Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 209


Hari ini hari di mana Justin akan pergi meninggalkan Dea selama satu Minggu lamanya, Justin pun sempat meminta Dea untuk ikut bersamanya namun Dea menolak. dengan alasan ia tidak ingin mengganggu kesibukan sang suami.


Hari ini Justin akan mengantarkan Dea ke rumah bunda nya, bahkan Dea pun sempat menolak karena ia ingin terbiasa hidup tidak melibatkan atau merepotkan orang tuanya.


Namun apalah daya jika suami, ayah dan bundanya sudah turun tangan. Sisil memohon kepada putrinya agar Dea mau tinggal dengan nya selama Justin pergi, dengan seribu rayuan meitha Dea pun menyetujui nya.


"Sayang baik-baik ya sama bunda" ucap Justin.


"Pastinya Abang aku kan udah gede" jawab Dea membuat Justin tersenyum.


"Kalo bosan kamu ke rumah mami aja" ucap nya lagi.


"Rumah mami sepi, mami kan suka ikut-ikutan papi pergi" keluh Dea. karena memang mertuanya itu selalu sibuk menemani papa mertua nya.


"Aku ikut anter Abang ke Bandara ya" pinta Dea.


"Gak usah kamu di rumah aja" ucap Justin.


"Nggak aku mau ikut anter ke bandara" rengek nya, karena melihat mata Dea yang mulai berkaca-kaca Justin pun mengiyakan. jujur saja hatinya bingung dengan tingkah Dea akhir-akhir ini.


Dea pun pergi mengantarkan Justin dengan Sisil dan juga Mei, Dea terus saja memeluk Justin tanpa mempedulikan keberadaan Sisil dan mei.


Hal itu membuat Sisil, Mei juga Justin bingung pasalnya Dea tidak seperti ini sebelumnya. bahkan ia selalu menghindar dari Justin.


"Kak kenapa" tanya Sisil.


"Nggak apa-apa" jawab Dea pelan.


"Abang kan pergiiii nya cuma sebentar" ucap Sisil.


"Iya" balas Dea, tanpa di duga justru ucapan Sisil membuat Dea menangis.


"Lah kok nangis" tanya mei yang merasa bingung.


"Nggak" jawab Dea buru-buru menghapus air matanya.


Sisil merasa ada yang aneh dengan putrinya, namun Sisil sadar karena ia seorang ibu, bahkan pernah merasakan seperti Dea Sisil tersenyum.


Meskipun belum pasti feeling nya itu kuat, mau tidak mau ia akan memeriksa Dea nanti.


"Kak abis dari bandara kita ke dokter" ucap Sisil membuat Dea terkejut.


"Ngapain" tanya Dea.


"Periksa kamu, habis aneh sii kaya yang gak mau jauh sama Abang" jawab Sisil.


"Memang kalo gak mau jauh kenapa Bun?" tanya Justin.


"Nanti kita lihat dulu hasilnya bang, kalo emang bener nanti bunda kabarin kamu" jawab Sisil.


Setelah melewati perjalanan yang cukup lama, merekapun tiba di Bandara Justin turun dari mobil bersama dengan Dea.


"Abang hati-hati ya" ucap Dea.


"Pastinya, kamu baik-baik ya" balas Justin mengusap kepala Dea.


"Menjerit hatiku Abang, gak pernah jauh selama udah nikah eh sekarang di tinggal" ucap Dea membuat sisil, Mei dan Justin tertawa.


"Kan aku udah ajak kamu ikut" ucap Justin.


"Nggak mau akunya, lagian disana Abang kerja bukan liburan" balas Dea.


"Yasudah nanti kalo sudah selesai kerja nya, kita pergi honeymoon" ucap Justin membuat Dea tersipu malu.


"Abang ihhh, udah sana jalan" ucap Dea malu-malu.


"Yasudah" ucap Justin. namun ia kembali mengarahkan matanya ke perut Dea dimana Dea meletakan tangan nya.


"CK. baik-baik lah" tambah nya lagi mengelus perut Dea, namun hal itu membuat Dea tersentak.


"Abang ngapain elus-elus perut nya aku" tanya Dea.


"Kamu ngapain pegangin perut Mulu sakit?" balas Justin.


"Nggak, udah Abang pergi sana nanti telat" ucap Dea.


"Plis ya aku pergi pake jet pribadi" ucap Justin membuat Dea mencebikan bibirnya.


"Yaudah aku pamit, Bun aku pamit titip Dea ya" ucap Justin kepada Sisil.


"Iya bang hati-hati" balas Sisil.


Setelah kepergian Justin merekapun kembali ke mobil, bersama dengan Dea.


Wajah Dea Terlihat murung dan juga pucat, Sisil benar-benar khawatir dengan Dea dan dia pun melajukan mobilnya ke rumah sakit.


...


"Bunda pulang ayo, ngapain kesini" ucap Dea.


"Bunda mau periksa kamu" balas Sisil.


"Aku nggak sakit, ayo pulang" rengek nya.


"Nggak ada pulang-pulang" ucap Sisil.


Melihat bunda nya yang kekeh Dea berlari keluar rumah sakit, dan itu membuat Sisil terkejut.


"Kakak" teriak Sisil.


"Nggak mau" balas Dea.


"Kenapa jadi kaya anak kecil gini si" tanya sisil, saat sudah berhasil menangkap Dea.


"Lagian bunda aneh, aku nggak sakit malah di bawa ke sini" jawab Dea.


Dengan kesal Sisil pun mengikuti keinginan putri nya untuk pulang, mau gimana lagi Dea Ngotot minta pulang.


...


Setibanya di rumah Dea bergegas ke kamarnya yang dulu ia tempati, Dea merebahkan tubuhnya karena merasa lelah.


Di sisi lain Mei yang penasaran pun bertanya kepada sang bunda, kenapa bunda nya ingin memeriksa Dea.


"Bunda kenapa mau periksa kak Dea?" tanya mei penasaran.


"Bunda khawatir Mei" jawab Sisil.


"Kenapa?" tanya nya lagi.


"Bunda takut kalo Dea hamil tapi dia gak nyadar, yang bikin bunda takut kalo Dea melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya" jawab Sisil.


"Bunda yakin kakak hamil?" tanya mei.


"Gak tau juga, tapi kamu perhatikan tingkah nya akhir-akhir ini." jawab Sisil.


"Tapi Bun kakak kan belum mau punya anak, terus kalo kakak hamil apa dia akan terima" ucap Mei.


"Ya mau gak mau harus terima lah Mei, lagian dia hamil juga ada suaminya ini" balas Sisil.


"Iya juga sii bunda bener" ujar Mei.


Keduanya sibuk bercengkrama mengenai rasa penasaran nya, Sisil dan juga Mei benar-benar penasaran dengan Dea yang bertingkah aneh.


.


.


.


.


.


.


.


***selamat membaca ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—


A**: maaf ya aku bikin kalian nunggu๐Ÿ˜Š


N: iya kenapa si Lo Thor๐Ÿ™„


A: gue gak enak badan Uun ๐Ÿ˜ช


N: sakit Lo๐Ÿ™„


A: iya Uun, mangkanya gak up๐Ÿ™‚


N: ngapa gak bilang dah.


A: emang kenapa Lo mau jenguk?


N: nggak kan gue gak tau rumah Lo๐Ÿ˜‚


A: hilih suee Lo๐Ÿ˜ช


**N: ๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ***