
Badi masuk ke halaman depan yang terlihat sepi. Ia tetap menjaga kewaspadaan, jangan sampai ada orang lain yang mengetahui keberadaannya. Ia ingin memastikan terlebih dahulu apakah benar rumah besar ini memang digunakan untuk tempat isolasi si pembunuh itu. Badi mengendap di antara pohon ke pohon, mendekati halaman samping yang juga terlihat sepi.
Para penghuni di rumah isolasi itu baru saja menyelesaikan sarapan pagi, dan belum ada yang beraktivitas di luar, sehingga tak menyadari kehadiran Badi di halaman. Badi bergerak menuju halaman samping. Dari balik serumpun bunga melati yang tumbuh lebat, ia mengintip kembali, memperhatikan bangunan rumah tua yang kokoh berdiri itu.
Badi tak melihat serang pun di sekitar bangunan. Dalam hati ia berharap agar ia tak salah masuk rumah. Sekilas, bangunan ini memang tampak tak berpenghuni. Badi kembali bergerak ke halaman belakang yang tak kalah lengang. Namun, ia bisa melihat sebuah rumah kecil di belakang rumah utama yang besar. Ia juga melihat seorang pria paruh baya sedang membersihkan tanaman sayur-sayuran yang sengaja ditanam untuk mengisi lahan kosong.
Badi tetap waspada, jangan sampai pria paruh baya itu mengetahui keberadaan dirinya. Sebab, ia memang masuk dengan cara merusak gembok di gerbang depan. Kalau pria paruh baya itu tahu, mungkin ia akan dianggap orang yang mempunyai maksud tidak baik. Ia kembali mengendap menuju ke pintu masuk yang menghubungkan dapur. Sebelum ia masuk ke sana, ia mengintip apakah situasi di dalam dapur aman.
Di dalam dapur, Bu Mariyati tengah membereskan sisa-sisa makanan yang dipakai untuk sarapan pagi ini. Dia tengah mencuci peralatan makan di wastafel. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Badi. Ia yakin perempuan ini sedang konsentrasi mencuci, sehingga ia bisa menyelinap ke dalam rumah. Hal itu segera dilakukan, sebelum Bu Mariyati menyadari keberadaannya.
Kini berada Badi berada di area dalam rumah, tepatnya di sebuah lorong kamar-kamar yang ditempati penghuni pria. Badi bingung, hendak kemana ia melangkah. Rumah ini kelihatan sepi dan lengang. Kalau saja ada keberadaan orang di situ, tentu dia akan dianggap sebagai pencuri atau orang yang mempunyai niat tidak baik.
Tiba-tiba, Badi mendengar langkah kaki dan suara orang yang bercakap-cakap medekati tempat ia berdiri. Sesaat Badi bingung hendak ke mana. Segera ia masuk ke salah satu kamar yang ada di situ. Ia tidak tahu kamar siapa, yang jelas ia tidak ingin keberadaannya diketahui seseorang untuk saat ini. Ternyata suara orang yang bercakap-cakap itu semakin dekat, dan mungkin akan memasuki kamar tempatnya bersembunyi.
Terpaksa, Badi segera menyembunyikan diri di kolong ranjang. Benar saja, dari kolong ranjang ia bisa melihat sepasang kaki memasuki kamar tempatnya bersembunyi. Dari kaki yang ia lihat, jelas itu adalah kaki pria, karena menggunakan celana panjang dan bentuk kakinya memang kaki pria. Ia tidak bisa memastikan kaki siapa itu, tetapi ia mendengar percakapan kecil antara dua orang pria.
“Jadi nanti kamu akan melawan Pak Dimas nanti malam, Lex? Perhatikan baik-baik strateginya. Dia terlihat jenius, tapi pasti punya titik kelemahan. Lena sudah berhasil kubekuk kemarin, kini aku tinggal menunggu dirimu. Aku ingin sekali bermain denganmu,” ucap suara pertama.
Badi tidak bisa memastikan itu suara siapa, yang jelas ia mendengar dua suara orang pria bercakap-cakap itu terdengar masih muda.
“Aku pasti bisa mengalahkan Pak Dimas. Kurasa kemenanganmu atas Lena masih belum resmi, karena Lena sebetulnya belum kalah, hanya saja ia tidak mau melanjutkan permainan. Mungkin kalau ada waktu kamu harus bertanding melawan dia kembali,” ucap suara yang satu lagi.
“Tidak bisa begitu juga sih. Dalam pertandingan olahraga mana pun, tidak mau melanjutkan permainan bisa diartikan menyerah. Jadi yah ... buat apa juga dilanjutkan? Aku hanya ingin melihat siapa di antara kalian yang menjadi pemenang, dan nanti akan melawanku di babak final,” kata suara pertama.
“Oke, oke. Mari kita lihat nanti siapa yang berhak dijuluki Raja Catur!”
“Oya ngomong-ngomong, pagi ini jadwal kita apa ya? Apa Pak Dimas akan memberikan materi pelatihan atau bagaimana?”
“Kalau lihat jadwal, hari jam sembilan pagi, Pak Dimas akan mengajak kita eskplor area belakang rumah. Kita akan bekerja bakti membuat papan-papan peringatan di sekitar sumur-sumur tua, agar tidak ada lagi yang terjerumus ke dalam sumur itu,” kata suara kedua.
“Ya dah aku mau siap-siap dulu,” ucap suara pertama.
Badi mendengar suara pintu ditutup, tetapi ia masih melihat salah seorang pria yang bercakap-cakap itu masih di dalam kamar. Badi hanya mendengar, mencoba menganalisis dari percakapan mereka berdua. Ia berpikir, bahwa ia tidak salah rumah, karena salah seorang pria tadi menyebut nama Dimas. Nama itu tidak asing bagi dirinya. Kalau memang benar ada kegiatan di luar, maka rumah ini dalam keadaan kosong, dan ia mempunyai kesempatan untuk melacak keberadaan kamar sosok pembunuh adiknya itu.
Badi melirik ke arah jam tangannya. Sekarang masih pukul delapan lebih tiga puluh menit, ini berarti masih ada waktu sekitar tiga puluh menit lagi bagi penghuni rumah untuk keluar. Ia berusaha sabar berada di kolong ranjang, sembari menunggu saat yang tepat untuk keluar. Padahal sebenarnya ia mulai merasa tak nyaman. Kakinya mulai terasa penat, tetapi ia mencoba untuk bersabar.
***
Di pinggir jalan yang sepi, dengan lokasi banyak jurang dan perbukitan, sebuah taksi berhenti di tepi jalan menjemput Gerry yang sudah siap pulang ke rumahnya. Ia berdiri di pinggir jalan, diantar langsung oleh Pak Tua dan cucunya, Ratri. Kondisi Gerry sudah berangsur pulih setelah peristiwa kecelakaan itu, tetapi ia masih harus banyak beristirahat dan tak boleh melakukan banyak aktivitas. Untuk berjalan pun dia masih belum normal, jadi harus dibantu. Walau Pak Tua tak lagi muda, tetapi ia memiliki tenaga luar biasa, sehingga masih bisa membantu Gerry.
Sebelum meninggalkan kakek dan cucu itu, Gerry merasa sangat terharu karena beberapa hari ini mereka lah yang telah menolongnya dari kecelakaan. Ia membayangkan, apabila mereka tidak menemukan tubuhnya dalam mobil, dapat dipastikan ia akan membusuk di dasar jurang. Gerry sangat berterimakasih kepada mereka.
“Jaga diri baik-baik ya, Nak!”
Pak Tua berpesan kepada Gerry, sehingga membuat Gerry semakin sedih meninggalkan mereka. Apalagi dilihatnya tatapan mata Ratri yang seolah tak mengizinkan ia pergi. Namun, ia sadar bahwa keberadaannya di kediaman Pak Tua akan membuat beban hidup keluarga itu semakin bertambah. Ia tidak mau terlalu lama merepotkan, sehingga ia harus kembali ke rumahnya sendiri. Dalam hati, ia berjanji akan membalas segala kebaikan yang telah mereka lakukan padanya.
“Kak Gerry akan kembali ke sini kan?” celetuk Ratri tiba-tiba.
Gerry tersenyum, seraya mengangguk. Ia usap kepala gadis kecil yang cantik itu. Ia tidak pernah mempunyai saudara. Pertemuannya dengan Ratri adalah hal luar biasa baginya. Ia merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Menurutnya, ini sungguh luar biasa.
“Kakak akan selalu ingat tempat ini, Ratri. Nanti kalau ada waktu, Kakak akan datang ke sini lagi. Atau, nanti kakak yang akan jemput Ratri untuk main-main ke rumah Kakak. Di sana ada banyak boneka dan mainan, dan kamu bisa main sepuasmu. Kita juga bisa jalan-jalan ke Mall, berbelanja, berenang, makan, pokoknya nanti kita bisa sama-sama Ratri. Bagaimana?” ucap Gerry.
“Ratri, Kak Gerry harus pergi sekarang .... “
Pak Tua mengingatkan cucunya. Paras gadis kecil itu berubah sedih, tetapi sedetik kemudian berubah gembira karena teringat akan hal-hal luar biasa yang diucapkan Gerry. Setelah semua siap, Gerry masuk ke dalam mobil taksi berwarna biru langit itu. Ia juga sedih, tetapi ia harus meninggalkan tempat itu.
Mobil taksi mulai bergerak pergi, Gerry melambaikan tangan ke arah kakek dan cucu itu, sampai mereka tak terlihat lagi. Perasaan Gerry sangat gembira, karena ia bisa kembali lagi ke kediamannya. Padahal ia mengira tak akan selamat saat mobil yang ditumpanginya jatuh ke jurang. Nyatanya, ia masih bisa bernapas sampai detik ini, walau ada beberapa luka di tubuhnya. Tak menjadi masalah, karena luka akan sembuh, yang penting ia masih hidup hingga saat ini.
Saat taksi memasuki kota yang sibuk, perasaan Gerry meluap-luap. Pada akhirnya, ia bisa melepas kerinduan dengan kota ini. Sudah lama ia tak melihat gedung-gedung tinggi menjuang, kendaraan mewah yang berlalu-lalang, dan kesibukan kota yang seperti ini. Ia tak sabar untuk segera sampai ke rumah, menghabiskan waktu untuk memanjakan diri dengan segelas cokelat panas atau sekantung berondong jagung, sambil menikmati film serial di NetFlix. Ya, itulah yang akan dilakukannya saat ia tiba di rumah nanti.
Gerry mampir ke ATM untuk mengambil sejumlah uang. Untungnya, ia masih memegang dompet yang berisi dokumen-dokumen penting, sehingga ia tak kesulitan dalam mengambil uang dan tidak perlu mengurus surat kehilangan.
Saat taksi memasuki gerbang perumahan, para sekuriti yang bertugas tampak terkejut melihat keberadaan Gerry. Sudah lama pula mreka tidak melihat keberadaan salah satu penghuni perumahan satu ini. Malahan mereka mengira bahwa Gerry adalah salah satu korban pembunuhan berantai yang menghebohkan itu.
“Mas Gerry?” tanya salah seorang sekuriti itu, setelah melihat Gerry di dalam mobil taksi.
Gerry hanya tersenyum sambil menganggukan kepala dengan sopan. Ia tidak menyangka kepergian dirinya beberapa hari terakhir ini cukup mengejutkan banyak pihak. Ia tidak tahu bagaimana nanti rekasi asisten rumah tangganya kalau melihat kepulangan dirinya. Apakah ia berpikir telah melihat hantu atau bagaimana?
Kini mobil taksi itu telah sampai di depan rumah Gerry. Ia merasa takjub di depan bangunan megah itu. Kondisinya tetap sama, seperti saat terakhir ia tinggal. Ia melangkah masuk ke dalam rumannya dengan penuh percaya diri. Ia pencet bel rumah, berharap agar ia segera disambut seperti seorang pahlawan yang baru saja tiba dari medan perang.
Asisten rumah tangganya membuka pintu, mendapati majikannya berdiri di depan pintu dengan tersenyum. Asisten rumah tangga itu setengah terpekik melihat kepulangan Gerry. Ia tidak menyangka kalau majikannya akan pulang dalam keadaan selamat. Tanpa banyak cakap, ia segera membantu Gerry masuk ke dalam kamar. Ia melihat Gerry yang kondisinya masih belum terlalu bagus. Untunglah, ia selalu mebersihkan kamar Gerry tiap hari, jadi kapan pun kamar itu selalu siap untuk ditempati.
Gerry segera merebahkan diri ke atas ranjang, menatap langit-langit dan memejamkan mata. Ia hanya ingin beristirahat sejenak.
***
Tepat pukul sembilan pagi, semua penghuni rumah isolasi sudah berkumpul di halaman samping. Sesuai jadwal yang tertera pagi ini, mereka akan mengadakan kerja bakti di belakang rumah. Mereka akan memasang papan-papan peringatan di lokasi sumur-sumur tua, agar tak ada lagi yang terperosok ke dalamnya.
“Jadi hari ini kita akan memberi plang-plang kayu di beberapa titik sumur yang dianggap berbahaya dan dalam. Untuk plangnya sendiri sudah disiapkan oleh Pak Paiman, jadi nanti kita tinggal memasang saja. Selama kegiatan ini, saya harap tidak ada yang memisahkan dari rombongan, jadi semua harus tetap bersama. Dan ingat untuk tetap berhati-hati karena memang di sana banyak lubang. Boleh santai asal tetap serius dan saya harap semua sudah terpasang sampai menjelang siang nanti. Apakah kalian siap?”
Dimas memberi instruksi dengan lantang. Semua penghuni mengangguk-angguk. Sementara, Gilda dan Wandi memantau juga di sekitar tempat itu. Dimas agak terkejut dengan kemunculan Gilda. Ia sama sekali tidak menduga kalau jurnalis cantik itu tinggal bersama mereka di rumah isolasi. Dalam hati, sebenarnya ia merasa kurang nyaman apabila ada Gilda di sana. Kadang wanita muda itu tak bisa membedakan mana urusan kerja dan mana urusan pribadi. Ia agak malas berurusan dengan Gilda.
Setelah instruksi selesai, Dimas sengaja mendekati Gilda dan Wandi yang sedang berdiri untuk emndengar penuh antusias.
“Nggak nyangka kalau kamu ada di sini,” kata Dimas.
“Kamu kaget? Jangan khawatir, aku nggak akan aneh-aneh kok. Aku sudah membuat perjanjian dengan Pak Reno, jadi tenang saja. Aku tidak akan mengganggu penyelidikan kalian. Sebaliknya, kehadiranku ini mungkin bisa membantu kalian untuk menemukan pembunuh itu,” ucap Gilda.
“Terima kasih Gilda, tetapi sejujurnya aku merasa tidak terbantu dengan kehadiranmu. Sebaliknya, kehadiranmu mungkin akan membuat penghuni rumah ini merasa tidak nyaman. Mereka tidak biasa diawasi dan kebebasan mereka akan sedikit terganggu,” ujar Dimas.
“Aku tidak akan berbuat apa-apa kok. Tenang saja. Aku melakukan semua dengan batas kewajaran. Kamu boleh tanya ke salah satu penghuni, apakah aku merepotan mereka. Aku tahu mereka nggak menyukaiku, tetap yah ... itu urusan mereka. Aku hanya menjalankan tugas. Jangan dikira aku juga nyaman berada di sini,” kata Gilda.
“Yah, semoga saja kamu mendapatkan apa yang kamu cari di sini. Dan satu pesanku untukmu Gilda. Ini yang paling penting daripada yang lain,” kata Dimas.
“Pesan apa itu?”
“Berusahalah agar tetap hidup di rumah ini. Itu yang penting!”
Dimas berucap sambil meninggalkan Gilda yang merasa gusar dengan ucapan itu. Ia mengira pembunuh itu tak akan mengincar nyawanya, oleh karena itu ia merasa santai dan biasa saja.
***