Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXXIII. Forensics Report


Ammar dan dr. Dwi berdiri dalam ketakjubannya. Sepasang alis Ammar yang lebat menyatu seolah tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya.


“Omong kosong apa ini!” geram Ammar.


“Untuk sementara kita tak bisa memeriksa potongan kepala itu. Tak apa, aku menginformasikan hasil otopsi jasad Anggara dan Yoga. Lebih baik kita segera keluar dari ruang bawah tanah ini. Suasananya sungguh tidak nyaman,” dr. Dwi menutup hidungnya.


“Aku seperti pernah mencium aroma parfum ini tapi lupa. Aroma ini sungguh tak asing,” gumam Ammar.


“Nanti saja kita analisis lebih jauh. Perutku terasa mual berlama-lama di tempat ini.”


Ammar dan dr. Dwi segera beranjak meninggalkan ruang bawah tanah yang bernuansa suram itu. Suasananya yang sedikit mencekam, membuat siapa pun tak suka berlama-lama berada di sana. Bekas-bekas kengerian masih masih tersisa di dalamnya.


Dua pria itu membuka tingkap, sehingga kepala menyembul di lantai dapur. Di dalam dapur terlihat Rania yang sedang mengambil air minum di depan lemari es. Wanita itu terhenyak menyadari kehadiran polisi dan dokter yang tiba-tiba muncul dari dalam ruang bawah tanah.


“Halo Rania. Bagaimana keadaanmu hari ini?” sapa Ammar.


“Sedikit pusing. Tapi kupikir akan baik-baik saja. Beberapa hari ini aku lebih banyak berbaring. Ingin jalan-jalan ke kota sejenak, minum kopi atau apa pun untuk menenangkan pikiran,” ujar Rania.


“Hari ini Helen hendak ke kota untuk berbelanja. Kukira kamu dapat pergi bersamanya sebentar. Aku paham apa yang kamu alami. Semua juga mulai merasa tertekan dengan kondisi di kastil ini,” saran Ammar.


“Tawaran yang bagus. Tapi sayangnya aku tak bisa. Helen selama ini bersikap kurang baik padaku. Ide untuk ke kota bersama sepertinya ide yang baik. Mungkin setelah ini aku akan kembali ke kamar untuk menghilangkan sakit kepala ini.” Rania menerangkan dengan gestur tubuh yang menarik. Bola matanya tampak bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri seolah menggoda para pria itu.


“Kalau kamu masih pusing aku mempunyai obat untuk meringankan rasa pusingmu, Rania. Nanti kamu bisa menghubungiku apabila kamu membutuhkan obat itu,” tambah dr.Dwi.


“Terima kasih, dokter. Ngomong-ngomong, apa yang kalian cari di ruang bawah tanah?” tanya Rania.


“Sebenarnya kami hanya ingin mengecek keadaan ruang bawah tanah saja, Rania. Mungkin ada sesuatu yang bisa kami jadikan bahan untuk penyelidikan. Menurutku, ruang bawah tanah menyimpan banyak cerita kelam di masa lalu.”


“Benar sekali. Sampai sekarang aku merasa takut berada di ruang bawah tanah itu. Di sana tersimpan kengerian yang tak bisa kujelaskan. Kadang kalau malam aku mendengar suara-suara aneh di bawah sana, mirip suara orang memukul-mukul logam. Entah apa yang ada di sana, yang jelas itu sangat menakutkan,” terang Rania.


“Oke Rania. Terima kasih atas informasinya. Mungkin jika kamu mendengar suara aneh atau mengalami hal yang janggal, kamu bisa langsung mengetuk kamarku.”


“Tentu saja, Pak Polisi. Oya, satu lagi. Maaf, aku hanya sekedar bertanya tentang peristiwa percobaan pembunuhan pada Maira Susanti. Apakah itu benar?”


“Maaf, Riana. Aku belum dapat memastikan berita itu karena membutuhkan pengumpulan bukti yang kuat. Dr.Dwi akan memeriksa luka di leher Maira untuk menyatakan apakah luka itu sengaja dibuat atau tidak. Kusarankan, lebih baik kamu berhati-hati.”


“Terima kasih, Pak Ammar. Aku akan selalu baik-baik!”


Pembicaraan berakhir. Kali ini dua pria itu menuju ruang kerja yang terletak di lantai tiga. Banyak yang harus mereka diskusikan. Dr. Dwi menempatkan diri di sebuah sofa klasik, sementara Ammar menawari minum.


“Teh atau kopi?”


“Aku sudah lama tak meminum kedua jenis minuman itu. Mungkin aku hanya minum air saja.”


Dr.Dwi menolak dengan halus tawaran Ammar. Polisi itu segera mengerti bahwa dr.Dwi yang sangat paham dengan masalah kesehatan. Kopi dan teh tak terlalu baik di minum setiap hari. Ammar seger menuang air putih dalam sebuah gelas piala.


“Jadi informasi apa yang hendak Anda bagikan?” tanya Ammar.


“Menarik. Ini sesuai dugaanku bahwa Pak Anggara sepertinya mengenali si pembunuh dengan baik, sehingga pak tua yang malang itu tak melakukan perlawanan. Para penghuni lain juga tak mendengar sesuatu yang aneh, seperti percekcokan. Mereka menemukan jasad pria itu keesokan pagi di kolam renang,” ujar Ammar.


“Sekarang aku akan mengemukakan hasil forensik Yoga. Bisa dikatakan, pembunuhnya sangat berdarah dingin, karena pembunuhan dilakukan dengan sangat sadis. Tubuh pria malang ditemukan terpotong menjadi enam bagian termasuk kepala. Dua bagian lengan terpotong, dua bagian kaki terpotong, potongan badan dan potongan kepala. Entah apa yang di pikiran pembunuh itu, yang jelas ini sangat mengerikan. Potongan itu dilakukan tidak rapi dan teratur, hanya sekenanya saja. Seperti pedagang ayam yang sedang memotong ayam di pasar menjadi beberapa bagian. Alat yang digunakan kemungkinan besar adalah benda tajam yang kuat semacan kapak besar. Entah kegilaan macam apa ini!”


“Hmm. Penjelasan yang rinci dan menarik. Semoga dalam waktu dekat kita bisa mengungkap kasus rumit ini, dr. Dwi. Sekarang mari kita cari Maira, dan Anda bisa periksa kondisi luka di lehernya. Jujur saja, secara pribadi aku menganggap cerita Maira ini hanya kebohongan. Pembunuh yang sudah dikuncinya di ruang baca tiba-tiba menghilang.”


“Kita fokus di untuk memeriksa luka di leher Maira saja ya!”


***


Rania meminum segelas air yang barusan diambil dari dapur, seraya menenggak sebutir pil yang digunakan untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. Ia mencoba berbaring di kamarnya yang hening. Mungkin kondisi akan lebih baik apabila ia bisa mengistirahatkan diri. Kondisi psikologis sedikit menurun. Kehilangan Yoga benar-benar membuatnya terpukul.


Ia hendak memejamkan mata, ketika terdengar aneh di langit-langit kamarnya.


Dug-dug-dug!


Rania membuka mata. Ditatapnya langit-langit kamarnya. Di atas kamar yang ia tempati, ada sebuah ruangan loteng yang lama tak ditempati, hanya menjadi semacam penyimpanan dus-dus berisi buku-buku yang tak terpakai.


Mungkin tikus, gumamya.


Dug-dug-dug!


Dug-dug-dug!


Suara ketukan itu kembali berulang, sehingga menimbulkan rasa penasaran Rania. Setahunya, loteng dalam keadaan kosong. Jadi siapa atau apa yang menimbulkan suara dari atas sana?


Karena suara itu cukup menganggu, Rania akhirya merasa terganggu. Perasaan jengkel membuatnya melangkah untuk mencari sumber suara. Ia memberanikan diri untuk memeriksa loteng yang agak gelap. Rania hanya membekali diri dengan lampu senter.


Di loteng itu, ada sebuah jendela kaca yang menghubungkan dengan luar ruangan. Apabila seseorang berdiri di depan jendela, maka akan leluasa melihat kondisi di bawah kastil dengan cukup jelas. Loteng ini juga terletak di puncak kastil. Jarak loteng hingga ke bawah mencapai puluhan meter, sehingga mungkin sedikit menakutkan bagi penderita phobia pada ketinggian.


Rania membuka tingkap loteng dengan hati-hati. Ia paling jijik dengan hewan pengerat seperti tikus. Begitu memasuki area loteng, debu langsung menyergap pernapasannya. Ia tak bisa melihat dengan jelas. Hanya tumpukan-tumpukan kardus bekas teronggok di sana-sini.


“Halo? Apakah ada orang di sini?” tanya Rania.


Panggilannya tidak terjawab. Rania semakin penasaran. Ia semakin masuk ke dalam loteng sambil memancarkan cahaya senter ke segala arah. Tak ada yang mencurigakan.


“Aaah!”


Ia terhenyak ketika melihat sebuah laba-laba besar tiba-tiba merayap perlahan mendekati kakinya. Menghindar adalah pilihan yang tepat. Udara berdebu di loteng memicu hidungnya yang alergi untuk bersin beberapa kali.


Kemudian ia tertegun sesaat. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.


***