
Dea buru-buru mengambil ponselnya nya di dalam tas, ia bergegas menelpon Mae Dea tidak bisa berfikir karena yang dia ingat Mae masih berada di dekat daerah yang ia lewati.
****Panggilan telepon*
Dea**: ma..Mae tolong gue hiks... hiks tolong.
Mae: lah de Lo ngapa, tenang Lo kenapa de Lo dimana sekarang?
Dea: Mae gue di jalan xx gue di cegat sama Dodi, bahkan dia sewa orang buat bikin para orang ayah sama bang Justin sibuk Mae.
Mae: apa! wah gila tuh orang. de Lo diem dalam mobil jangan keluar oke, gue buru-buru kesana*.
panggilan pun terputus, Dea benar-benar ketakutan sementara Dodi yang merasa kesal pun memecahkan kaca mobil Dea. untung saja yang di pecahkan kaca belakang bukan kaca depan hingga tidak membuat Dea terluka.
"Dea buka" teriaknya.
"Nggak mau hiks..hiks.." balas Dea, namun siapa sangka Dodi berhasil membuka pintu mobil milik Dea.
"Jangan Dodi aku mohon jangan" pinta Dea.
"Ikut gue" ujarnya.
"Nggak mau Dodi plis, gue udah nikah lepasin" mohon Dea.
Tak lama kemudian Mae dan Nina datang, Mae berlari ke arah Dea dan Dodi dengan cepat Dodi merengkuh tubuh Dea.
"Jangan mendekat" teriak Dodi.
"Dodi Lo lepasin Dea, Lo jangan gila" teriak Mae yang khawatir melihat wajah Dea yang sudah pucat.
"Lo jangan ikut campur mae, gue bisa bikin perhitungan sama Lo" ucap Dodi.
"Gue gak peduli, harus takut apa gue sama Lo hah? soal perusahaan kekuasaan gue gak peduli. yang penting Lo balikin sahabat gue" teriak Mae.
"Haha gue gak bakal balikin Dea" tegas Dodi.
"Dodi Lo jangan g*la lepasin Dea" teriak Nina.
"Dodi lepasin gue mohon, Dodi kasian anak gue" tanpa sadar Dea mengatakan kata anak, yang membuat Mae dan Nina terkejut.
"Gua gak peduli Dea, gue gak percaya" ucap Dodi. tanpa menunggu lama ia memasukan Dea kedalam mobil nya.
"Dodi" teriak Mae, Mae dan Nina buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan menyusul Dodi.
Di dalam mobil Mae terus saja mengoceh, karena rasa khawatir nya kepada Dea apalagi saat mendengar kata anak.
"Lo liat na Lo liat, gara-gara keegoisan elo sekarang Dea dalam bahaya" teriak Mae dengan air mata yang mengalir.
"Sorry Mai gue gak tau kalo Dodi senekat itu" balas Nina.
"Lo tuh harusnya mikir apa na, kalo bukan karena dea mana bisa Lo kuliah di tempat yang sama kaya kita. tapi apa balasan Lo" kesal Mae.
"Shiiiitttt!" umpat Mae karena tidak berhasil mengejar mobil Dodi.
Dengan cepat Mae membelokkan mobilnya ke arah rumah Dea, jika di lihat Mae malah seperti seorang pembalap.
Setibanya di rumah Dea Mae buru-buru masuk kedalam, tanpa mempedulikan security.
"Assalamualaikum" ucap Mae dengan nafas yang memburu.
"Walaikumsalam, loh Mae sama Nina. masuk Mai tapi Dea nya mana ya?"ucap Sisil.
"Bu..bunda Dea" ucap Mae terbata.
Mei yang mendengar ada tamu pun menghampiri Sisil, dan melihat Mae juga Nina disana.
"Kak Mae tapi kak Dea mana?" tanya mei.
"Be...begini tapi bunda tenang dulu ya Bun jangan shock" jawab Mae.
"Katakan Mae katakan ada apa?" tanya Sisil.
Duaaaaarrrrrr...
Bagai disambar petir tubuh Sisil ambruk di atas lantai mendengar putrinya di culik, sungguh ia tidak bisa membayangkan apalagi saat ini putrinya sedang mengandung.
"Bunda" teriak Mae memeluk Sisil.
"Kamu becanda Mae, gak lucu Mai gak lucu" teriak Sisil dengan air mata yang mengalir.
"Serius Bun Mae gak becanda hiks...hiks... tadi Dea pulang terus dia tiba-tiba nelpon Mae buat minta tolong. dan kita sempet ketemu Mae juga sempet kejar Dea Bun tapi gak ke kejar, mangkanya Mae kesini Bun" ucap Mae penuh rasa bersalah.
"Siapa yang culik kak Dea" tanya mei. tatapan Mei sudah kosong bahkan terlihat penuh amarah, bagaimana tidak selama ini hanya Dea yang menjadi tempatnya berkeluh kesah selain Sisil.
"Siapa yang culik kak Dea" teriak Mei, Sisil tahu kalau Mei murka mendengar kabar ini. apalagi Sisil tahu Mei mengetahui Dodi yang selalu di dekatkan dengan Dea oleh Nina.
"Mei kamu tenang nak" ucap Sisil.
"Bunda aku gak bisa tenang, bunda lupa kalo kak Dea sedang mengandung gimana kalo terjadi apa-apa sama kakak" ucap Mei membuat Nina dan Mae terkejut.
"Mengandung?" tanya keduanya.
"Iya mai Dea sedang hamil" jawab Sisil, mendengar itu Mae benar-benar menyesal karena ia tidak menolak saat Dea meminta Mae tidak usah mengantarnya.
"Siapa yang culik Dea mai?" tanya Sisil.
"I...itu Dodi Bun" jawab Mae. mendengar nama Dodi meitha langsung menatap Nina dengan tatapan membunuh.
"Kau. kamu yang mengenalkan Dodi kepada kakak ku bukan" tanya mei dengan datar.
"I...iya mei, tapi dia orang yang baik kok" jawab Nina.
"Kamu terlalu bo*oh kak, mana ada orang baik berani menculik? lihat gara-gara obsesi mu yang tidak jelas Kaka ku menjadi korbannya" teriak Mei.
"Mei, tenang nak tenangkan dirimu nak" ucap Sisil khawatir, karena ia takut Mei akan merasa tertekan atau trauma. karena kehilangan gio dan nita membuat Mei akan mudah shock.
"Mae tolong tenangkan Mei, bunda mau Telpon ayah" ucap Sisil.
Mae pun bergegas memeluk Mei yang menangis, bayang-bayang Mei yang dulu histeris akibat kepergian orang tuanya kembali melintas di fikirannya hingga membuat Mei tak sadarkan diri.
"Mei, yaampun Mei sadar mei" ucap Mae menepuk pipi Mei.
Mae dan Nina membopong tubuh Mei dan membaringkan nya di sofa, Mae mengelus tangan Mei.
.
.
.
.
.
.
.
***selamat membaca ๐๐ค
A**: sedih gue Uun๐ญ
N: ngapa Thor๐
A: udah bahagia jadi rumit lagi begini gara-gara pasukan Lo minta ada greget nya ๐
N: yang sabar ya Thor yang sabar๐ค
A: selalu itumah Uun๐
N: terbaik emang ๐ค*