
Dio memandang pergerakan tubuh Dea, tuhan ingin sekali Dio memiliki istri seperti Dea. fikirannya melayang mengingat Mei apakah Mei bisa menjadi wanita lembut dan penyayang seperti kakak nya.
"Kak" panggil Dio.
"Hmmmmm" sahut Dea.
"Nanti Mei bisa kaya kakak gak ya" tanya Dio.
"Maksudnya?" balas Dea bingung.
"Iya jadi istri yang nurut sama suami, selama ini aku belum pernah liat kakak ngelawan sama Abang. terus kakak juga begitu menyayangi Abang dan keluarga Abang" ucap Dio, Dea yang memang sudah selesai merapikan pakaian Dio pun menghampiri adiknya. Dea duduk di samping Dio dengan senyum termanis yang selalu ia keluarkan.
Dea memang selalu terlihat baik dan lembut di mata adik-adiknya, bahkan Rio sangat mempercayai Dea untuk menjaga adik-adiknya.
Namun satu hal dibalik sikap baik, lembut dan penyayang nya jika Dea sudah marah maka semua tidak akan ada yang bisa melawannya.
Bukan karena takut namun Rio, Dio, juga Dena selalu di ingat kan oleh Sisil jika Dea adalah pengganti Sisil nanti. Sisil tidak ingin anak-anak nya berlaku tidak sopan kepada Dea.
Maka dari itu Rio maupun Dio selalu menghargai Dea, dan keduanya tidak ingin membuat Dea marah.
"Pasti bisa, kita di besarkan oleh orang yang sama bukan kita tumbuh bersama. dan Mei bisa melihat bagaimana aku memperlakukan suami aku, aku rasa Mei akan menjadi istri yang baik untuk kamu Dio" ucap Dea.
"Semoga saja" balas Dio.
"Dan setelah kalian menikah bukan kah kamu ingin Mei melanjutkan studinya, itu artinya kalian akan menjalankan hubungan jarak jauh?" tanya Dea.
"Hmmmmm, Mei ingin melanjutkan nya di negara X. dan aku tidak ingin mengekang nya" jawab Dio.
"Tidak masalah, kamu bisa mengunjungi nya bukan" balas Dea, ya Dea selalu menjadi penenang untuk Dio.
"Iya kakak benar, lagi pula dia tidak akan macam-macam" ucap Dio.
"Tentu saja, siapa yang berani berpaling dari pura keluarga Artadinata. hmmmmm?" ujar Dea membuat Dio terkekeh.
"Kau tidak berubah, kamu tetap Dea ku yang dulu aku sangat menyayangi mu" ucap Dio memeluk Dea.
"Jangan melow begitu ah, ganteng kok cengeng kan gak lucu" ucap Dea, membuat Dio mencebikan bibirnya.
...
Di tempat lain Mei sudah menyelesaikan sekolah nya, saat nya ia akan menentukan Universitas yang akan menjadi tempat nya menuntut ilmu.
Sisil mengelus kepala putri dari sahabatnya yang saat ini menjadi putrinya itu dengan penuh kasih sayang, Mei terus saja berceloteh memberi tahu Sisil mengenai universitas ternama.
"Mei cukup sayang, kamu ingin nya melanjutkan kemana bunda dan ayah akan mendukung kamu" ucap Sisil, karena dari tadi Mei mencari informasi universitas di Indonesia. namun Sisil tahu Mei ingin melanjutkan nya di negara X.
"Hah, bunda ternyata nyari yang sesuai dengan keinginan ku sulit" ucap Mei.
"Mei dimanapun kamu melanjutkan studinya bunda tidak masalah, asalkan kamu nyaman nak. karena bagi bunda kenyamanan kamu itu lebih penting" ucap Sisil lagi.
"Bun Mei mau di negara X, tapi saat Mei melanjutkan nya bukan kah Abang sudah kembali" ujar Mei, ya saat ini memang Mei tidak mengetahui jika Dio sudah kembali.
"Kejar cita-cita kamu sayang, bunda yakin Abang akan mengerti semuanya. lagipula Abang bisa mengunjungi kamu kan" ucap Sisil.
"Iya si Bun, tapi rasanya aku tidak ingin jauh-jauh dari Abang lagi" lirih mei.
"Lihat bunda sayang, percaya Abang tidak akan mengecewakan kamu. dan kamy harus yakin bahwa kamu mampu menjaga hati kamu untuk Abang, satu kalian harus salin percaya satu sama lain nya" ucap Sisil menenangkan Mei.
"Baiklah aku akan melanjutkan studi ku di negara X, aku akan buktikan bahwa aku bisa membuat ayah dan bunda bangga kepada ku" ucap Mei memeluk Sisil.
(Bang jika aku bisa menunggumu dengan baik tanpa melirik setiap lelaki yang selalu mencoba mendekati ku, maka aku harap kamu juga bisa menungguku dengan sangat baik tanpa melirik kepada wanita yang tergila-gila terhadap mu. aku mencintaimu bukan hanya saat ini bang, aku mencintaimu dari saat aku mengenal mu sebagai saudara ku. aku sempat takut jika aku akan melihat kamu bersama dengan orang lain, namun Tuhan berbaik hati karena mentakdirkan Mei sama Abang. semoga jodoh kita sampai kepada apa yang kita harapkan) batin Mei, tanpa terasa air mata nya menetes.
Sisil yang merasa Mei tengah menangis menangkup wajah Mei, ia melihat mata Mei yang berkaca-kaca sakan melihat Nita yang tengah menangis.
Sisil merengkuh tubuh Mei dan menciumi puncak kepala nya dengan lembut, Sisil benar-benar merindukan sahabatnya itu.
(Nita lihatlah anak gadis kamu dia sudah dewasa bukan, bahkan dia memenuhi keinginan gio tanpa harus kami yang memaksanya. aku bersyukur karena mereka memiliki perasaan satu sama lain, dan aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi anak kamu seperti aku menyayangi anak-anak ku. semoga Mei akan terus menjadi kesayangan dan kebanggaan Rio suamiku seperti Rio membanggakan anak-anaknya) batin Sisil.
Sisil melepaskan pelukannya dan mencium kening Meitha lembut, ia menatap wajah Mei dengan sayang.
"Istirahat lah jangan terlalu banyak menangis, nanti anak gadi bunda ini jadi jelek dong" ucap Sisil membuat Mei tersenyum.
"Baiklah bunda" ucap Mei pergi meninggalkan Sisil.
Sisil pun memandang kepergian Mei, ia menatap tubuh Mei yang mulai menjauh dengan senyuman yang lembut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Babang Dio
Neng Meitha
***happy reading 😊🤗
N**: huraaaaaa Mei sama Dio nya ada lagi dungs😂
A: iya noh ada lagi un 😂
N: seneng gue akhirnya kan ya 😂
A: ngapa tuh🙄
N: ada yang bikin baper lagi 😂
A: hilih suee😪
N: 🤣🤣🤣*