
Di tempat lain terlihat dua orang anak berbeda jenis kelamin itu tengah bermain, entah sejak kapan bocah laki-laki itu menjadi sangat jahil hingga membuat sang mommy terheran.
Jahil nya itu hanya karena sebua mainan, bukan sengaja namun itulah cara dirinya bersikap sebagai seorang Abang. meskipun El keluar lebih dulu 10 menit dari dirinya, seperti saat ini dengan tingkah usil nya Aiden menyembunyikan boneka Barbie milik El dan itu membuat sang mommy berteriak.
"Aiden" panggil Dea.
"Hehe, dikit mom" ujar nya.
"Kembalikan kepada adikmu" ucap Dea, membuat Aiden mengembalikan nya.
"Mom dad mana" celoteh nya.
"Dad mu sedang di ruang kerja" ucap Dea, Aiden memandang lekat wajah sang mommy.
Ada yang beda dengan Dea, wajah pucat dan banyak keringat dingin di pelipis nya. Aiden memeluk Dea membuat Dea tersenyum senang.
"Kenapa boy" tanya Dea, ia menciumi pipi gembul Aiden.
"Are you ok" tanya Nye, membuat Dea mengangguk.
"Mommy baik-baik saja sayang" ucap Dea.
Mendengar ucapan Dea Aiden memegang wajah Dea dengan tangan mungil nya, dan itu membuat Dea semakin gemas.
"Ada apa" tanya Dea.
"Mom pucat" ujar nya, usia Aiden saat ini 2 tahun 5 bulan. hal itu membuat wajah nya terlihat semakin mirip dengan sang Daddy.
"Aku baik-baik saja sayang, apa kau sudah makan" tanya nya.
"Ya sudah, aku sudah makan bersama kakak ana" jawab nya, kedekatan Aiden dengan ana membuat Dea merasa bahwa ana seperti anak nya sendiri.
"Mom, tadi Oma ngajak aku ke mall" celoteh nya, membuat Dea mengangguk dan tersenyum.
"Benarkah, apakah El di ajak" tanya Dea.
"Tidak, Oma hanya mengajak ku. tapi kenapa wajah ku harus di tutup seperti mu*i mom" tanya ya membuat sang mommy terkekeh, ia yakin jika mami alin tidak mungkin mengajak El. karena ia akan kerepotan nanti nya menutup wajah para cucu nya.
"Itu untuk kebaikan ai, apa ai senang pergi dengan Oma" tanya Dea lagi.
"Tentu, di sana sangat ramai banyak anak-anak yang bermain juga" ujar nya, membuat Dea merasa kasihan kepada anak nya itu.
"Hmmmmm, nanti mom akan mengajak ai jalan-jalan mau" ujar Dea.
"Mau mom, ai ingin memiliki banyak teman" ujar nya, membuat Justin yang baru saja keluar dari ruang kerja nya mendekati anak dan istrinya itu.
"Ada apa ini, kok Daddy gak di ajak cerita" ujar Justin, membuat Aiden turun dari pangkuan Dea dan berlari ke arah Daddy nya itu.
"Daddy" teriak nya, melompat ke pelukan Justin.
"Wow kesayangan Daddy" ucap Justin, membuat Aiden meletakkan kepalanya di bahu sang Daddy.
"Daddy aku ingin bermain seperti orang-orang" ujar nya takut-takut, apakah Justin marah? tidak lelaki itu justru mengeratkan pelukannya. ia pun marasa tidak tega kepada putranya itu, namun mau bagaimana lagi ia tidak ingin Aiden mengalami hal buruk seperti anak rekannya yang di culik oleh saingan bisnis nya.
"Boy dengar Daddy" ucap Justin, yang saat ini sudah duduk di sofa membuat Aiden menatap wajah sang Daddy.
"Hmmmmm" sahut nya.
"Kenapa tidak sekarang" tanya nya, mata bulat Aiden mengerjap lucu membuat justin terkekeh gemas.
"Tidak nak, untuk saat ini kami masih harus melindungi kamu. bukan hanya kamu bahkan kami harus melindungi El juga, saat dewasa nanti ai akan mengerti bahwa semua yang Daddy lakukan kepada ai itu untuk kebaikan ai dan untuk melindungi ai. maka Daddy minta ai membantu Daddy untuk melindungi anak kesayangan Daddy ini oke" ujar nya membuat Aiden tersenyum dan mengangguk, Aiden memeluk Justin karena memang ia begitu lengket dengan Daddy nya itu. bukan hanya kepada Justin Aiden pun bersikap sama kepada sang mommy, jika di bilang orang tua adalah segalanya bagi Aiden maka itu benar. bocah kecil itu selalu patuh kepada ucapan kedua orangtuanya, dan itu membuat Justin senang karena ia tidak harus bertindak keras untuk membuat Aiden mengerti.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Daddy
Aiden
Mommy
***Happy reading ππ€
A: Mumun datang lagi bersama baby gumush π ini**
N: Aiden boleh gue karungin nggak π
A: gak boleh jamil Lo ngada-ngada aja π
N: pinjem sehari buat temen mainπ
A: gak ada gak boleh π
N: jahat nya πͺπͺπͺ
A: bodo π
N: πππ*