
Sepulang dari kantor dalam perjalanan pulang Justin melihat sebuah mobil yang terhenti di depannya, dan mengeluarkan seorang anak laki-laki dengan keadaan yang menyedihkan.
Justin meminta supir nya untuk berhenti sebentar memperhatikan anak itu dan seorang lelaki paruh baya di hadapannya, tak lama kemudian mobil itupun pergi. Justin segera menghampiri anak yang tengah menunduk.
Saat Justin sudah berada di hadapan anak itu ia begitu terkejut di buat nya, benar-benar menyedihkan. tubuh yang penuh memar bahkan sebelum nya Justin melihat lelaki paruh baya itu mena*par anak di hadapannya.
Justin mengelus lembut tangan anak di hadapannya hingga anak itu mendongak, anak itu terlihat ketakutan wajah yang memar dan luka sama seperti yang Justin lihat di tangan nya.
"Ja...jangan sakiti saya tuan saya mohon" katanya dengan bibir bergetar.
"Hey tenanglah, aku tidak akan menyakitimu" ucap Justin.
"Ada apa tuan menghampiri ku" tana anak itu takut-takut.
"Aku ingin menolong mu, aku lihat laki-laki tadi melukaimu" jawab justin. membuat anak itu menunduk.
"Siapa dia? apa dia orang tuamu?" tanya Justin.
"I...iya dia papa ku" lirihnya.
"Papa mu?" tanya Justin terkejut,. bagaimana tidak ia melihat jelas orang itu menyakiti anak yang saat ini ada di hadapannya.
"Iya tuan" jawab nya.
"Kenapa dia melukaimu? apa kau berbuat hal yang mengecewakan nya?" tanya justin.
"Ti...dak, papa hanya bilang bahwa aku anak pembawa s**l. karenaku demi untuk menyelamatkan aku ibuku meninggal, dan kakak ku masuk rumah sakit. hingga papa membenciku sangat membenciku, kakak ku berubah menjadi jahat dan tidak peduli padaku setelah mengetahui bahwa ibuku sudah tiada" jawab nya lirih, air matanya menetes.
Justin yang mendengar itu merasa kasihan, kenapa ada orang seperti itu. dia saja sangat berusaha untuk mempunyai anak, lalu orang itu yang sudah mendapatkan nya dengan bo*oh menyingkirkan putranya yang tampan ini.
Tidak peduli anak yang di hadapan nya ini anak siapa, Justin akan merawat nya dengan baik seperti anak nya sendiri.
Jika keluarga nya tidak bisa menerima, bahkan jika Dea menolak Justin akan tetap menolong anak yang ada di hadapannya.
"Baiklah, siapa namamu boy?" tanya Justin.
"Namaku carll tuan, Carll Yudistira" jawab nya. (Carell/karell)
"Baiklah carell ikutlah denganku, aku akan mengenalkan mu Kepada istri dan keluarga ku" ucap Justin tersenyum.
"Ti...tidak tuan terimakasih, aku tidak ingin merepotkan mu" jawab carll.
"Tidak, kau sama sekali tidak merepotkan ku. ayo bangun lah" ucap Justin, ia menuntun tangan Carl untuk masuk ke dalam mobil nya.
Di dalam mobil Carl tak henti-hentinya mengucapkan rasa terimakasih kepada justin, ia benar-benar tidak menyangka jika Justin adalah orang baik.
...
Setibanya di rumah Justin mengajak Carl masuk, ia berjalan menuntun Carl layaknya seorang anak dan ayah nya.
"Mam" panggil Justin.
"Walaikumsalam, calon kubur" ucap mami alin, membuat Justin mendengus.
"Assalamualaikum mam" ucap Justin memperbaiki ucapannya.
"Walaikumsalam anak mami yang ganteng" ucap mami alin, ia mengalihkan perhatian nya kepada Carl.
"Bang" tanya mami alin, Justin yang mengerti mengajak mami alin dan Carl duduk.
"Kenalin mam ini Carl" ucap Justin.
"Hay boy kenalkan saya mami nya Justin" ucap mami alin.
"Ca...Carl Bu" jawab nya.
"Bang ini muka anak ganteng kamu apain sampe bonyok begini?" tanya mami alin, beringsut kedekat Carl.
Justin pun menceritakan semuanya mengenai Carl, dari pertama mobil papa Carl yang berhenti di hadapannya. hingga kejadian saat papa Carl melayangkan tangan nya di hadapan Justin, mami alin yang mendengar itu menatap Carl yang menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
Sama seperti Justin mami alin tidak menyangka ada orang tua sekejam itu, ia memeluk Carl. Justin mengatakan keinginan nya untuk mengangkat Carl sebagai anaknya, sambil menunggu istrinya hamil lagi ia akan menyayangi Carl.
"Mami setuju dan sangat setuju bang, Dea juga pasti mau menerima Carl. tapi ingat kalian jangan membeda-bedakan keduanya, kamu dan Dea harus adil untuk hal itu bang. jika nanti kalian sudah memiliki anak kandung tetaplah menyayangi Carl karena dialah yang pertama menjadikan kalian orang tua" ucap mami alin.
Tidak lama kemudian mobil yang di kendarai Dea masuk ke halaman rumah mami alin, ia masuk kedalam rumah Dengan ceria seperti biasanya.
"Walaikumsalam" jawab semua yang berada di ruang tengah, tak lain Justin, mami alin dan Carl.
"Abang udah pulang?" tanya Dea mencium punggung tangan Justin bergantian dengan mami alin.
Seketika pandangan nya beralih kepada Carl yang menunduk, Dea merasa simpatik kepada anak lelaki itu.
Mami alin yang melihat itu tersenyum dan menceritakan tentang Carl kepada Dea, Dea yang mendengar itu terkejut. bukan karena justin yang ingin Carl menjadi anak nya, tapi Dea terkejut karena penderitaan yang dialami oleh Carl.
Dea mendekati Carl dan duduk di samping nya, Dea mengelus kepala Carl hingga anak laki-laki itu mendongak menatap nya.
Dan kali ini bukan hanya terkejut saja, bahkan Dea meneteskan air matanya saat melihat wajah Carl yang penuh memar dengan sudut bibir yang sedikit berdarah.
Melihat reaksi Dea mami alin dan Justin yakin bahwa Dea akan menjadi sosok yang baik, mereka yakin bahwa Dea akan adil dalam merawat anak-anak nya nanti.
"Hay boy, siapa namamu?" tanya Dea lembut.
"Namaku Carl kak" jawab nya.
"Oke Carl namaku Dea istrinya bang Justin, kau bisa memanggilku dengan sebutan mami, mamah atau bunda itu terserah padamu. tapi jangan memanggilku kakak oke" ucap Dea tersenyum.
"ta_tapi" ucap Carl.
"Tidak ada penolakan oke, panggil aku sesuka yang kau mau tapi jangan kakak" tegas Dea.
"Panggil aku Daddy ya Carl jangan bapak karena aku tidak setua itu" celetuk Justin.
"CK, kau sudah tua abang" dengus Dea.
"Mana ada tua, aku masi muda sayang" protes Justin.
"Kau tua masih saja ingin dibilang muda, tidak ada ahlak sekali dirimu" ledek Dea.
"Ayolah sayang umurku baru 25 tahun itupun tahun depan, saat menikah denganmu aku baru selesai kuliah jika kau lupa" ucap Justin, mengingatkan.
"Itu sama saja kau 24 tahun, hilih" Kesal Dea.
"Iyakah? umurku berapa ya aku lupa" canda Justin.
"Umur saja kau tidak ingat, sudahlah kau ingi menyebalkan" dengus Dea, Carl yang melihat itupun hanya tersenyum. ia tidak menyangka dibalik tampang dingin Justin ternyata bisa konyol juga.
"Sudah-sudah, kalian ini kenapa malah berdebat. perhatikan anak kalian yang sedari tadi melihat perdebatan receh orang tuanya" ucap mami alin, mengingatkan jika saat ini kebahagiaan Dea bukan hanya Justin Begitupun sebaliknya kebahagiaan Justin bukan hanya Dea. ada sosok anak yang membutuhkan support dari keduanya, semoga setelah kehadiran Carl dapat mempercepat kehamilan Dea.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗
A**: vote nya gaes Jan lupa 😁
N: banyak kagak?😂
A: di usahakan Uun 😊
N: gue tunggu 😁
A: serah Lo 😂
N: oke 😁*