Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXIII. An Investigation


Bau busuk menyergap hidung Ammar Marutami semakin menguat. Polisi itu meninggalkan Adrianna, memeriksa setiap jengkal tanah di sekitar tempat itu. Ia berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Ia yakin, ada sesuatu yang tak biasa sedang terjadi. Suara dengung lalat menarik perhatian Ammar. Indera pendengarannya menajam.


Di bawah rerimbunan tanaman teh, Ammar menemukan asal bau busuk menyengat. Sosok jasad perempuan dengan kulit melepuh hampir tak dikenali, dengan belatung bertebaran di sana-sini!


Mungkin untuk orang awam.pemandangan itu terlihat menjijikkan. Karena Ammar Marutami adalah seorang yang polisi yang berpengalaman, ia hanya bisa menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut tetapi lebih karena merasa prihatin. Jelas yang ada di hadapannya itu adalah jasad wanita yang membusuk. Lengannya hilang, bekas dikoyak binatang bergigi tajam.


“Astaga!” Adrianna yang datang menyusul Ammar, turut pula menyaksikan pemandangan menggidikan itu.


Sayang mentalnya tak terasah kuat, ia langsung membuang muka sembari mencari tempat untuk muntah. Adrianna segera dapat mengindentifikasi jasad itu adalah Karina Ivanova, berdasar pakaian yang dikenakannya.


Penemuan jasad Karina yang telah membusuk itu sontak membuat penghuni kastil semakin khawatir, terutama para penulis wanita. Sejatinya, Ammar Matutami tak mau mengungkap identitas jasad tersebut. Sayangnya, Adrianna yang terlanjur shock, segera menceritakan temuan itu kepada Tiara dengan terbata-bata.


“Aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Jasad Karina tampak sangat mengerikan, aku tak mampu mendeskripsikannya. Aku langsung menjauh karena tak sanggup melihatnya. Isi perutnya itu, ya Tuhan, aku melihatnya ...,” cerita Adrianna.


“Kamu yakin? Aku masih bicara dengan Karina sebelum ia berpamitan ke kebun teh!” sambut Tiara.


“Aku yakin sekali! Aku masih ingat sekali dengan motof baju yang dipakainya. Bahkan aku pernah bertanya padanya baju itu keluaran rumah mode mana?”


Kedua wanita itu tercekat. Cerita Adrianna kemudian beralih ke para penghuni lain. Bagi para pria, mereka tak terlalu kaget karena sebelumnya mereka telah menemukan jasad Karina terlebih dahulu. Namun, bagi para wanita, berita ini seolah teror.


Bagaimana tidak?


Awalnya mereka mengira bahwa pembunuhan hanya terjadi pada penghuni asli kastil, yaitu Anggara dan Yoga. Dengan ditemukannya jasad Karina, kecemasan melanda seketika, mengingat Karina adalah seorang tamu undangan. Ini berarti, maut bisa saja menghampiri kapan saja.


Sementara jasad Karina tak bisa dievakuasi begitu saja, karena kondisi yang sudah rusak. Tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu tim medis dari kota. Diperkirakan tim ini akan datang beberapa hari, tak bisa cepat karena harus mengurusi otopsi beberapa korban yang sudah dibawa sebelumnya.


Suasana kastil menjadi semakin sunyi ketika malam tiba. Ammar kembali melanjutkan penyelidikan di kamar pribadi Anggara Laksono, berusaha membaca benda apa pun yang berada di sana. Termasuk koleksi foto yang menarik perhatiannya. Di salah satu foto bernuansa hitam putih itu, terlihat foto Anggara bersama seorang wanita dengan seorang bayi mungil.


Inikah Anastasia? Pikir Ammar.


Ia kembali membuka lembar buku biografi milik Anggara. Di halaman 64 buku tersebut, tertulis bahwa Anggara Laksono menikahi Anastasia Pratiwi tanpa dikaruniai seorang anak pun. Lalu siapa yang sosok perempuan yang berfoto bersama dengan bayi mungil itu?


Ia melihat wajah perempuan dalam foto sangat berbeda dengan lukisan diri Anastasia yang tergantung di dinding. Jelas perempuan ini bukanlah Anastasia Pratiwi. Kemudian, ia melihat di ujung foto hitam putih tersebut, tertera waktu pengambilan foto. Ternyata foto itu diambil di bulan Oktober dua puluh tahun yang lalu. Setidaknya, bayi yang yang ada dalam foto tersebut berusia sekitar dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun sekarang.


Tapi siapa mereka?


Teka-teki semakin membelit rumit. Penyelidikannya kini beralih ke kamar Yoga yang letaknya di bagian belakang kastil. Kamar itu sekarang kosong, dan bernuansa menyeramkan. Tak banyak yang ditemukan di sana. Ammar menemukan banyak puntung rokok di asbak, minuman beralkohol dan....


Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di bawah ranjang. Sebuah celana dalam perempuan berhiaskan renda berwarna merah jambu. Tidak mungkin Yoga memakai celana dalam seperti itu. Pikiran Ammar langsung menyasar ke para wanita penghuni kastil. Segera ia amankan celana dalam itu, untuk ditanya siapa pemiliknya.


Kini Ammar beralih ke lemari Yoga. Sayangnya, ia hanya menemukan pakaian-pakaian dan secarik foto seorang perempuan tersimpan di bawah tumpukan pakaian. Ammar mengamati seraut wajah cantik dalam foto itu.


“Rania ...,” desis Ammar.


Ia tidak pernah menduga antara Yoga dan Rania ada hubungan khusus. Tentu mereka menyembunyikan hubungan gelap itu. Kini, Ammar baru menyadari mengapa Rania sangat terpukul dengan kematian Yoga. Atau jangan-jangan ini hanya sandiwara belaka?


Sebenarnya ia ingin mengabaikan, tetapi rasa ingin tahu membuatnya beranjak dan membuka pintu. Sesosok wanita muda, dengan kimono tidur berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah ketakutan.


“Ada apa Maira?” tanya Ammar.


“Aku sangat ketakutan, Ammar!” ujar Maira dengan wajah cemas.


“Takut? Takut apa? Bukankah kamu sudah terbiasa dengan suasana kastil ini? Aku rasa tak ada menakutkan di sini sekarang ini. Semua akan baik-baik saja!”


“Aku tak bisa beristirahat sejak penemuan potongan kepala di kamar Tiara. Sungguh, ini sangat mengerikan! Aku juga mendengar suara aneh-aneh di kamarku. Aku sangat takut!” keluh Maira.


“Oya? Berhentilah berhalusinasi, Maira. Semua akan baik-baik saja. Kamu nggak perlu risau. Nanti kalau ada apa-apa kamu tinggal berteriak dan aku janji akan segera datang,” janji Ammar.


“Aku takut tidur sendiri malam ini!”


“Lalu? Kamu akan tidur dengan siapa? Kurasa Adrianna tak akan menerimamu karena ada Tiara di kamarnya. Rania juga tak mungkin menerimamu karena ia sedang dalam keadaan terpukul setelah kematian Yoga. Hmmm. Atau kamu mau tidur bersama Helen?” tawar Ammar.


“Bagaimana kalau aku tidur saja di kamarmu?” celetuk Maira.


Ammar membuang napas. Sebagai seorang pria yang jauh dari istri, tentu akan tertarik dengan tawaran Maira yang malam itu menyembunyikan keindahan tubuhnya di balik kimono tidur. Ammar secara tegas menampiknya, walaupun sempat melirik apa yang tersembul di balik kimono. Ammar hanya bisa mengagumi dalam diam, tanpa ada hasrat yang membuatnya terseret lebih jauh.


“Aku tak bisa! Selamat malam, Maira!” Ammar kembali masuk, seraya menutup pintu kamar.


“Tunggu!” ujar Maira.


Ammar mengurungkan niatnya.


“Kamu ingin sebuah info menarik tentang Karina? Aku ingin memberitahumu kalau kamu mengizinkanku masuk ke kamarmu!”


“Oh, maaf Maira! Aku tak bisa mengambil informasi dari seorang tersangka sepertimu, karena dikhawatirkan tidak akan obyektif. Jadi lebih baik kamu kembali ke kamarmu dan berusahalah untuk tidur karena besok aku akan berbicara dengan kalian!”


“Aku tidak akan memberi penawaran dua kali dan ....”


Braak!


Ucapan Maira terputus, ketika secara sengaja Ammar membanting pintu tepat di depan matanya. Kesal bercampur marah, Maira berlalu dari hadapan Ammar Marutami.


Ia kembali dalam kamarnya yang sunyi, meraih sebuah gelas kristal dan menuang minuman minuman beralkohol.


“Semoga alkohol ini bisa menenangkan pikiran,” gumamnya.


***