Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
153. Jurang


Klik!


Pintu apartemen terbuka. Sosok itu masuk ke dalam ruangan dengan paras gusar. Ia melihat sekeliling yang berantakan. Dilihatnya Nayya yang tertidur di lantai beralaskan selembar kain, sedangkan Gerry masih terjaga. Gerry hanya diam melihat kehadiran sosok itu, tanpa ada niat untuk bertanya lebih lanjut. Rencana menyiram air dengan termos ia tunda, karena situasi yang belum memungkinkan. Ia hanya membisu, tanpa menoleh.


“Kamu tidak tidur?” tanya sosok itu.


Gerry hanya diam tak menanggapi. Sosok itu mendekat, melempatkan selembar kertas undangan pada Gerry.


“Apa ini?” tanya Gerry sambil mengamati kertas undangan itu.


“Undangan isolasi dari polisi. Kamu tahu apa artinya? Artinya kita akan disekap oleh polisi di suatu tempat selama beberapa hari. Aku tidak mau kamu hadir di situ, karena kamu sudah tahu identiatas aku. Tetapi aku juga tidak mau menyekapmu terlalu lama di sini karena akan merepotkan. Biar Nayya yang ada di tempat ini, sampai dia mati karena frustasi dan kelaparan.” ucap sosok itu.


Biadab!


Umpat Gerry dalam hati. Entah binatang macam apa yang tega melakukan perbuatan itu. Ia hanya bisa menggertakan rahang menahan amarah. Saat ini yang bisa ia lakukan hanya berharap bahwa Nayya akan baik-baik saja.


“Jadi apa yang akan kamu lakukan?” tanya Gerry kemudian.


Sosok itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah pistol dari balik jaket hitam yang dipakainya. Kemudian menodongkan pada Gerry.


“Ikuti aku! Mumpung Nayya masih tidur,” perintah sosok itu.


Gerry tersentak melihat senjata yang mengarah dirinya. Tak ada pilihan lain, kecuali mengikuti kemana sosok itu pergi. Ia tak habis pikir, hendak kemana ia akan dibawa menjelang tengah malam begini. Ia melirik ke arah Nayya. Gadis itu tertidur dengan lelap karena lelah. Rasa iba menyeruak. Seharusnya ia bisa melindungi gadis malang itu, apa daya kondisinya sendiri terjepit. Sebenarnya ia lebih mengkhawatirkan keadaan Nayya daripada dirinya sendiri, tetapi ia menyesali kelemahannya.


Setelah keluar, sosok itu tak lupa mengunci apartemen kembali. Gerry berjalan dengan todongan senjata menempel di perut. Mereka menyusur lorong apartemen yang sunyi, karena hari memang tengah mendekati tengah malam. Mereka turun dengan menggunakan lift menuju tempat parkir.


Setelah masuk ke dalam mobil putih, mereka meluncur dengan Gerry yang menyetir, sedangkan sosok itu sebagai penunjuk jalan. Mereka melaju ke arah luar kota yang sepi dan gelap. Jalanan tidak lagi ramai, tetapi melewati sisi jurang yang cukup terjal. Gerry sendiri tidak tahu mengapa mereka pergi ke tempat itu.


“Kita berhenti di depan sana, yang ada pohon besar itu!”


Gerry menghentikan mobil tepat di bawah pohon besar yang tumbuh menjulang tepat di bibir jurang. Suasana sekitar sangat gelap dan sepi, karena jalan itu jarang dilewati oleh kendaraan. Gerry seperti pernah berada di tempat ini sebelumnya, tetapi sudah lama sekali. Ia tahu, bahwa lokasi ini cukup berbahaya, karena dikepung dengan jurang-jurang yang dalam.


“Mengapa kamu mengajakku ke sini?” tanya Gerry.


“Kamu ingat tempat ini nggak? Kita dulu pernah ke sini sama-sama kan?” Sosok itu balik bertanya.


“Ya, tentu saja. Aku sangat ingat tempat ini. Sayangnya aku ingin segera melupakannya,” ucap Gerry.


“Kita pernah berdiri di pinggir jurang itu, melihat betapa dalamnya dasar jurang. Dan kamu pernah berkata kepadaku kalau semisal ada mobil terjun dari atas jurang ini, dapat dipastikan penumpangnya nggak akan selamat. Kamu masih ingat kan?” tanya sosok itu lagi.


“Ya, tentu saja aku ingat. Sekali lagi, aku ingin menghapus semua waktu yang telah kuhabiskan bersamamu. Kamu bukan lagi seorang yang kukenal. Jadi jangan ingatkan aku pada hal-hal nggak penting seperti itu, ” ucap Gerry lagi.


Sosok itu tertawa kecil, kemudian menoleh ke arah Gerry.


“Dan kamu membunuh orang lain hanya untuk memuaskan nafsu dendam yang sebenarnya dikuasai setan itu? Kamu menyalahkan aku atas semua yang kudapat?”


“Iya Ger. Aku hanya ingin menuntut keadilan. Aku hanya merasa apa yang kudapatkan ini tidak sepadan. Aku akan mencari keadilan dengan caraku sendiri. Semua yang telah menyakitiku pantas mati,” ujar sosok itu dengan suara bergetar.


“Lalu bagaimana dengan polisi wanita yang kamu bunuh itu? Ia sama sekali tidak mengenalmu, mengapa kamu bunuh pula dia?”


Siapa pun yang akan menghalangiku rencanaku maka dia juga pantas mati!”


“Termasuk aku? Apakah aku pantas mati?”


“Ya, termasuk kamu Ger. Jangan pikir kamu tidak bersalah. Ada beberapa kesalahan yang sempat kusimpan dalam hati yang nggak mungkin kulupakan begitu saja. Sayangnya aku tidak ingin membahasnya sekarang. Mungkin hari ini adalah pertemuan kita yang terakhir .... “


“Pertemuan terakhir? Aku tidak paham maksudmu!”


“Sebentar lagi kamu akan paham. Tetaplah di dalam mobil!”


Sosok itu keluar dari mobil, kemudian mengunci pintu mobil. Dari dalam mobil, Gerry bisa melihat sosok itu berjalan mendekati bibir jurang, melongok ke dasar jurang. Ia mondar-mondir ke arah depan dan belakang, sembari tersenyum sendiri. Gerry sendiri bingung, apa yang hendak dilakukan sosok misterius itu?


Tiba-tiba Gerry merasakan mobil bergerak maju perlahan mendekati bibir jurang. Sontak Gerry menoleh ke belakang. Ia melihat sosok itu mendorong mobil mendekati bibir jurang.


“Apa ... apa yang akan kamu lakukan?” Gerry mulai merasa panik.


Sosok itu tidak menjawab. Ia terus mendorong mobil semakin dekat ke arah jurang. Peluh dingin langsung mengucur dari kening Gerry. Ia baru paham dengan kalimat yang dimaksud sosok itu, bahwa ia mungkin ini adalah pertemuan terakhir. Rupanya sosok itu hendak menghabisinya dengan cara menjatuhkan mobil ke dalam jurang.


“Kamu gila! Hentikan! Tolong hentikan!” pekik Gerry.


Sayangnya sosok itu tak menggubris teriakan Gerry. Ia terus mendorong, bahkan kali ini lebih kuat. Roda mobil sudah menginjak bibir jurang, sehingga mobil sudah mulai miring ke bawah.


“Tidak! Kamu gila! Tolong!”


Gerry merasa panik. Dari dalam mobil ia bisa melihat dasar jurang yang begitu dalam dan gelap. Ia tidak bisa membayangkan seandainya hidupnya berakhir dalam dasar jurang itu. Pembunuh berdarah dingin itu seolah tak berperasaan. Senyumnya tersungging saat mobil sudah siap terjun ke dalam jurang.


“Ucapkan selamat tinggal, Ger!” ucap sosok itu.


“Lepaskan aku! Aku janji tak akan memberi tahu identitasmu pada siapa pun. Lepaskan aku!”


Gerry berteriak histeris dari dalam mobil. Sayangnya, sosok itu seperti tak mau mendengar ucapan Gerry. Ia kembali mendorong mobil sekuat tenaga, hingga separuh badan mobil sudah melewati tepian jurang. Akibatnya mobil itu hilang keseimbangan.


Gaya grativasi memang kejam. Tanpa ampun, mobil putih dengan Gerry yang masih ada di dalamnya segera meluncur deras, terjun ke dalam jurang yang dalam. Di dalamnya, Gerry melolong ketakutan, sampai pada akhirnya suaranya hilang ditelan kedalaman jurang!


***