Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XCIX. Analyze


Reno berdiri di hadapan para penghuni kastil lain. Cahaya lilin temaram, memantulkan bayangan dirinya. Nyala lilin berlenggak-lenggok dihembus angin malam. Suasana masih tegang, karena Reno berjanji akan mengungkap semua rahasia yang tersimpan di kastil ini. Setelah mengatur napas, Reno melanjutkan analisisnya.


“Kunci dari kasus ini sebenarnya adalah hubungan kekeluargaan antara Anggara dan si pelaku. Anggara adalah ayah dari pelaku ini dengan istri pertama yang bernama Anjani. Begitu ia menikahi Anastasia, Anggara segera membuang bayi-bayinya. Maka setelah kami lacak bayi yang hilang itu, ternyata berada di sebuah panti. Kemudian kedua bayi kembar itu diadopsi lagi oleh seorang wanita. Mereka tumbuh besar bersama, tetapi salah seorang di antaranya menyimpan kebencian yang membara. Ia merasa iri dengan kesuksesan saudarinya sebagai seorang penulis novel, lalu berobsesi menjadi seperti dia. Pada suatu kesempatan, saudaranya dibunuh saat bersama pacarnya di apartemen, dan dia kabur, berpura-pura menjadi saudarinya yang ia habisi,” ungkap Reno.


Para penghuni masih terdiam, tak menyela sepatah kata pun. Cerita Reno terdengar menarik, sekaligus mengerikan. Mereka sangat penasaran, siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Reno.


“Ia kemudian memanfaatkan undangan dari Anggara untuk ke kastil ini untuk menuntaskan dendamnya dengan Anggara, dan menemui ibunya yang konon berada di bawah kastil ini. Dan yang menarik adalah Helen juga membantu aksinya, entah apa yang mereka rencanakan. Kami tahu kalau pelaku itu berjenis kelamin perempuan ....” ucapan Reno terhenti.


“Tiara! Pasti Tiara! Aku sudah menduganya!” pekik Maira.


“Biar aku lanjutkan, Maira. Gadis ini sangat pintar berpura-pura di hadapan kalian, sayangnya begitu kalian lengah dia bisa berbuat apa saja. Kami sudah menggeledah kamar yang bersangkutan tadi siang. Di dalam lemari pakaiannya, kami menemukan foto saudara kembarnya yang dicoret-coret, serta sebuah benda yang sangat mencengangkan. Yaitu sebuah kapak berlumuran darah yang telah kering. Kami menduga kapak ini digunakan untuk aksi kejahatan sebelumnya,” lanjut Reno.


“Pasti kapak itu digunakan untuk membantai Yoga!” gumam Michael.


“Kami juga menemukan sebuah liontin berhias mawar, yang di dalamnya ada foto seorang wanita” ucap Reno lagi.


“Foto siapa?” tanya Hans.


“Foto seorang penulis terkenal. Karina Ivanova. Dari catatan yang kuminta dari Maira, penulis itu juga sudah dibantai di kebun teh. Dan yang tahu bahwa Karina ada di kebun teh hanya dua orang, yakni Cornellio dan dia. Tak ada seorang pun yang tahu kemana Karina pergi waktu itu. Apakah analisis ini masuk akal?”


Semua yang hadir manggut-manggut. Peristiwa pembunuhan Karina Ivanova adalah salah satu peristiwa mengerikan yang pernah dialami. Bagaimana mungkin bisa lupa?


“Penulis gadungan itu terus melancarkan aksinya. Ia mencuri novel milik Michael Artenton, kemudian menduplikat cara-cara pembunuhan di dalam novel itu, agar Michael menjadi tersangka. Kami menemukan pula novel Michael yang hilang dalam keadaan tergunting-gunting di lemari pakaiannya. Sayangnya kami tak sebodoh itu. Tak hanya itu, ia juga berusaha memfitnah Adrianna dengan mencuri parfumnya lalu meletakkan botol parfum itu di lemari Maira. Untuk menutupi kecurigaan, ia pura-pura bersahabat akrab dengan Adrianna. Ia juga berhasil meneror banyak penghuni lain, termasuk anak-anak muda yang sedang berkemah dekat air terjun. Tak hanya itu, ia juga merusak mobil agar akses ke kota benar-benar terputus. Bahkan ia juga merusak rem mobil yang dikendarai Ammar, sehingga terjun ke jurang,” urai Reno.


“Kurang ajar sekali dia! Ingin sekali aku menghabisinya dengan tanganku sendiri!” Hans terlihat menahan amarah.


“Kamu masih mau menidurinya? Aku sudah muak melihat topeng keluguannya!” cibir Maira.


“Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Elina,” cemas Aldo.


“Kamu tenang saja. Memang Elina dalam keadaan terluka saat aku bertemu dia terakhir di bawah tanah, lehernya dilukai oleh si pelaku itu, tetapi dr. Dwi sudah menanganinya!” ucap Dimas.


“Astaga! Aku harus melihat kondisinya segera!”


“Tenang, Aldo! Jangan bertindak konyol!” cegah Michael.


Ammar hanya terdiam. Sebelumnya ia memang sudah berdiskusi dengan kedua rekannya itu, sehingga ia tidak terlalu terkejut dengan pemaparan Reno dan Dimas.


“Kami bukan tanpa bukti. Sebelum memutuskan bahwa gadis ini pelakunya, kami sudah berdiskusi sebelumnya. Semuanya mengarah ke dia. Masalahnya sekarang, walau kita tahu nama pelaku ini, dia juga tidak mudah ditemukan. Dengan bantuan Helen, ia menguasai seluk-beluk kastil dan ruang bawah tanah. Dimas mengatakan bahwa Anjani, ibu kandung dari pembunuh itu sudah bertahun-tahun disekap di ruang bawah tanah. Tetapi selama ini ia dibantu oleh Helen agar tetap bertahan,” kata Reno.


“Jadi bagaimana langkah kita? Kami siap membantu membekuk dia!” ujar Michael bersemangat.


"Kita perlu strategi. Tak boleh gegabah!" ucap Reno.


“Tak dapat dipungkiri, pelaku dari semua kekacauan ini adalah Tiara Laksmi!"


***


Helen terhuyung karena lengannya tertembus peluru saat bergumul dengan Hans di ruang makan. Darah mengucur, menimbulkan rasa pedih. Ia memasuki salah satu bilik di ruang bawah tanah, setelah kabur melalui pintu rahasia di ruang baca. Di dalam bilik itu, telah menunggu Tiara Laksmi dalam keadaan gusar.


“Aku tertembak! Aku berhenti dari semua permainan ini. Aku nggak mau mati. Semua rencana telah gagal. Kita pasti tertangkap. Aku tak mau bantu kamu lagi, Tiara!” ucap Helen.


“Kamu bodoh, Helen! Harusnya kamu tidak ceroboh menyerang Hans saat di ruang makan. Gara-gara aksimu, semua hampir berantakan. Tapi aku yakin masih bisa lolos setelah semua ini. Tak perlu bunuh mereka semua, tetapi kini aku fokus untuk bunuh dokter keparat yang telah membunuh ibuku!” geram Tiara.


“Dokter Dwi masih hidup?”


“Ya! Bahkan dia menyelamatkan si bodoh Adrianna. Sebentar lagi mereka bersatu untuk melawan kita. Nah, aku punya satu ide untuk ini. Kita akan kunci semua pintu kastil rapat-rapat, lalu kita bakar kastil ini, agar mereka terpanggang hidup-hidup. Setelah itu kita kabur ke kota dengan menggunakan mobil polisi itu!” seringai Tiara.


“Tidak Tiara! Sudah cukup! Itu terlalu berbahaya! Aku sudah membunuh salah seorang anak muda itu, dan menyimpan mayatnya di kamar mandi. Aku nggak mau melakukan apa-apa lagi!” tolak Helen.


“Kamu menolaknya Helen?” tanya Tiara dengan marah.


“Iya Tiara! Aku nggak peduli dengan emas itu. Gara-gara itu semua aku hampir mati tertembak oleh polisi. Lakukan sendiri saja! Aku janji aku akan tutup mulut!” ucap Helen.


“Kurasa mereka sudah tahu identitasku, karena polisi dari kota itu banyak membawa fakta dan bukti. Tetapi aku nggak akan menyerah begitu saja. Aku bukan pengecut, Helen! Aku akan lolos dari semua ini!”


“Tidak Tiara! Aku tidak mau!”


“Bodoh! Kamu memang tidak berguna!” Tiara marah, kemudian menghunjamkan sebilah benda tajam ke perut Helen.


Jleb!


Perempuan tua itu tidak menyangka kalau Tiara akan melakukan itu. Ia merasakan benda itu menusuk perut, disertai nyeri luar biasa. Belum lagi ia sadar, Tiara sudah menikam tubuhnya berkali-kali. Helen roboh bak pohon tua. Darah membanjir di lantai!


“Mamp*us kau, pengkhianat! Jangan anggap lemah diriku. Tak ada lagi yang boleh anggap aku lemah atau merendahkanku! Aku akan tetap jadi pemenangnya. Kau dengar itu, Helen?” ucap Tiara pada jasad Helen yang sudah tak lagi bergerak.


“Kini giliran kalian akan tiba. Semua harus mati. Semua harus dihukum!”


Tiara berdiri, mengenakan jubah dan topengnya kemudian tertawa terkekeh. Sekelebat mata, ia keluar menghilang di gelapnya lorong.


***


PENGUMUMAN


Teman-teman, saya ucapkan terima kasih untuk kalian yang sudah dukung novel ini! Selamat, kalian telah memasuki episode-episode terakhir. By the way, selepas novel ini jangan kemana-mana ya! Karena Reno dan Dimas akan menghadapi kasus lain yang nggak kalah seru. Kasus seperti apa? Terus ikuti di novel ini ya. Terima kasih. Gamsa hamnida!