Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
320. Karung Beras


Mariah menjerit melihat isi karung beras yang sengaja diletakkan di depan kamarnya. Jeritan Mariah di malam buta, sontak mengagetkan penghuni yang lain, terutama Ammar, sang suami. Ia khawatir. terjadi hal yang buruk pada istrinya itu. Ia bergegas menuju sumber suara, diikuti oleh Reno dan Dimas. Sementara, Ramdhan dan Juned datang agak belakangan. Beberapa penghuni juga sudah tiba di depan kamar Mariah.


Lily, yang pertama kali tiba di situ, segera memeluk Mariah yang terlihat panik.  Ia melihat isi karung beras yang luar biasa menggidikan. Isinya adalah potongan kepala, yang terlihat mengerikan. Mata sosok kepala itu terbelalak, sehingga membuat Mariah benar-benar terpukul melihat itu. Dapat dikenali, bahwa potongan kepala yang berada dalam karung itu adalah milik seorang pria.


"Farrel. Itu Farrel .... "


Lily bergumam begitu mengenali sosok kepala dalam karung. Sementara para polisi telah datang ke depan kamar Mariah. Mariah menghambur, segera memeluk Ammar karena masih merasa takut. Reno langsung bertindak cepat, ketika ia melihat penghuni kastil lain merasa penasaran, melongokkan kepala ke dalam karung. Ia tidak ingin hal ini semakin terlihat menakutkan.


"Jangan ada yang menyentuh karung itu!" perintahnya.


"Itu Farrel kan?" celetuk Aditya dengan paras bergidik.


"Iya, itu Farrel! Aku hafal sekali paranya!" jawab Lily cepat.


"Lebih baik kalian kembali ke kamar, biar kami yang tangani ini!" perintah Reno.


Reno bertindak cekatan, menutup kembali kantong beras itu. Semua yang ada di lorong depan kamar Mariah masih berdiri takjub dengan kejadian yang baru saja terjadi. Bagaimanapun, kantong beras itu telah sukses menebar teror rasa takut penghuni lain. Bagaimana tidak? Isi kantong beras itu adalah kepala manusia yang diidentifikasi sebagai Farrel, teman mereka sendiri. Rasa takut segera merayapi perasaan. Mereka masih tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Kalian kembali ke kamar, amankan diri kalian masing-masing!" Ammar menambahkan.


Satu-persatu, penghuni kastil mundur dari tempat kejadian perkara. Mereka tak habis pikir, bagaimana bisa kepala Farrel berada di tempat itu. Pelaku dari aksi gila ini menyisakan tanda tanya besar. Sementara, Reno segera memerintahkan Ramdhan untuk berangkat ke kota malam itu juga, dengan membawa potongan kepala milik Farrel, agar mendapat penanganan lebih lanjut dari pihak kepolisian.


Suasana malam semakin mencekam. Hampir semua penghuni kastil tak bisa tidur. Potongan kepala milik Farrel menciptakan rasa takut tersendiri bagi semua yang ada di situ. Mariah, yang mendapat kiriman potongan kepala itu juga masih terlihat syok. Ia terlihat berdiam diri dalam kamar, ditemani oleh suaminya. Dimas duduk di ruang baca sambil mengetuk-ketuk jarinya ke meja. Ia merasa gusar. Teror pembunuhan Lidya yang terjadi tempo hari rupanya masih berlanjut. Sementara Reno menyodorkan segelas air kepadanya.


"Tenangkan pikiranmu. Ini baru saja dimulai. Ini baru awal," ucap Reno.


"Aku hanya tak habis pikir, Ren. Mengapa ini terjadi lagi di tempat ini? Aku baru saja berpikir, bahwa kejadian yang terjadi di kastil ini beberapa waktu silam seolah berulang. Dan aku mencoba menghubungkan dengan tulisan yang ditemukan Mariah. De Ja Vu. Apakah ini adalah sebuah pengulangan?" tanya Dimas.


"Tunggu, Dim. Sepertinya kalau dilihat dari pola pembunuhan yang terjadi, ini adalah pengulangan pembunuhan yang pernah terjadi di kastil ini sebelumnya. Mari kita mulai dari pembunuhan Lidya. Wanita itu dihabisi saat di kamar mandi kolam renang, dengan cara ditusuk-tusuk dan disabet benda tajam. Lalu setelah itu, Farrel dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya. Ini sungguh mengingatkanku pada kasus di kastil tua sebelumnya. Dalam catatan kepolisian dijelaskan bahwa pembunuhan pertama yang menimpa para penulis diawali dnegan terbunuhnya Karina Ivanova, yang dibunuh di kebun teh dengan cara ditusuk-tusuk benda tajam. Lalu, selanjutnya adalah pembunuhan yang menimpa Yoga, tukang kebun kastil ini yang dibunuh secara brutal di gudang. Kepala Yoga juga ditemukan dalam keadaan terpenggal, ditemukan oleh Rania di dekat kolam renang. Bandingkan dengan dua pembunuhan yang terjadi sekarang! Tidakkah menurutmu itu sangat mirip? Karina dan Lidya sama-sama ditusk menggunakan dengan benda tajam, sedangkan Yoga dan Farrel sama-sama dipenggal kepalanya!" terang Reno.


"Astaga! Jadi maksudmu, ada seorang pembunuh yang berusaha meniru pembunuhan yang pernah dilakukan oleh Tiara Laksmi di tempat ini? Kalau dilihat dari polanya, sepertinya iya. Ada yang berniat menduplikasi pembunuhan itu!" ucap Dimas.


"Kalau teori itu benar, maka yang diincar berikutnya adalah seorang perempuan. Karena korban ketiga di kastil kemarin adalah Rania. Gadis itu dibunuh dengan cara dijatuhkan dari atas menara kastil.  Kalau itu benar, ini akan sangat mengerikan. Ada salah satu orang di sini yang tau seluk-beluk kastil, bahkan tahu kasus sebelum ini dengan baik. Lalu pertanyaannya adalah siapa sebenarnya orang ini?" tanya Reno.


"Besok rencanaku akan pergi ke kota untuk mencari data terkait ini. Bisakah kamu ke hutan bersama Juned saja? Biar Bang Ammar saja yang berjaga di kastil ini," kata Dimas.


"Jangan! Meninggalkan Bang Ammar sendirian di kastil ini bukan ide baik, mengingat kondisinya yang belum terlalu pulih. Harus ada yang menemani. Besok, kamu sore saja pergi ke kota untuk mencari data. Semoga sebelum sore kita bisa menemukan Nadine dan Stella dalam keadaan hidup," ucap Reno.


Dimas hanya mengangguk mendengar penjelasan Reno. Ia tidak berani berbicara apa-apa lagi kalau sudah Reno yang memutuskan. Ia harus pergi ke kota, setelah melakukan pencarian Nadine dan Stella di dalam hutan.


***


Dari semua penghuni kastil yang melihat potongan kepala Farrel dalam kantong beras di depan kamar Mariah, hanya Maya yang tak terlihat. Rupanya ia berada di dalam kamar, sambil merenung di atas ranjang. Suara ketukan pintu mengejutkannya, sehingga ia buru-buru membuka. Di depan pintu, terlihat Rosita yang menatap dirinya dengan tatapan heran.


"Ros?" tanya Maya.


"Kudengar bisik-bisik tadi bahwa kamu sudah kembali dari air terjun. Aku kesini untuk memastikannya, sebab kulihat kamu nggak ada saat ada ribut-ribut di depan kamar Mariah," kata Rosita.


"Serius kamu tidak tahu?" tanya Rosita.


"Ti-tidak. Aku ... aku baru saja tiba dari hutan, kemudian ke kamar mandi, air kran kunyalakan sehingga sama sekali tidak mendengar kalau ada keributan. Ada apa sebenarnya, Ros?" tanya Maya.


"Hal buruk telah menimpa Farrel. Potongan kepalanya dimasukkan dalam karung beras, kemudian di letakkan di depan kamar Mariah," terang Rosita.


"Astaga! Itu mengerikan sekali," ucap Maya sambil menutup mulutnya.


"Pak Reno menyuruh kita untuk segera beristirahat, tetapi aku sempatkan mampir ke sini. Jadi apa yang sebenarnya menimpamu? Bukankah terakhir kita bertemu di dekat air terjun, dan kamu kembali ke persimpangan itu?" tanya Rosita.


"Aku nggak mau cerita itu lagi, Ros. Maafkan aku. Aku masih trauma dengan kejadian itu. Sungguh, kematian Farrel membuatku sangat takut. Beruntung sekali aku tidak bernasib sama dengan dia," gumam Maya.


"Jadi apa yang terjadi sebenarnya, May?" desak Rosita.


"Maafkan aku, Ros. Aku tidak sedang ingin menceritakan itu. Aku lelah. Yang jelas aku merasa bersyukur karena diberi kesempatan hidup kedua. Kadang, kita tidak sadar kalau kita diberi kesempatan kedua menjalani hidup ini. Lain waktu saja aku akan ceritakan kepadamu. Aku sekarang lelah dan pusing. Sampai besok Ros!"


Maya segera menutup pintu kamarnya, tanpa mempedulikan Rosita yang masih berdiri di ambang pintu. Rosita merasa gusar dan tak puas mendapat jawaban Maya. Ia ingin mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Maya di hutan.


***