
setibanya di kediaman Rio kanita bergegas masuk tanpa mengetuk pintu, ya karena memang keadaan pintu rumah yang terbuka.
saat masuk ia melihat Dea tengah tengkurap di karpet bulu ruang tengah dengan menatap laptop nya, Dea tengah menonton drama Korea kesukaan nya. ya meskipun saat ini sedang ada masalah Dea tidak ingin berlarut-larut justru ia harus menguatkan hatinya agar saat meitha tiba Dea bisa menghiburnya.
"Kaka Dea" ucap Arshal berhambur menaiki tubuh Dea yang tengah tengkurap.
"oh my oh my uhuk..uhukk" ucap Dea terkejut
"Kaka lagi apa" tanya bocah kecil itu
"hey boy tampan nya aku kau ada disini" ucap Dea lalu melihat kanita yang berjalan ke arah nya
"iya aka ladi apa" tanya nya dengan logat Cadell
"kakak lagi nonton sayang" jawab Dea saat Arshal sudah bangun dari tubuhnya.
"tonton apa itu" ucap Arshal menatap layar laptop.
"bukan apa-apa, kamu Masi kecil jadi jangan lihat" jawab Dea menutup laptopnya.
Dea menatap wajah kanita yang terlihat sendu, gadis itu paham jika anteh nya baru saja menangis.
"anteh are you ok" tanya Dea menatap kanita
"yes i'm ok" jawab kanita
"anteh bohong anteh nangis kan" ucap Dea lagi
"bunda kamu mana" tanya kanita
"bunda di kamar, dari tadi bunda nangis terus gak berenti apalagi saat ayah dan Dio pergi" jawab dea
"ayah sama Dio kemana?" tanya kanita
"nggak tau, tadi ayah bilang cuma mau ngurus buat pindahan nya meitha. dan ayah mau ketemu pengacara om gio yang ada di sini soalnya ayah yang mendapat hak asuh atas meitha" jawab Dea
"memang mama nya gio kenapa? sampe Mei harus sama bunda kamu" tanya kanita
"mami gio yang meminta gio menyerahkan hak asuh nya sama kami, karena mas Rio satu-satunya sepupu gio. dan mami gio tidak ingin jika keluarga Nita akan menuntut mami gio mengenai hak waris. jika meitha tinggal bersama mami gio pasti saudara angkat nya akan berfikir jika mami gio tidak mau menyerahkan warisannya kepada Mei" jawab Sisil yang entah sejak kapan mendengar percakapan Dea dan kanita.
"terus gimana" tanya kanita
"ya kami yang akan merawat meitha, mami gio pun akan memberikan hak waris nya kepada meitha nanti saat Mei sudah dewasa lebih tepatnya jika sudah menikah. karena mami gio tau jika dia memberikan nya sekarang maka bukan Mei yang akan menikmati itu melainkan keluarga nya Nita yang bisa dibilang seperti parasit" jawab Sisil.
jujur saja Sisil kecewa dengan keluarga Nita sahabatnya, cuma karena demi harta kekayaan dan jabatan mereka rela mencelakai orang sampai harus merenggut nyawanya. keluarga Nita memang sangat berbeda dengan keluarga Mela yang menerima apa adanya, bahkan keluarga Mela sangat menyayangi Rey sebagai seorang menantu.
tidak dengan keluarga Nita mereka baik hanya karena mereka tau jika gio orang yang kaya, maka dari itu gio mengajak Nita pinta ke luar negri namun siapa sangka disana ia malah bertemu saudara angkat nya yang lebih gila dari keluarga kandung nya.
bahkan mereka tidak memikirkan nasib meitha anak dari gio dan Nita, yang mereka fikirkan hanyalah mengambil alih kekayaan dan kekuasaan gio. padahal itu semua tidak akan mereka dapatkan apalagi dengan cara yang seperti saat ini. melenyapkan gio dan juga Nita.
mereka tidak tahu jika gio sepupu Rio yang mereka tau hanya gio adalah sahabat Rio, namun mereka sangat bodoh jika menilai akan mudah merebut semuanya. jika semua sudah di bawah naungan Rio jangan harap mereka akan dengan mudah mendapatkan nya! seperti saat ini hak asuh meitha dan diberikan kepada Rio maka secuil pun keluarga Nita tidak akan bisa menyentuh meitha.
"kakak tenang aja aku akan bantu kakak buat jaga Mei" ucap kanita
"kan apa Mei ada menelpon kamu" tanya Sisil
"iya tadi Mei nelpon aku kak, aku gak tega denger nya. bahkan dia meraung memanggil-manggil nama kakak" jawab kanita membuat Sisil meneteskan air matanya.
"bunda udah dong masa mau nangis terus? gak kasihan sama dedek nya?" ucao Dea saat melihat Sisil menangis.
"Kaka telpon Mei kak" pinta Sisil kepada Dea.
"nggak ah nanti bunda nangis lagi" ucap Dea
"bunda gak ngajarin kamu buat jadi orang yang tidak punya rasa peduli" telak Sisil membuat Dea bungkam.
sungguh bukan tidak peduli. dalam hatinya Dea pun ingin menangis bahkan Dea ingin mencabik-cabik wanita yang berusaha merebut om gio tersayang nya. namun apa daya saat melihat sang bunda yang begitu rapuh Dea hanya mencoba kuat, untuk menguatkan Sisil dan juga Mei nanti.
"yaudah aku telpon" jawab Dea pelan, ia paling takut jika sang bunda sudah mulai berbicara pedas ala-ala cabe rawit.
Tut...Tut... terhubung..
***meitha**: halo kak Dea (suara lemah)
Meitha: nggak ko kak ada apa?
Dea: bunda mau bicara Sama kamu (lirih)
meitha: hiks...hiks...bundaaa (meraung)
Sisil: Mei sayang iya nak ini bunda sayang.
meitha: aku takut huhu... aku ingin bunda
Sisil: sayang tenanglah hari ini ayah sudah dalam perjalanan menjemput kamu.
membuat Dea dan kanita terkejod bukan main.
meitha: aku nggak mau disini aku mau Sam bundaaa hiks...hiks...
hancur sudah hancur pendirian Dea saat mendengar meitha meraung, roboh sudah benteng untuk menahan air matanya agar tidak menetes. kanita mengusap punggung Dea dengan lembut.
sisil: ia sayang tenanglah ada bunda nak, Mei tenang ya nanti Mei akan tinggal bersama bunda mau?
meitha: iya bunda Mei ingin bunda... kalau Mei gak sama bunda Mei mau ikut mami sama Dady aja.
duarrrrr....bagai di sambar petir Sisil, Dea juga kanita berteriak *jangan* kepada Mei dan hal itu membuat Mei terkejut. gadis itu kaget karena orang yang menelpon nya tiba-tiba berteriak.
meitha: bunda kenapa teriak kuping Mei sakit (rengek nya)
Dea: bocah tengik sudah bikin orang kaget masih bisa mikirin kuping yang sakit.
meitha: kakak Mei lagi sedih kenapa kalian teriak? ini bukan ajang paduan suara (dengus nya)
Dea tersenyum karena gadis itu masih bisa bersikap konyol, Dea yakin luka ini tidak terlalu mendalam jika Mei tinggal di rumah nya.
Dea: lagian siapa yang lagi paduan suara gadis bod*h.
meitha: yasudah aku mau siap-siap packing baju-baju aku dulu*.
telpon pun terputus, Sisil merasa tenang karena Mei masih bisa berdebat dengan Dea. mungkin jika sudah tinggal di rumah nya Mei akan jauh lebih baik karena teman debatnya bukan hanya Dea ada juga dio.
Rio mengajak Dio untuk menemui pengacara gio sekalian minta antar ke bandara, namun gio tidak ingin ikut dengan sang ayah. ia lebih memilih nongkrong bersama teman-teman nya.
banyak yang menyukai Dio namun tidak seberuntung menjadi kekasihnya, meskipun banyak yang menyatakan cintanya namun Dio selalu menolak nya. namun jika ada wanita ABG memohon untuk menemaninya jalan dan berbelanja Dio dengan senang hati menerima nya. itung-itung menghibur diri sendiri fikirnya.
.
.
.
.
.
.
.
***jangan lupa like komen dan vote nya ππ
N**: Dio buat gue aja Thorπ
A: udah gue bilang nggak bolehπ¬
N: ngapasi emang?π
A: tar si Dea gak kembar lagi Maemunah π
N: pinjem bentar nanti di balikin lagiπ
A: Lo kira babang Dio gue barangπ
N: πππ*