
Ia tidak pernah ingin ikut emosi karena itu akan memperkeruh suasana, jadi Dea hanya akan mengalah dan mengatakan iya saja dengan semua perkataan Justin.
Namun selama ini Justin tidak pernah bersikap yang akan menyakiti hati Dea, Justin selalu bisa menempatkan dirinya jika sedang bersama Dea.
Ia tidak ingin gadis kecil yang menjadi istri nya bahkan sedang mengandung anak nya itu bersedih, meskipun sikap Justin akan cuek jika sedang kelelahan.
Seperti saat ini pekerjaan di kantor yang menumpuk membuat Justin terlihat acuh kepada Dea, bahkan setelah makan malam Justin langsung menuju ruang kerja nya.
Dea yang melihat itu pun menatap sendu tubuh suaminya yang menjauh, meski sedih Dea tidak ingin menambah beban suaminya.
"Mom" panggil Carl, ia merasa tidak tega terhadap mommy nya itu.
"Tidak apa-apa, istirahat lah kamu pasti capek" ucap Dea.
"Mommy tidak istirahat?" tanya Carl.
"Mommy merapikan meja makan dulu, pergilah ke kamar mu" jawab Dea, namun bukannya pergi Carl justru membantu Dea merapikan meja makan dengan cepat.
Ia tau jika mommy nya sedang kelelahan apalagi sejak siang mommy nya sibuk di rumah Sisil, Carl tau jika Dea lelah mempersiapkan acara pertunangan uncle nya.
"Carl tidak perlu kamu yang melakukan nya" pekik mami alin yang kembali ke ruang makan.
"Tidak apa Oma, aku tidak ingin mommy melakukan ini" ucap Carl, membuat Dea merasa bersalah.
"Dea kamu kenapa? mami tidak pernah melihat mu seperti ini?" tanya mami alin.
"Dea tidak apa-apa mi, Dea permisi" ucap nya.
Dea berlalu menuju kamar nya ia menatap langit-langit kamar, Dea tidak tahu jika saat ini Justin tengah sibuk dengan urusan perusahaan nya.
Bahkan Justin tengan menyiapkan perusahaan yang akan di pimpin oleh putranya yang tak lain adalah Carl, namun ia melupakan jika istri membutuhkan kehangatan.
Dea mencoba untuk memejamkan matanya namun tidak bisa, karena ia lebih terbiasa tidur dalam pelukan Justin.
Dea keluar dari kamarnya dan menuju kamar tamu tempat dimana Dena tidur, karena akhir-akhir ini Dena sering menginap di rumah nya untuk menemani Mae.
Tentu saja gadis kecil itu dengan senang hati menyetujui nya, selain untuk menemani Mae ia juga bisa selalu melihat Abang ganteng nya yaitu Carl.
Dea masuk ke dalam kamar Dena dan berbaring di samping adik bontot nya, ie memeluk Dena seperti sedang memeluk anak nya.
"Gadis nya kakak sudah besar ternyata, selalu marah jika di Katai anak kecil. apapun yang terjadi kakak janji tidak akan membiarkan Dena menikah di usia muda seperti kakak-kakaknya Dena" lirih Dea, iya mengusap lembut kepala adik nya itu.
"Tumbuhlah menjadi gadis yang cantik dan ceria, perbaiki kesalahan kami yang menikah di usia muda hingga tidak dapat mengejar mimpi dan cita-cita kami. kakak dan kak Dio akan melakukan apapun untuk Dena, kami akan melakukan yang terbaik buat kamu. dan jika kamu di paksa menikah muda seperti kakak maka kakak akan menjadi orang pertama yang menentang nya itu semua untuk kebahagiaan kamu sayang, kakak hanya ingin kamu menikmati masa remaja kamu" tambah Dea, tanpa terasa air matanya menetes. Dea mengingat bagaimana dirinya menghabiskan masa remaja dalam sebuah ikatan pernikahan, ia tidak menyesali atau menyalahkan orang tuanya hanya saja ia merasa itu sebuah kesalahan.
Dea yang harusnya saat ini tengah menimba lebih banyak ilmu, dan berkeliling dunia untuk mencari jati dirinya malah berada di posisi sebagai ibu rumah tangga.
Memiliki banyak bisnis yang ia rintis membuat Dea sedikit lupa dengan usianya yang masih terbilang sangat muda, bahkan Dea sangat menikmati hari-hari nya dalam mengurus suami dan anak nya.
Namun dibalik sabar dan diam nya ia memiliki rasa sedih, hal itu tidak membuat Dea melupakan kewajiban nya.
Ia pun terlelap dengan memeluk Dena, sementara Justin baru kembali ke kamarnya dan mengernyit karena tidak menemukan Dea di kamar nya.
Justin berjalan mencari Dea di kamar mandi dan ruang tengah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kamar Dena.
Justin tersenyum melihat Dea yang meringkuk dengan Dena dalam pelukannya, dengan perlahan Justin mengangkat tubuh Dea. yang di angkat hanya menggeliat kecil namun tidak terbangun.
"Maaf, karena aku mengabaikan kamu dan anak kita. itu bukan karena aku tidak peduli sayang, aku sedang bekerja keras untuk melindungi kamu dan anak-anak kita nanti" lirih Justin.
"Aku tidak siap jika hal buruk akan terjadi, menjadi seorang pengusaha muda membuat ku memiliki banyak saingan. maka dari itu aku menutup rapat identitas mu, Carl dan calon anak kita nanti" tambah nya, Justin pun terlelap dengan memeluk istrinya.
...
Pagi hari Dea mengerjapkan matanya berkali-kali hingga ia menangkap wajah tampan suaminya, Dea tersenyum menyentuh wajah Justin hingga membuat nya terbangun.
"Good morning" ucap Justin dengan suara serak khas bangun tidur.
"Morning more" balas Dea, Justin menciumi wajah Dea dan membuat tawa Dea pecah.
Justin ingin mengganti tangis istri nya dengan tawa pagi ini, dan hal itu berhasil apalagi bukan hanya membuat Dea tertawa Justin Justin membuat Dea melenguh dan mengerang ni**at.
Ia yang tidak tahan dengan reaksi Dea langsung memulai olahraga nya, bahkan disaat mandipun Justin melakukan nya lagi hingga membuat Dea cemberut.
Sementara dirinya tertawa tanpa dosa, Dea yang melihat tingkah Justin mencebikan bibirnya.
"Suami gak ada ahlak" dengus Dea.
"Apa?!" pekik Dea.
"Jangan sok kesel gitu, orang kamu menikmati nya kok" ledek Justin membuat wajah Dea merona.
"Abang mah nyebelin" cebik Dea, ia segera mengambil pakaian untuk suaminya.
"Nyebelin tapi bikin nagih ya" canda nya.
"Tau ah" ucap Dea, buru-buru memakai pakaian nya dan berjalan ke kamar Carl putranya.
Di lihatnya Carl masih terlelap, Dea berjalan mendekati Carl dan menyentuh wajah putra nya dengan lembut.
"Bang bangun sayang" panggil Dea, namun Carl Anya menggeliat saja.
"Ck, anak ini tidak jauh dengan Daddy nya" dengus Dea.
"Bang, hey" panggil nya memainkan hidung Carl, hingga membuat Carl bangun dan merenggut.
Yaampun kenapa dua bayi gede nya itu menjadi sangat manja terhadap nya, Dea ingin sekali mencubit gemas pipi Carl.
"Lima menit lagi mom" ujar nya.
"Udah jam tujuh loh bang, yakin lima menit lagi" bohong Dea, padahal saat ini menunjukkan jam setengah enam kurang.
"Benarkah, haihhh kenapa tidak membangunkan dari tadi" dengus Carl, tanpa melihat jam ia berlalu ke kamar mandi dan hal itu membuat Dea tersenyum.
Dea segera mengambil pakaian yang akan di gunakan oleh putranya, setelah itu ia segera kembali ke kamar nya untuk mengurusi bayi tua nya itu sebelum berteriak membuat kehebohan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Daddy Justin
Mommy Dea
Bang Carl
***Happy reading 😊🤗
A**: buat yang NUnggu Mon maaf 😁
N: sedih gue nunggu molo 😭
A: maafkan aku Uun 😂
N: iya dah iya 😊*