
Antony melihat sosok Ringo dalam keadaan terikat dalam peti mati, mulutnya juga diplester dengan lakban hitam. Ringo terlihat meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari ikatan. Antony tak berlama-lama lagi, segera melepaskan ikatan di tangan dan kaki Ringo, kemudian membuka lakban yang menempel di mulutnya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Antony.
“Iya, aku nggak apa-apa. Gimana nasib Melly? Apa dia baik-baik saja?” tanya Ringo cemas.
“Dia nggak apa-apa. Saat ini dia sudah kembali ke kastil bersama Sonya, karena kupikir cukup berbahaya di hutan ini,” kata Antony.
“Kita harus segera ke kastil dan memberitahu orang-orang di sana!”
“Tunggu ... tunggu! Ada apa sebenarnya? Kamu ceritakan dulu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kamu tiba-tiba ada dalam peti itu?” tanya Antony.
“Ada psikopat berbahaya yang berkeliaran di sekitar sini. Dia berjubah hitam dan bersenjata tajam. Aku takut dia berbuat jahat pada orang-orang di kastil. Dia menjeratku dengan benang sampai leherku terluka. Kurasa dia bisa menghabisiku kapan saja. Ayo, kita harus bergegas ke sana!” ajak Ringo.
“Seorang psikopat? Astaga! Jadi yang menghambur isi tas Melly itu seorang psikopat?”
“Benar sekali. Dia telah mengintai keberadaan kita sepertinya. Kita harus segera memberitahu yang lain. Aku mengkhawatirkan Melly dan Sonya? Bagaimana kalau psikopat itu menghadang sebelum sampai ke kastil?” tanya Ringo.
“Kamu menakutiku, Ringo! Kalau begitu kita harus cepat menyusul Melly dan Sonya!”
Tanpa berdiskusi panjang lebar, kedua anak muda tersebut segera keluar pondok, dan berlari untuk menyusul dua temannya yang lain. Tak peduli menerobos semak belukar, mereka ingin segera menemui Melly dan Sonya.
***
Percakapan Reno dan Helen terhenti. Reno mencium ada sesuatu yang tak beres di kastil. Ia menatap mata Helen, tetapi wanita tua itu seolah menghindar.
“Kalau tidak ada pertanyaan lagi, Anda boleh meninggalkan kastil ini, Pak. Maaf, banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan,” ucap Helen.
“Tunggu! Aku akan melihat-lihat kastil ini. Kalau Ibu mau melanjutkan pekerjaan silakan saja!”
“Mmm, aku akan menemani Anda kalau tidak keberatan. Kastil ini luas, saya takut anda akan tersesat,” ujar Helen.
“Baiklah. Boleh aku masuk ke dalam kastil ini?”
Helen terlihat ragu untuk menjawab, tetapi sesaat kemudian ia mengangguk. Sebenarnya Reno melihat paras Helen yang terlihat cemas. Kecemasan itulah yang membuat Reno semakin yakin bahwa memang ada sesuatu yang disembunyikan dari kastil ini.
Mereka berdua menyusuri lorong yang menghubungkan dengan ruang tengah yang terlihat kosong. Reno berhenti sejenak. Di meja, terdapat dua cangkir kopi yang barusaja diminum sedikit. Reno mengambil salah satu cangkir, dan menciumnya.
“Ada tamu di rumah ini?” tanya Reno.
“Oh, aku tadi baru saja minum kopi tetapi tidak kuhabiskan,” jawab Helen.
“Ada dua cangkir di sini. Dengan siapa kamu minum kopi?” tanya Reno lagi.
“Ada seorang teman berkunjung ....”
“Teman?” Reno mengernyitkan dahi.
Ia tidak mempercayai ucapan Helen begitu saja. Rasanya tak masuk akal ada orang berkunjung ke kastil yang jaraknya dua jam perjalanan dari kota tanpa suatu alasan yang jelas. Helen tidak menjawab pertanyaan itu.
“Mari kuantar ke ruangan lain,” ajak Helen.
Reno mengangguk. Ia mengikuti langkah Helen menyusur ke sebuah koridor yang menghubungkan ke ruang makan.
Suasananya begitu sunyi, karena penghuni kastil lain memilih untuk berdiam di dalam kamar. Helen sudah memperkirakan hal itu.
“Bangunan yang luar biasa megah!” puji Reno.
“Anda mau saya antar ke ruang baca?”
“Apa yang menarik di sana?” tanya Reno.
“Tuan Anggara mempunyai koleksi ribuan buku yang menarik. Mungkin anda bisa melihat-lihat sebentar,” ajak Helen.
“Baiklah, aku akan kesana sebentar,” jawab Reno.
Keduanya segera berjalan menuju ruang baca yang terletak di bagian samping kastil. Reno masih mengagumi arsitektur kastil yang demikian hebat. Sesampai di depan ruang baca, Helen membuka pintu dan mempersilakan masuk.
Reno mengangguk. Ia masuk ke dalam ruang baca yang luas. Ada suasana mistis menyergap. Sejenak ia merasa bingung, apa yang hendak ia lakukan dalam ruangan itu.
***
Dimas mengikuti sosok hitam yang ada di depannya, tetapi tiba-tiba sosok itu menghilang. Kemana gerangan dia pergi? Kini ia bingung berada di tengah persimpangan lorong. Haruskah ia berbelok ke kiri dan ke kanan. Ia berdiri terpaku.
“Pak! Anda baik-baik saja?” tiba-tiba ada suara dari belakang yang mengagetkannya.
Seketika ia menoleh.
“Elina, mengapa kamu ikut turun?”
“Aku penasaran. Kurasa aku lebih aman bila bersama Anda.”
Dimas tak menjawab. Ia kembali fokus dengan lorong yang ada di depannya. Tiba-tiba kembali terdengar suara pintu dibanting. Arah suara jelas terdengar dari pintu lorong sebelah kiri. Sontak Dimas segera berlari menuju sumber suara. Diikuti Elina di belakangnya. Sayangnya, ketika didekati suasana kembali lengang, seolah tak ada apa-apa.
“Apakah ada yang menghuni di ruang bawah tanah sini?” tanya Dimas.
“Entahlah, aku sama sekali tidak paham,” jawab Elina.
Dimas mengisyaratkan Elina untuk diam sejenak. Ia melihat sebuah cahaya lampu temaram yang keluar dari sebuah ruangan.
“Kau lihat itu?” bisik Dimas kepada Elina.
“Sorot cahaya lampu?”
“Ya. Semua bilik di sini gelap, dan hanya bilik itu satu-satunya yang menyorotkan cahaya lampu. Mari kita lihat di sana!” ajak Dimas.
Keduanya berjalan perlahan menuju bilik yang terlihat sedikit terang. Sesampai di depan pintu yang digembok, Dimas mengintip dari balik jeruji. Ia melihat ada seorang pria yang duduk putus asa di sudut ruangan.
“Apa yang Anda lihat?” tanya Elina.
“Seorang pria. Sepertinya dia seorang tawanan. Dia duduk tak bergerak,” bisik Dimas.
“Jangan-jangan dia ....”
“Kamu kenal dia? Siapa?”
“Aku nggak kenal. Cuma pacar aku bilang ada seorang dokter yang hilang dari kastil ini beberapa waktu lalu. Jangan-jangan itu dia!”
“Aku tak dapat memastikan dia itu dokter atau bukan. Sepertinya kita harus buka gembok pintu ini.”
“Bagaimana caranya? Kamu akan menembaknya?”
“Kalau aku menembak, maka letusan akan menarik perhatian. Kurasa kita harus buka dengan cara lain,” ujar Dimas.
“Tadi aku melihat banyak linggis. Sebentar aku akan ambilkan untukmu!”
“Jangan terlalu lama!”
Elina segera bergegas kembali ke tempat awal, karena ia memang melihat sebuah bilik yang berfungsi layaknya gudang, penuh dengan barang-barang tak terpakai, termasuk linggis yang sudah berkarat. Ia menyusuri lorong lain untuk bisa kembali ke bilik itu.
Ia baru saja berbelok ke persimpangan lorong, ketika ia mendengar suara memanggilnya.
“Elina! Tolong ... tolong aku!” suara lemah itu terdengar dari salah satu bilik lain yang berjajar di situ. Elina seperti mengenal suara itu. Ia berhenti, mencari sumber suara.
“Siapa di situ?” tanya Elina.
“Tolong aku Elina! Seseorang menyekapku di sini. Tolong! Aku butuh bantuanmu!”
Elina ragu-ragu. Ia harus mendatangi suara yang memanggilnya, atau mengambil linggis untuk Dimas. Nuraninya bergejolak. Sejenak ia berpikir, mungkin menolong orang yang sedang disekap itu adalah hal mendesak. Ia memutuskan untuk mencari arah sumber suara yang memanggil namanya.
***