
Malam hari nya Dio benar-benar tidak ingin melepaskan pelukannya dari Mei, hal itu membuat Mei terkikik geli.
"Abang jangan kaya gini, Mei nya engap" ujar Mei.
"Sayang Abang gak mau kamu kenapa-napa" ujar Dio.
"Abang plis, ini gerah serius" ujar Mei, karena akhir-akhir ini ia sering merasa kepanasan. bahkan AC di kamar nya pun tidak mempan untuk nya.
"Kenapa, kan AC nya nyala sayang" ujar Dio.
"Nggak tau Mei sering ngerasa panas gitu" ucap mei.
Dengan cepat Dio mengipasi tubuh istrinya agar tidak merasa gerah, bukan hanya itu Dio pun mengusap punggung Mei.
Dio pun berfikir dengan keanehan tubuh Mei yang selama ini ia perhatikan, perut Mei yang agak membesar. postur tubuh yang lebih berisi, Dio tersenyum dan mengecup kening dan pipi Mei yang mulai terlelap.
Setelah Mei benar-benar terlelap Dio ikut membaringkan tubuhnya, ia mengusap kepala Mei penuh cinta.
"Terimakasih sudah setia menunggu ku, terimakasih telah sabar dengan sikap dan keusilan ku. dan untuk saat ini terimakasih karena sudah Sudi untuk mengandung anakku menjadi ibu dari anak-anakku kelak" gumam nya, ia mengingat kembali masa remaja nya dulu. perdebatan nya dengan mei dan berakhir dengan mei yang melemparkan sepatu kesayangan milik nya, dan bahkan sampai saat ini Dio tidak menyangka jika Mei benar-benar menjadi pendamping kehidupan nya.
...
Pagi hari seperti biasa Mei selalu muntah-muntah karena rasa mual nya, Dio terbangun dan menyusul sang istri ke kamar mandi.
"Sayang" panggil Dio.
"Emmmhhh, hoeeeekkkk" sahut Mei.
"Kita ke rumah sakit oke" ajak nya.
"No" sahut Mei.
"Hei, kita harus memeriksa kandungan kamu honey. kamu mandi dan bersiap lah" ucap Dio, ia mengangkat tubuh Mei dan memasukkan ke dalam bathtub.
Mei yang melihat perlakuan Dio merasa terharu, pasalnya saat ini Dio lebih terlihat seperti seorang suami siaga.
Dio membiarkan Mei membersihkan diri, sementara dirinya menyiapkan pakaian yang akan di gunakan Mei.
Dio tidak lagi membiarkan istrinya itu memakai baju yang ketat, lebih tepatnya Mei akan selalu memakai dress selutut yang longgar.
Setelah selesai mandi Mei memakai pakaian nya, sementara Dio membersihkan dirinya. ia bersyukur karena Mei tidak aneh-aneh seperti Mae dan kakak nya.
Setelah selesai bersiap-siap Dio mengajak Mei untuk sarapan terlebih dahulu, disini lah drama yang sesungguhnya terjadi.
Ia yang tadi berbangga karena Mei tidak ingin yang aneh-aneh, namun sekarang gadis itu menjdi aneh saat makan.
Banyak makanan di meja makan, namun istri dari seorang Dio Artadinata itu justru meminta tumis kangkung dan ikang teri yang membuat Dio menganga.
"Sayang ini banyak makanan, kamu makan nasi goreng sama ayam aja ya" ucap Dio.
"Nggak aku gak mau Abang" tolak Mei.
"Ayolah, ini sudah siang kita akan ke rumah sakit" ucap Dio.
"Aku tidak mau makan" kesal Mei, dan ini berhasil membuat Dio kebingungan.
"Tapi aku cuma mau makan yang ingin aku makan" kekeh nya, membuat Dio menghela nafasnya.
"Gimana kalo gini aja, sekarang kamu makan yang ada dulu. nanti siang baru kamu makan apa yang kamu mau sayang" ucap Dio, membuat Mei sedikit berfikir.
"Serius" tanya mei senang.
"Iya sayang, sekarang kamu makan ya honey" ucap Dio lembut, mau tidak mau Mei pun memakan makanan yang ada meskipun sedikit biarlah. yang terpenting perut nya terisi begitu fikir Dio.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€
A**: nih yang minta part Dio sama Mei ya π
N: uwwwuuu romantis nya π
A: pengen ya UN kaya gitu π
N: banget Thorπ kalo ada mah buat gue aja kali ya Dio nya π€£
A: heh Jan ngaco Lo π
N: pinjem sehari aja Thorπ
A: kaga π
N: pelit π
A: bodomamat π
N: iyadah serah Lo sama si Mamat aja π
A: π€£π€£π€£π€£*