
Ringo meringkuk di sudut ruangan dengan perasaan cemas. Matanya tajam menatap pintu yang ia ganjal degan sebuah meja kayu tua. Ia tidak yakin apakah meja itu cukup kuat menahan apabila ada seseorang yang mendobrak pintu. Dalam pikirannya saat ini ia harus berusaha bertahan dari kejaran sosok berjubah yang ia temui di hutan tadi. Firasatnya mengatakan bahwa sosok itu mempunyai niat buruk.
Beberapa menit ia menahan napas sambil menatap lekat ke arah pintu. Ia berharap pintu itu tidak terbuka sedikit pun. Dadanya berdegup. Suasananya tegang, membuat keringat dingin menetes mengaliri pelipis. Apa yang harus ia lakukan saat sosok itu menyusup masuk? Sedangkan saat ini tak ada apa pun yang bisa dijadikan pertahanan?
Ringo menyukai tantangan, tetapi bukan hal seperti ini. Ia gemar bermain game petualangan yang ekstrim di komputer rumahnya. Namun saat ini situasi terasa genting, karena nyawanya dipertaruhkan. Ia tidak bisa menganggap suasananya sama dengan game yang biasa ia mainkan. Di dalam game ia bisa menggunakan hint untuk mengecoh musuh, tetapi di sini dia harus memutar otak sekeras mungkin.
Lima menit lebih ia menunggu dengan waspada, tetapi pintu itu tetap tak bergerak, seolah sosok berjubah itu membiarkan saja dirinya masuk ke dalam pondok yang misterius ini. Karena tak ada pergerakan apapun, ia beranikan diri untuk menggeser meja, membuka pintu, dan mengintip suasana di luar. Di sekitar hanya terlihat deretan pepohonan yang menjulang. Suasana begitu sepi dan lengang, bahkan burung pun juga berhenti mencuit. Ringo merasa ragu, apakah dia harus tetap berada di dalam pondok atau kembali menemui Melly yang menunggu di tepi sungai?
Ia masih menimbang-nimbang. Apabila dia tetap di dalam pondok, bagaimana kalau sosok itu tiba-tiba menyusup. Bagaimanapun, pertahanan di dalam ruangan akan sangat sulit karena ruang gerak yang terbatas. Ini berbeda dengan di luar. Paling tidak, ia masih berlari ke segala arah dengan menggunakan alam sebagai alat perlindungan. Hal itulah yang ada di pikiran Ringo.
Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk segera kabur dari pondok menyeramkan dengan peti mati di dalamnya itu. Ia bersiasat, ketika keluar dari pondok ia harus segera berlari sekencang mungkin, tak boleh menoleh ke belakang. Semasa sekolah, Ringo merasa bukan sebagai anak alim dan penurut, karena ia sering kabur ke belakang sekolah, berlari saat guru memergoki dia merokok. Tentu bukan hal sulit untuk lolos kali ini. Itu yang ada di pikirannya.
Kembali ia melihat sekeliling. Suasana masih tetap sama. Hening, bahkan desir angin juga tak terdengar. Ia beranikan melangkah keluar, berharap agar sosok itu tak menampakkan diri. Dalam waktu sepersekian detik, ia segera berlari. Yang di pikirannya saat itu hanya menjauh sejauh mungkin dari pondok. Ia mempercepat gerak kaki, tanpa menoleh kanan-kiri, bahkan menerobos semak belukar.
Sayangnya setelah beberapa lama ia berlari, ia berteriak kesakitan. Tubuhnya jatuh tersungkur. Sesuatu yang menyakitkan serasa merobek leher. Ia meringis kesakitan sambil memegang lehernya yang berlumuran darah!
***
Suara jeritan Ringo menggema, terbang bersama angin menuju pelosok hutan. Suaranya yang melengking membuat sekawanan monyet berlarian naik ke atas pohon. Demikian pula segerombol burung yang sedang mencari makan segera beterbangan.
Suara lengkingan itu perlahan sampai juga di telinga Melly. Gadis itu semakin gelisah, tetapi ia tidak yakin itu suara Ringo. Ia merasa kepergian Ringo sudah terlalu lama. Perlahan-lahan kecemasan merayapi hatinya.
“Seperti suara jeritan. Jangan-jangan itu suara Ringo,” gumamnya.
Diam-diam ia merasa agak jengkel, karena Ringo masuk ke dalam hutan terlalu lama. Kini ia ragu, apakah harus menyusul Ringo ke dalam hutan, atau kembali ke tenda menemui teman-temannya. Ia ingin menyusul Ringo, tetapi takut tersesat juga. Apabila ia meninggalkan Ringo, ia khawatir Ringo akan gelisah mencari dirinya.
“Ringooo!” pekik Melly kemudian.
“Ringooo!”
Kembali ia berteriak, sambil melangkahkan kaki menaiki tebing. Sama seperti sebelumnya, tak ada yang membalas teriakannya. Ia menyusuri tebing yang agak mendaki, dengan pemandangan air terjun di sampingnya. Sungguh, pemandangan yang begitu indah, seandainya suasananya tidak menegangkan seperti ini. Yang ada di pikiran Melly adalah bagaimana cara menemukan Ringo.
Dalam waktu yang tak terlalu lama, ia sampai di atas tebing yang berbatu-batu, dengan pemandangan sungai di lereng agak ke bawah. Suara aliran air terdengar jelas di antara bebatuan. Ia sedikit terengah-engah karena jalan yang dilalui agak mendaki. Kembali matanya menyapu berkeliling, berharap melihat sosok Ringo di sekitar tempat itu. Sayangnya, yang ada hanya deretan pohon yang menjulang, disertai teriakan-teriakan binatang hutan.
Dari pinggiran sungai, ia bisa melihat sebuah jalan setapak kecil yang membelah hutan. Ia berpikir Ringo pasti melewati jalan itu. Melly melangkah, dengan pandangan waspada.
Sementara matahari kian meninggi, tetapi tidak terasa panas karena sinarnya tak bisa menerobos rimbunnya daun-daun pepohonan. Dasar hutan terasa lembab, dipenuhi daun-daun kering yang membusuk, serta tanaman-tanaman mirip jamur. Sejumlah serangga hutan merayap di permukaan tanah basah. Perasaan Melly sungguh tidak nyaman. Ia ingin kembali, tetapi sudah kepalang masuk hutan.
Sesaat kemudian ia berhenti, kembali menatap berkeliling. Suara gemerisik daun-daun kering di sekitar membuatnya waspada. Ia merasa tiap langkahnya ada yang mengamati. Ia membalikkan badan, tetapi tak ada seorang pun di sekitar situ.
“Ringooo! Kamu di mana sih? Nggak lucu tau!” pekik Melly kesal.
Melly kembali melangkahkan kakinya menyusur jalan setapak. Beberapa langkah ia berjalan, ia dikejutkan dengan seutas benang yang sengaja dipasang di antara pepohonan.
Benang itu terasa tajam, saat Melly menyentuhnya. Benang itu mengingatkan pada benang layang-layang yang digelas saat masih kecil. Kondisi benang itu putus dan Melly sangat terkejut ketika ia melihat bekas darah di ujung benang yang putus, seperti habis dipakai untuk menjerat sesuatu.
“Astaga! Siapa yang memasang jebakan seperti ini!” gumamnya.
Belum lagi ia menyadari apa yang terjadi, pemandangannya tertuju pada tetesan darah di atas daun kering. Melly bingung, darah siapa ini? Apakah ini darah Ringo? Rasa takut semakin menyeruak. Teringat kembali ia dengan peristiwa-peristiwa ganjil sebelumnya, mulai dari isi tas yang berhamburan, lalu baju dan handuk yang lenyap, dan terakhir adalah benang yang sengaja dipasang untuk menjerat ini!
Hal ini membuat ia tak mau berpikir lebih lama lagi. Perlahan ia berdiri, berpikir bahwa memang ada yang tak beres di hutan. Segera ia kumpulkan segenap energi, untuk meninggalkan tempat itu. Ia mencemaskan Ringo, tetapi ia juga tak mau mati konyol. Ia harus segera kembali ke tenda dan memberi tahu Sonya dan Antony, kalau mereka dalam bahaya!
***