
Di dalam biliknya yang sunyi dan pengap, Niken tak mau putus asa begitu saja. Ia mengumpulkan segala kekuatannya untuk kembali berjuang agar bisa lepas dari dalam bilik. Ia kembali mengetuk-ngetuk dinding bilik, berharap ada yang mendengarnya. Walau hal itu seperti hal yang tak masuk akal, hanya itu yang bisa ia lakukan.
Duk ... duk ... duk!
"Sepertinya tak ada yang mendengar. Sial!" umpat Niken.
Ia berniat mencari alat lain yang lebih keras untuk menjebol dinding. Sekilas matanya melihat ke arah ruang toilet kecil di ujung bilik. Ruang toilet itu tampak rusak, tetapi terdengar suara air menetes dari dalamnya. Niken merasa penasaran. Ia berjalan perlahan ke arah toilet kecil itu. Sesampai di sana, ia melihat suasana di dalamnya sangat menjijikkan. Dindingnya kusam penuh coretan-coretan, bahkan noda darah yang mengering. Lantainya berwarna kehitaman karena berlumut. Di dalam sana hanya sebuah bath-tub yang kondisinya kotor bukan main, serta sebuah WC duduk yang isinya meluber, menimbulkan bau busuk. Sementara kecoa merayap di mana-mana.
Sontak isi perut Niken terasa seperti diaduk. Ia berasa ingin muntah, sambil menutupi hidung. Di dalam toilet itu ada juga sebuah wastafel dengan kran yang sudah berkarat. Rupanya suara air menetes itu berasal dari kran itu. Air yang menetes berwarna cokelat, tak layak digunakan untuk membersihkan atau untuk minum. Di atas wastafel itu ada sebuah cermin yang kacanya buram. Niken melihat bayangan wajahnya yang hampir tak terlihat dari cermin itu.
Saat ia memutuskan hendak keluar dari ruang toilet itu, ia melihat beberapa ekor kecoa keluar dari balik cermin. Ia mengernyitkan dahi, sembari berpikir, apakah ada sesuatu di balik cermin buram itu. Ia segera mengambil batu yang ia gunakan untuk memukul dinding, kemudian kembali ke dalam toilet. ia pukulkan batu yang ada di tangannya ke cermin.
Praang!
Cermin seketika pecah. Dugaan Niken benar. Di balik cermin terdapat rongga yang agak dalam, dan sepertinya telah menjadi kerajaan para kecoa. Binatang-binatang menjijikkan itu berhamburan keluar, sehingga Niken terpaksa menghindar. Ia tidak terlalu jijik, tetapi rasanya geli kalau binatang itu merayap di kaki atau tangan. Ia mencoba melongok ke dalam rongga di balik cermin. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan si sini.
Untuk memastikan hal itu, ia memasukkan tangan ke dalam rongga, mengaduk apa yang mungkin tersembunyi di dalam sana. Ternyata, ia menemukan semacam tuas rahasia di balik cermin. Tuas apa ini, pikir Niken. Ia sama sekali tidak menyangka ada tuas yang disembunyikan di balik cermin. Ia menarik tuas itu ke belakang, karena berpikir tuas itu untuk membuka pintu rahasia atau malah pintu yang bisa mengantarnya keluar.
Greeekk!
Sesuatu hal yang tak diduga terjadi. Dinding kusam yang penuh coretan itu tiba-tiba terbuka, memperlihatkan sebuah lorong lain yang gelap. Niken sangat terperanjat melihat itu. Harapannya menyala seketika. Ia mengumpulkan segenap energi yang ia punya, agar bisa menyusur lorong baru yang tampak misterius itu!
***
Jeremy terperanjat di depan pintu bilik, mendapati tubuh Aditya yant terbujur di lantai dalam keadaan bersimbah darah. Ia nyaris tak dapat berkata apa-apa, tak juga ia berani mendekat. Ia memalingkan muka ke arah Juned, mempertanyakan apa yang terjadi dengan Aditya. Jelas ia merasa sangat terpukul. karena ia terakhir melihat Aditya dalam keadaan baik, dan sekarang ia menemukan jasad Adit dalam keadaan mengenaskan.
"Dia kami temukan telah mati dalam keadaan tergorok lehernya. Kami tak berhasil menyelamatkannya. Rupanya dia telah disekap di sebuah bilik dan dihabisi. Sekarang kita lagi nunggu paramedis datang untuk memindahkan jasadnya," terang Juned.
"Astaga! Siapa yang berbuat sekeji itu padanya?" desis Jeremy menahan amarah.
"Kami juga masih mencari pelaku ini, Jer. Siapa pun dia, pastilah orang yang tak punya perasaan, biadab, dan seorang psiko kelas berat. Kami masih mencari tahu, siapa sebenarnya orang ini," kata Juned pelan.
"Aku ... aku merasa bersalah. Seharusnya ia tak pernah kuizinkan ikut denganku ke bawah tanah waktu itu. Gara-gara aku, dia meninggal dengan cara seperti ini. Maafkan aku, Dit. Aku akan bantu cari si pembunuh itu. Demi Tuhan, aku juga tidak bisa merasa tenang kalau kau mati dengan cara seperti ini," gumam Jeremy.
"Mengapa ada orang gila yang membangun bangunan serumit ini?" tanya Juned sambil menyorotkan senter ke arah bilik-bilik yang ada di situ.
"Aku tak terlalu paham sejarah, tapi kupikir bangunan ini sudah ada sejak zaman kolonial. Ada banyak cerita menyeramkan di tempat ini, tetapi aku tak mau mengungkitnya. Hanya saja aku juga heran, mengapa kejahatan seolah berulang di tempat ini? Mengapa tempat ini seolah-olah dijadikan tempat favorit untuk berbuat kejahatan?"
Pertanyaan Jeremy tak terjawab. Juned sudah pergi menyusuri lorong, memeriksa sekitar tempat itu. Jeremy hanya termenung melihat jasad Aditya. Ia menyesal, tetapi toh nasi telah menjadi bubur. tak ada yang dapat ia lakukan. Sampai saat ini pun keberadaan Stella masih belum ada tanda-tanda ditemukan. Hal itu juga membuatnya semakin resah. ia berharap agar istrinya bisa ditemukan dalam keadaan bernyawa, seperti halnya Maya, Nadine, dan Rosita, yang sebelumnya dikabarkan hilang, tetapi masih ditemukan dalam keadaan hidup.
***
Pasangan Rosita dan Edwin menyusuri jalan aspal menjauhi kastil. Mereka berjalan sambil menikmati indahnya panorama di sekitar kastil. Hamparan kebun terlihat begitu luas, sejauh mata memandang. Rosita merasakan udara yang begitu bersih memasuki paru-parunya. Ia menghirup dalam-dalam sambil tersenyum lebar.
"Sudah lama tak merasakan suasana seperti ini," kata Rosita.
"Iya Ros, kamu benar. Hamparan kebun ini terlihat seperti di surga. Ngomong-omomg, bagaimana kalau kita masuk ke dalam perkebunan itu? Aku belum pernah tahu, bagaimana sih kalau masuk ke sana? Selama ini kita cuma lihat di televisi doang," ujar Edwin.
"Masuk perkebunan? Nanti takutnya tersesat sih," kata Rosita agak ragu-ragu.
"Alaaah, kan deket aja sama kastil. tuh, menara kastil aja masih kelihatan dari sini. Asal nggak jauh-jauh kukira nggak apa-apa kok. Yuk!" bujuk Edwin.
Rosita berusaha menghilangkan keraguannya. Mereka melihat sebuah jalan setapak sempit yang diapit tumbuhan teh yang rimbun di kanan dan kirinya, membelah sebuah bukit. Jalan setapak itu ditutup dengan semacam tali dan sebuah tulisan dari kertas, dengan tulisan DILARANG MASUK.
"Eh, tapi kan dilarang masuk, Win? Takutnya ada apa-apa gitu di sana." Rosita mulai ragu.
"Udahlah Ros! Takut amat sih. Biasalah tulisan dilarang masuk seperti itu agar nggak ada orang yang ngerusak tanaman. Kita kan masuk bukan untuk merusak, jadi ya nggak apa-apa. Aku pensaran banget melihat bagian dalam kebun. Yuk!"
Edwin melangkahi tali, dan segera diikuti oleh Rosita. Walau agak ragu, tetap saja Rosita melanggar tulisan peringatan itu. Mereka masuk menyusuri jalan setapak yang membelah kebun, menuju sebuah bukit di atas sana. Suasana di dalam kebun begitu menghijau, mereka begitu menikmati panorama yang ada. Tujuan mereka adalah atas bukit, karena mungkin di sana mereka bisa mendapatkan pemandangan yang lebih indah.
"Coba kita bawa kamera ya!" ucap Rosita.
Edwin mengangguk. Mereka terus melangkah, sampai lupa bahwa mereka telah melangkah terlalu jauh dari kastil. Suasana sekitar kastil telah membuat mereka terlena dan lupa diri.
***