Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 254


Hari ini orang tua Mae kembali dari luar negeri, karena anak semata wayangnya akan segera melepaskan masa lajangnya.


Setelah tiba di tanah air orang tua Mae segera menuju rumah Rio, setibanya di rumah Rio mereka di sambut dengan sangat baik.


"Hai mama, apa kabar?" tanya Dea, menyapa mama dari sahabatnya.


"Eh nona muda, saya baik nona" jawab mama Mae.


"Panggil aku Dea, aku tidak ingin mama memanggil ku seperti itu" ucap Dea.


"Hmmmmm baiklah sayang, kau sangat baik kepada anak mama. bahkan keluarga mu memperlakukan anak mama dengan sangat baik" ujarnya.


"Tidak masalah, kita semua keluarga bukan. jadi sudah seharusnya kamu saling membantu" balas Dea.


Sementara Mae terkejut melihat kepulangan orang tuanya, ia berhambur memeluk tubuh sang mama.


Mae menangis tersedu-sedu dalam pelukan hangat mama nya, ia serasa tidak ingin lepas dari pelukan ma nya.


"Mama kau seperti membuangku begitu saja.hikss..hiks..." ucap Mae.


"Anak nakal, apa maksudmu membuang? tidak ada orang tua yang akan membuang anak nya" ujar mama Mae.


"Mama jahat, kau hanya pulang saat kehidupan sulit akan segera menghampiri ku. rasanya aku ingin memberikan sianida kepada lelaki itu" kesal Mae.


"Jaga ucapan mu Mae, dia lelaki yang baik" ucap mama nya.


"Mam plis, ini terlihat bukan seperti dirimu. tegakah kamu mam menikahkan putri semata wayang mu dengan dia yang bahkan aku tidak tau" ujar Mae.


"Semua sudah terlanjur sayang" ucap nya, menenangkan Mae.


"Ini seperti mimpi buruk untukku, mama ku dengan sadis memberikan aku kepada laki-laki yang belum tentu baik hiks" celoteh nya, sementara Dea, Sisil dan Rio, juga papa Mae terkekeh melihat Mae.


"Ganteng kok mai ganteng" ledek Dea.


"Bodoamat mau ganteng mau keren peduli amat gue" dengus Mae.


"Lo pasti suka mai, Lo pasti bahagia" ucap Dea.


"Sok tau Lo Mpok Munah" kesal Mae.


"CK.rese lo Mpok Mumun" celetuk Dea.


sementara Mei berbisik di telinga Dea sambil terkikik, Mei tidak bisa membayangkan gimana jika musuh bebuyutan itu di nikah kan.


"Gimana coba pas bertatap muka" bisik Mei.


"Auto mata pada melotot dah" balas Dea.


"Yakin bakal akur? Sian dah kakak rumah nya bakal rame" ucap Mei.


"Rame perdebatan gitu ya haha, lucu gue gimana reaksi keduanya ya" ujar Dea.


"Haha tiati perang wajan tiap pagi" bisik Mei.


"Centong nasi rumah gue aman gak ya" ceplos Dea.


"Berkurang satu, tiap harinya" balas Mei


"Bisik-bisik aja terus, gak ada orang kok disini tenang aja" sindir Mae.


"Kurang asem emang, merekemah seneng aku begini" rengek Mae.


"Bagaimana tidak, kakak akan segera menikah. jangan lupa kasi aku ponakan yang lucu oke" ucap Mei tersenyum.


"Palamu gundul Mei, nikah aja belum udah minta ponakan." dengus Mae.


"Secepatnya lah kasi aku ponakan, kak Dea kak Mae oke jangan nolak" ucap Mei.


"Dikira bikin ponakan kaya bikin bakwan apa ya" dengus Dea.


"Kan gampang kak, tinggal anu_" ucap Mei menggantung, saat melihat tatapan Rio dan Sisil.


"Anu apa sayang?" tanya Rio.


"A_anu yah tinggal beli terigu aja kan iya" jawab Mei.


"Anak Mei bukan bikin kue bolu yang biasa Lo bikin ini, yakali make terigu" ucap Dea.


"Kakak Lo peka dikit apa, ayah natap gue udah kaya mau makan anggur" bisik Mei.


"CK.takut Lo Sama ayah" ledek Dea.


"Ya kalo bukan taku sama ayah sama siapa lagi Munah" kesal Mei.


Namun semua yang melihat tingkah nya tertawa geli, Dea merangkul kepala Mei kedalam pelukannya.


Bagaimana pun juga Mei adalah adik kesayangannya sama seperti Dena, bahkan Mei terlihat mirip dengannya.


Dea menyayangi Mei dengan sangat, seperti dulu orang tua Mei menyayangi dirinya. maka kasi sayang itu pula yang di berikan oleh Dea kepada Meitha.


Meitha Putri P.



.


.


.


.


.


.


***happy reading 😊🤗


A**: dikit dulu, akoh lagi kurang enak badan 😊


N: besok banyak ya 😁


A: akoh usahakan ya Uun 😁


N: oke 😁*