Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 218


mendengar Mae yang memanggil nya Justin pun menoleh ke arah Mae, dan melihat gadis itu kesulitan membuka pintu.


"Bang Justin cepetan, Mae yakin Dea di dalam" teriak nya lagi, Justin pun berlari ke arah Mae.


"Kamu yakin?" tanya Justin antusias.


"Iya bang karena kamar yang lain gak di kunci, dan cuma ini yang di kunci" jawab Mae. tanpa menunggu lama Justin pun mendobrak pintu yang di maksud Mae dan.


Braaakkkk... pintu terbuka dengan lebar terlihat lah wanita yang selama ini ia cari, dan ia rindukan.


Dea yang mendengar suara pintu terbuka berjingkat kaget, saat melihat wajah lelaki yang menjadi suaminya yang ia rindukan tubuhnya mendadak kaku.


Tubuh Dea mematung menatap Justin dengan air mata yang menetes, tuhan ini berasa mimpi untuknya.


"Dea" teriak Mae dengan air mata yang mengalir. namun Dea tak bergeming.


Justin merasa sakit hati saat melihat tubuh Dea yang kurus dan wajah pucat, namun seketika pandangan nya teralihkan kepada satu wanita yang terikat.


Mata Justin terbelalak saat mengenali wanita itu, wanita yang sudah bertahun-tahun ia cari. Justin ingin berjalan ke arah Agis namun langkahnya terhenti saat mendengar suara lirih Dea.


"A..Abang" lirihnya.


"Sayang" ucap Justin berlari ke arah Dea, dan memeluk nya erat.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Justin, Dea menggeleng dan meminta Justin untuk melepaskan Agis.


"Abang tolong wanita itu bang, kasian" ucap Dea, Justin pun menoleh dan mengangguk.


Saat Justin menghadap ke arah Agis untuk melepaskan ikatannya Dodi datang membawa balok di tangan nya, ia hendak memukul Justin.


Dea yang melihat suaminya akan di pukul segera berlari memeluk tubuh Justin dari belakang. dan.


Buuuugghhh... balok itu mendarat di tubuh Dea tepat di bokong nya dan Buuuugghhh di punggung Dea. dua pukulan mendarat di tubuh Dea dengan keras dan sempurna.


"Deaaaaaa" teriak Joni histeris, Justin yang mendengar nama Dea di panggil pun mematung. hingga ia merasa dekapan yang di tubuhnya melonggar.


Justin memegang tangan yang berada di dadanya dan membalikkan tubuhnya, betapa terkejutnya ia melihat istrinya yang melindunginya.


"Sayang, Dea" ucap Justin, Dea pun mendongakkan kepalanya. berusaha membuka matanya dan tersenyum.


"A...aku sayang Abang hiks... ak...aku...aku minta maaf udah bikin Abang khawatir, ab... Abang an..ak kita setidaknya sekali pun ia tidak bertahan disini ia sudah bisa melindungi Daddy nya" lirih Dea dengan air matanya.


"Bo*oh Dodi Lo gila, apa yang Lo lakuin itu Dea yang Lo pukul Dea Dodi" ucap Joni frustasi, meskipun ia akan merelakan Dea bersama Justin tapi ia tidak rela melihat Dea terluka apalagi saat melihat Dodi memukul Dea dengan nafsu.


Desi yang melihat dua laki-laki yang membela Dea pun merasa geram, ia mengambil senapan dan mengarahkan kepada Dea yang berada di pelukan Justin.


Dan itu terlihat oleh Mae membuat mata gadis itu membelalak, tidak ia tidak akan membiarkan Dea terluka lagi. dan saat Desi menarik pelatuk nya Mae berlari memeluk Dea yang berada di dekapan Justin.


"Deaaaaaaaaaaa" teriak Mae dan...


Dooorrr... peluru itu melesat tepat di punggung Mae.


"Desssiiii" teriak Joni, gila hari ini Joni benar-benar di buat gila.


"Maaaeeee" teriak Julian, Sisil dan juga Dio yang baru saja datang.


Justin tercengang menatap Mae yang tersenyum dengan mata yang memerah, tak lama air matanya pun menetes.


Julian berlari ke arah Mae dan merengkuh tubuh Mae yang hampir ambruk, Mae masih membuka matanya dan melihat Sisil menangis menghampiri Dea dan dirinya yang berada di dekapan kakak beradik itu.


"I'm fine" ujar Mae.


"Lo g*la Lo bisa ma*i mai" ucap Julian.


"Gua gak ap..a-apa, gua gak bakal bisa maafin diri gue kalo Dea terluka parah" jawabnya lalu memejamkan mata.


Sementara Sisil terkejut melihat darah mengalir di kaki Dea, Sisil berteriak histeris ia merasa sesak di dadanya melihat dua gadis yang ia sayangi seperti ini. Siti Maesaroh sahabat sang putri yang sudah seperti saudara kandung, yang bahkan rela mengorbankan nyawa nya.


"Deaaaa, bangun nak hiks...Dea. bang bawa Dea dan Mae ke rumah sakit sekarang" ucap Sisil, tanpa menunggu lama Justin dan Julian mengangkat tubuh gadis yang berada di dekapan nya.


Sementara Agis ia menangis tersedu-sedu melihat pengorbanan Dea untuk Justin, Agis tidak bodoh ia tahu Dea sedang hamil dan ia cukup peka dengan melihat darah yang mengalir di kaki Dea.


Sementara Dodi dan Desi keduanya sudah di urus oleh Zian dan Eza. tadinya Dodi merasa terkejut saat melihat Rio dan Sisil juga Dio, namun setelah Joni menjelaskan siap Dea sebenarnya Dodi menyesal ia telah membuat masalah dengan dua keluarga yang sangat berkuasa dan berpengaruh.


Namun tidak dengan Desi, wanita itu belum puas karena bukan Dea yang ia lukai. meskipun Desi sedikit terkejut mengetahui Dea putri keluarga Artadinata.


Dio mengejar Desi dan Dodi yang di bawa oleh Eza, ia mencengkram leher Dodi dengan keras.


"Lo kalo sampe kakak gue kenapa-napa, gue bakal kejar Lo buat balas apa yang kakak gue alami!" teriak Dio.


"Dan Lo" tunjuk nya kepada Desi.


"Gue yakin Lo masih punya keluarga, gue juga tau Lo punya adik bahkan adik Lo yang kejar-kejar gue. kalo sampe terjadi apa-apa sama kakak gue dan juga Mae gue jamin hidup adik Lo akan hancur dalam sekejap" ucap Dio, dan itu membuat wajah Desi pucat.


Dio berlalu mengejar Justin dan Julian yang membawa Dea juga Mae ke rumah sakit, entahlah melihat kakak nya tidak berdaya seperti itu Dio merasa separuh hidupnya ma*i.


.


.


.


.


.


.


.


.


***happy reading ๐Ÿ˜Š๐Ÿค—


A**: nulis bagian ini gue nangis Uun๐Ÿ˜ญ


N: ngapa sedih ya?


A: iya gue nangis si Dea sampe sebegitu nya sama bang Tintin๐Ÿ˜ญ


N: Lo mah sedih-sedih Mulu kan gue gak rela๐Ÿ˜–


A: elah gue juga sama ketemi๐Ÿ˜’


N: hilihh ๐Ÿ˜’๐Ÿ˜’๐Ÿ˜’*