
Niken masih mengawasi gerak-gerik Renita yang sedang melaksanakan syuting. Ia menilai bahwa aktris itu tidak bisa berakting secara maksimal, karena ada sesuatu yang dipikirkannya. Berkali-kali ia harus menjalani pengambilan gambar berulang, karena tidak bisa fokus. Hal ini membuat sang sutradara menjadi gusar. Tampang sutradara yang masih terbilang muda itu tampak kesal.
"Aku sebaiknya pulang saja dan beristirahat. Aku agak nggak enak badan hari ini, sehingga tidak bisa maksimal. Maaf ya," ucap Renita kepada semua kru yang bertugas di sana.
"Harusnya kamu lebih fokus dan profesional. Kalau syuting ini ditunda lagi, maka biaya produksi akan membengkak, dan produser bisa berang karena ulahmu itu," sutradara itu dengan kesal.
"Iya, tapi mau gimana Mas? Pikiranku sedang kacau hari ini, jadi aku mohon untuk bisa ditunda saja pengambilan gambar hari ini. Besok aku janji akan lebih baik. Nanti biar aku menghubungi produser kalau memang ini jadi alasan. Aku benar-benar nggak bisa maksimal, nanti malah jatuhnya aktingku akan jelek kalau dipaksakan," ucap Renita.
"Ya udah terserah kamu lah! Break! Kita kemasi alat-alat syutingnya! Aktris kita lagi ngambek!"
Sutradara muda itu tampak kesal, kemudian meninggalkan Renita begitu saja. Aktris muda itu juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia kemudian mengambil tas di kursi, kemudian berjalan menjauhi tempat syuting tanpa berniat izin kepada siapa pun. Pikirannya mendadak kalut. Kepalanya terasa berdenyut.
Niken yang mengetahui hal itu, segera mendekati Renita yang berjalan menjauh. Tentu saja, Renita tak menggubris Niken yang setengah berlari mengejarnya. Bahkan Renita mempercepat langkah, berusaha menghindari Niken.
"Renita tunggu!"
Niken setengah berteriak, sehingga Renita terpaksa menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan, menatap Niken. Ia tidak pernah bertemu dengan polisi wanita itu, sehingga ia agak heran.
"Maaf ya, Mbak, kalau minta foto atau tanda tangan lain kali saja ya. Saya lagi nggak enak badan," kata Renita.
Ia mengira kalau Niken adalah salah satu fans yang minta tanda tangan, karena kadang hal itu terjadi di tempat syuting. Kadang ada saja yang menungguinya sampai selesai syuting untuk meminta tanda tangan.
"Oh bukan ... bukan. Saya nggak lagi minta tanda tangan atau foto. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Anda. Bisakah kita bicara?" tanya Niken.
"Hal penting apa ya? Anda siapa? Kalau mau jualan kosmetik maaf saya tidak ada waktu!" ketus Renita.
Niken menggeleng, kemudian mengeluarkan kartu anggota kepolisiannya, seraya menunjukkan pada Renita. Aktris muda itu tampak kaget karena ia sedang berhadapan dengan seorang polisi. Seingatnya, ia tidak pernah melakukan perbuatan yang melawan hukum. Tentu saja hal ini sedikit mengagetkannya.
"Maaf ... apa salah saya ya?" tanya Renita.
"Bisa kita bicara? Tapi kurasa nggak di sini," kata Niken.
"Kita bicara di dalam mobil saya saja!" kata Renita.
Niken setuju dengan ajakan Renita. Keduanya segera melangkah ke mobil Renita yang diparkir di lahan yang khusus disediakan untuk memarkir kendaraan. Mereka duduk di bagian depan mobil, sambil melihat ke arah jalanan yang tak begitu ramai hari itu.
"Waktu saya tidak banyak, Bu. Saya ingin segera pulang karena kepala saya pusing," ucap Renita.
"Oke, tapi sebelum saya memberitahu Anda, kuharap Anda bepikir positif kepada saya terlebih dahulu. Mungkin Anda nggak akan percaya dengan ucapan saya. Tapi tugas saya adalah mengingatkan Anda," ucap Niken.
"Langsung saja, Bu. Ada apa sebenarnya?"
"Jadi begini, beberapa hari lalu Pak Reno, salah seorang polisi yang menagani kasus Daniel Prawira, mendapat sebuah paket berisi ancaman pembunuhan yang intinya, bahwa sasaran pembunuhan berikutnya adalah Anda. Nah, untuk itu saya wajib untuk melindungi Anda. Kami minta agar Anda bersikap waspada dan jangan menyendiri. Kalau perlu, kalau diperbolehkan, saya akan menemani Anda di rumah malam ini. Karena dalam ancaman pembunuhan itu disebutkan bahwa Anda akan dibunuh hari ini," ucap Niken.
Mendengar itu, bukannya Renita takut, tetapi malah tertawa seolah mengejek. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lelucon apa ini? Seseorang ingin membunuh saya? Dan saya harus percaya bahwa saya saat ini sedang diintai seseorang yang ingin membunuh saya, begitu? Bu, hidup saya tak istimewa. Nggak ada keuntungan apa pun membunuh saya. Jadi kurasa ... yah! Mohon maaf, saya nggak percaya itu!" tegas Renita.
"Tunggu, Bu! Apakah dalam surat ancaman itu mengatakan jelas bahwa nama saya yang akan jadi korban pembunuhan berikutnya?"
"Tentu tidak, Renita! Maaf. Saya sebut namamu. Tapi kami belajar dari kasus-kasus terdahulu, seperti Daniel, Anita, dan Ollan. Mereka semua mendapat ancaman pembunuhan yang serupa sebelum terbunuh. Kami nggak ingin ini semua terjadi padamu. Kamu nggak boleh mengabaikan itu!" tandas Niken.
"Oke ... oke. Aku berterimakasih atas usaha Ibu mengingatkan saya. Tapi mohon maaf, Bu. Saat ini saya lagi banyak pikiran, dan aku nggak mau tambah pusing ngurusin ini. Jadi kuharap nggak usah ganggu saya. Saya bisa melindungi diri saya sendiri. Silakan ibu keluar dari mobil, karena ada sesuatu yang harus saya kerjakan. Mohon maaf, bukannya saya tak percaya polisi. Kalaupun ada yang mau bunuh saya, saya akan sewa bodyguard. Aku lebih percaya mereka daripada polisi!" ucap Renita dengan nada tajam.
"Sebagai polisi, saya berkewajiban melindungimu sekalipun kamu nggak percaya!"
"Oke, silakan! Tapi saat ini saya harus pergi karena ada janji dengan seseorang. Kalau mau tetap lindungi saya, silakan saja!"
Niken merasa kesal dengan perkataan Renita, bahkan terlintas dalam pikirannya agar Renita ini mati terbunuh saja daripada membuat repot. Namun, ia berusaha bersabar. Ia memutuskan untuk keluar dari mobil, kemudian mengikuti mobil Renita dari jarak tertentu.
***
Setelah mengitari rumah yang lumayan mewah itu, Reno dan Dimas berniat untuk melihat kondisi dalam rumah. Mereka mengetuk pintu, dan seorang gadis belasan tahun membukanya. Gadis itu terlihat terkejut melihat kehadiran dua pria asing di rumahnya. Ia sendiri agak malu karena hanya mengenakan celana pendek di atas lutut dan rambutnya ditutup handuk, karena memang ia hendak mandi.
"Oh, maaf. Ada apa ya?" tanya gadis belia itu dengan heran.
"Maaf, Dek. Kami dari kepolisian, sebenarnya kami ingin melihat kondisi dalam rumah. Ini rumah Renita Martin kan?" ucap Reno.
"Oh iya, Pak. Ini rumah kakak saya, Renita Martin. saya Rani adiknya. Kalau boleh saya tahu, ada apa ya, Pak kok mau memeriksa rumah? Apakah kakak saya terlibat dalam kasus narkoba atau apa? Setahu saya kakak saya orang baik, nggak pake ini-itu. Mungkin salah paham, Pak," ucap Rani takut-takut.
"Bukan ... bukan. Bukan masalah narkoba dan sejenisnya. Kami hanya ingin melihat sistem keamanan di rumah ini, hanya untuk memastikan bahwa kalian aman," ucap Reno lagi.
"Oh, jangan khawatir, Pak. Kami aman kok. Nggak ada apa-apa di sini. Jadi Bapak tenang saja. Lagian Kak Renita udah pasang alarm anti maling. Jadi kalau gerakan orang tak dikenal, alarm akan berbunyi. Jadi mohon maaf,saya nggak bisa izinkan Bapak-bapak masuk. Kak Renita melarang untuk mengizinkan orang lain masuk selama dia nggak ada di rumah, Jadi mohon maaf banget ya, Pak!" kata Rani.
"Hmm, kami ini polisi. masa nggak percaya juga sama kami?" Dimas ikut berbicara.
"Bu-bukan saya nggak percaya sih Pak. Tapi pesan Kak Renita begitu, jadi saya patuh saja. Maaf sekali ya Pak!"
"Oke ... oke, nggak apa-apa kalau tidak boleh masuk. Kami agak lega ketika kamu bilang tadi bahwa di rumah ini ada sistem alarm yang bisa berbunyi saat ada orang masuk ke dalam rumah. Tetapi biar bagaimanapun, kewaspadaan itu penting. Ini nomor saya, silakan hubungi kalau ada apa-apa," ucap Reno sambil menyerahkan selembar kartu nama pada Rani.
Gadis itu tersenyum kecil menerima kartu nama dari Reno. Kedua polisi itu kemudian berpamitan, meninggalkan kediaman Renita Martin. Rani mengawasi kepergian mereka dari jendela kaca. Ia melihat kembali kartu nama pemberian Reno, kemudian mencibir, seraya bergumam," Polisi menyebalkan! Bilang aja cari proyek!"
Ia membuang kartu nama Reno ke dalam tempat sampah.
***