. bahkan dia sendiri tidak sadar telah melakukannya) batin Justin.
"Ke kantor gak bang?" tanya Dea.
"Nggak aku mau habisin waktu sama kamu aja" jawab Justin.
"Really?" tanya Dea dengan mata berbinar.
"Ya, aku mau mandi dulu" jawab Justin, lalu mengecup pipi Dea sebelum berlalu ke kamar mandi.
Dea merasa sangat senang karena justin akan menghabiskan waktu bersama nya, namun seketika ia bingung. ada apa dengan dirinya kenapa sangat suka sekali berada di dekat dengan Justin, tidak seperti biasanya.
...
Di tempat lain tepatnya di rumah Rio terlihat seorang gadis yang tengah bersantai menikmati roti bakar nya, Mei Terlihat sangat menikmati hari-hari hingga tiba-tiba Rio yang di anggap ayah nya datang mencium pipi nya, begitupun dengan Sisil.
"Morning sayang" ucap Sisil dan Rio.
"Morning ayah, bunda" balas Mei.
"Bun ayah kangen Dea deh" ucap Rio tiba-tiba, dan hal itu membuat Sisil heran. pasalnya baru kali ini Rio berkata demikian, padahal ia yang sering bertemu dengan Dea jika sang putri ke kantor ayah nya.
"Tumben, kan ayah ketemu hampir tiap hari" ucap Sisil.
"Iya tapi kemarin Dea gak ke kantor Bun" ujar Rio.
"Suruh kakak kesini aja Bun" ucap Mei.
"Benar itu, telpon Bun terus tanya kakak kapan kasi ayah cucu" ucap Rio membuat Mei tersedak.
Uhukk...uhukkk... melihat Mei yang terbaik dengan sigap Sisil mengambil kan air minum.
"Pelan-pelan nak" ucap Sisil, di angguki oleh Mei.
"Kalo Dea kesini gimana sama Justin?" tanya Sisil.
"Besok Justin kan akan kembali ke negara X, berarti Dea akan di tinggal" ucap Rio, mendengar itu Sisil pun sangat bahagia. itu artinya ia bisa tinggal serumah Dengan sang putri meskipun sementara.
"Jemput Dea ayah, jemput jangan sampe nggak" ucap Sisil antusias.
"CK.ayah kira bunda gak kangen sama Dea" ledek Rio.
"Mana ada begitu, bunda itu kangen banget yah sama Dio apalagi sama Dea. cuma bunda gak mau ganggu anak-anaknya bunda karena bunda takut mereka kefikiran, apalagi Dea dia kan udah nikah jadi biarin dia mandiri" ucap Sisil.
Sungguh ia sangat merindukan putrinya itu, selama ini ia selalu mencurahkan rasa rindunya kepada meitha karena gadis itu memiliki wajah yang cukup mirip dengan Dea.
Dan Sisil bersyukur jika Mei benar-benar nurut dan bisa di didik layaknya seperti anak kandung, tadinya Sisil sempat takut jika Mei akan sulit di ajak curhat. namun nyatanya Mei sama seperti Dea yang selalu bercerita.
"Kalo kakak tinggal di sini selama Abang gak ada, bobok nya sama Mei" ucap Mei.
"Nggak kakak bobok sama bunda" ujar Sisil.
"Sama Mei bunda" rengek Mei.
"Sama bunda Mei" ucap Sisil.
"Lah gak bisa begitu" ucap Mei.
"Kakak bobok nya nanti sama Mei, gak boleh sama bunda karena bunda punya ayah" jelas Rio membuat Mei bersorak gembira.
...
Di suatu negara seorang laki-laki terlihat semakin tampan, ia terlihat jengkel dengan tingkah juna sahabat nya yang selalu menggoda wanita.
"Dio cantek" ucap Juna.
"Bodo amat Bambang" kesal Dio.
"Ngapa si Lo sensi amatan pms ya" tanya Juna.
"Bukan lagi udah kontraksi ini" jawab Dio jengkel.
"Lo kira bunting pake kontraksi segala" cetus Juna.
"Setan gue lah mulut-mulut gue, ngapa Lo hah?" kesal Dio.
"Serah Lo se*an serah" dumel Juna.
"Jangan ngajak gue bandel, inget anak bini gue dirumah udah nunggu" canda Dio.
"An*Ir gila kawin belum, kapal-kapal an belum dimana jadi nya itu anak" cetus Juna. sungguh ia merasa jengkel dengan sikap Dio yang terlalu setia, padahal tidak menjalin hubungan tapi ia benar-benar menepati janji kepada Mei untuk menjaga hati.
"Halah Masi mending gue ada yang nunggu, lah elo nemplok sana-sini cuma icip-icip doang dikira sayur asem" ledek Dio.
"Kam*Ret emang Lo ya, gak bisa apa hibur gue dikit" ucap Juna.
"Gak bisa guemah jujur si orang nya" balas Dio terkekeh geli.
"Haihhhh nasib nasib" gumam juna.
"Nasib gak bisa liat yang cakep dikit langsung ngiler" ledek Dio.
"Lo mah ya bener-bener dah, kasian apa sama gue yang tampan pari purna begini" ucap Juna memelas.
"Jangan nemplok sana-sini mangkanya, banyak cewek cantik yang mau sama Lo. tapi mereka takut duluan" ucap Dio.
"Takut kenapa?" tanya Juna.
"Takut Lo icip-icip doang haha" jawab Dio.
"Sumpah ya gue gak tau waktu bunda ngidam Lo dia makan apaan, ngapa sikap Lo berbanding terbalik sama si Dea" ucap Juna.
"Beda lah dia cewek sedangkan gue cowok" ujar Dio.
"Oiya" balas Juna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Keduanya berbincang dan bercanda, Dio selalu senang menggoda sahabat nya itu. sementara Juna yang menjadi sasaran dari ledekan Dio hanya bisa mendengus dan pasrah saja.
.
.
.
.
.
.
.
***Selamat membaca ππ€
A**: ini gue kasi part lebih, anggap aja ganti yang kemarin yaπ
N: kurang banyak lahπ
A: bersyukur apa Uun, tar gue tambah kalo sempet π
N: siap dahπ*