
Hari ini di kediaman Abrisham begitu ramai karena ketiga anak Dea sudah berkumpul kembali dengan kedua anak Mae, Aiden dan Alexi begitu posesif terhadap Aneska yang merupakan anak kedia Justin karena anak bontot nya adalah Alexi.
Aneska tumbuh menjadi gadis ngeyel sama seperti Dena, namun Anes sudah memiliki wajah dingin nya sejak kecil.
"Anes berhenti memanjat pohon" pekik Alexi, membuat Anes mencebikan bibirnya. adik bontot nya ini tidak pernah memanggil nya kakak mentang-mentang mereka lahir bersama hanya beda beberapa menit saja.
"Kakak Alex kakak, berhenti memanggilku Anes" geram nya.
"Tidak usah berlebihan, kita lahir bersama hanya berbeda beberapa menit saja" ucap Alexi.
"Meskipun begitu aku tetap kakak mu, aku lebih dulu di keluarkan daripada kau" teriak Anes membuat Alex melongok.
Kakak perempuan nya ini seketika membuat nyali nya menciut, lihat saja Alexi akan tumbuh lebih besar dari kakak nya itu begitulah pemikiran Alex.
Dengan ide jahil nya Alex memanggil Aiden yang tengah duduk santai, ia tahu jika Anes takut kepada kakak nya itu.
"Kak" panggil Alex.
"Hmmmmm" sahut Aiden.
"Agnes manjat pohon kak" adu nya membuat Aiden terbelalak seketika.
"Apa?!" pekik Aiden membuat Alex terlonjak kaget.
"Kaget aku kak" ucap nya mengelus dada.
"Dimana anes, kenapa bocah itu menjadi seperti ini" geram Aiden, gaya Aiden sudah seperti anak dewasa yang khawatir kepada adik nya itu.
Aiden pun berjalan menuju pohon yang di katakan oleh Alexi, ia langsung menatap anws yang sedang merangkak di atas pohon.
"Aneska Devira Quenby Abrisham" teriak seseorang.
Deeeggg... bukan Aiden maupun Alexi yang berteriak, karena keduanya tidak pernah meneriaki Anes dengan nama lengkap nya.
Alex dan Aiden saling memandang keduanya mengenal suara itu, suara yang begitu familiar di telinga nya.
"Mo...mommy kak" ucap Alex membuat Aiden menoleh kebelakang, benar saja mom nya itu sedang berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada. ya itu adalah Dea yang terkejut melihat kelakuan bar-bar putri semata wayangnya, ya semata wayang karena Anes adalah anak perempuan Dea satu-satunya.
Aiden dan Alex menelan Saliva nya, baru kali ia melihat wajah mom nya yang seperti seorang macan akan menerkam mangsanya.
Sementara Anes yang berada di atas pohon terkejut dan menganga meilat sang mommy menatap nya tajam, yakin setelah ini Anes akan mendapatkan kuliah pagi sampai malam dari mom dan dad nya.
"Mom" lirih nya.
"Apa yang kamu lakukan, jika dad mu tahu sudah di tebang pohon ini oleh nya karena melihat anak perempuan nya manjat-manjat kaya tenyom" cerocos Dea.
"A... aku...aku... aaaaarrraaaaaaggghh" Bruukkkk.... Agnes terjatuh karena terpeleset, Dea yang melihat putrinya jatuh pun langsung berlari memeluk Anes.
"Nes..." panggil Dea, Mae dan mami alin yang mendengar teriakkan pun berlari ke halaman belakang rumah.
"De, ada apa" tanya Mae, Mae dan mami alin terkejut melihat Anes tidak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini" ucap mami alin, karena Justin tengah di luar kota akhirnya mami alin memanggil Julian untuk mengangkat tubuh Anes.
"Jul, juliaaaaaaaaaaannnn" teriak mami alin membuat Julian berlari.
"Ada apa si mi" tanya nya ngos-ngosan.
"Ada apa, ada apa lihat tuh ponakan kamu" ucap mami alin.
"Lah, Anes kenapa de" tanya Julian, membuat Dea menggeleng ia merasa kepalanya tiba-tiba pusing karena melihat sang putri terjatuh di hadapan nya.
"Angkat Jul, bawa ke kamar" ucap mami alin, sementara Mae menuntun Dea.
Kini Anes masih tidak sadarkan diri namun tidak ada hal serius yang di alaminya hanya cedera kaki ringan, dan Anes merasa shock karena terjatuh dari pohon yang lumayan tinggi.
"Anes kenapa bisa jatuh de" tanya Mae.
"Gak tau lagi gue ini anak beda banget, gue liat Aleta rasanya adem gitu ya tapi ngapa anak gue begini amat" ujar Dea membuat Mae terkekeh.
"Aleta juga depan kita aja baik, di belakang mah sapa tau dah" ucap Mae, membuat Dea menoleh.
"Yang gue bingung ini kalo bapak nya tau begimana ya, gue harus jelasin apa sama Daddy nya Mai" ucap Dea merasa bingung.
Tanpa Dea ketahui Julian menghubungi Justin dan mengatakan jika Anes terjatug dari pohon, Justin yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya pun kocar-kacir memikirkan keadaan putrinya.
****Panggilan telepon*
Justin**: kenapa bisa jatuh (teriak nya)
Julian: ya mana gue tau bang, orang gue ke belakang aja Anes udah gak sadar.
Justin: kalian gimana si kenapa gak pantau anak gue, Anes itu cewek satu-satunya kalo itu anak kenapa-napa gimana. (marah)
Julian: gak apa-apa bang tadi udah panggil dokter kok.
Justin: gue usahain lusa pulang.
Julian: lah jangan kerjaan Lo kan Masi banyak. (tertawa lucu).
Justin: gue bisa beresin besok!
Tut...Tut...Tut*...
panggilan pun terputus, Julian tertawa lepas karena sudah berhasil membuat Abang nya kebakaran jenggot.
Bukan apa-apa Julian memberi tahu Justin, karena Julian tahu Anes paling takut kepada Daddy nya sama seperti anak-anak nya yaitu Aleta dan Axel.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
A**: nih jangan kisah Dena Mulu campur lah kali-kali 😂
N: bener banget itu 🤣
A: btw Anes barbar juga ya 🤣
N: nurun dari Dena gak tuh 🤣
A: aslinya 🤣🤣🤣*