Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
233. Melabrak


Seperti biasa, di sore hari Laura selalu menyempatkan diri untuk merawat tanaman hiasnya di samping rumah. Ia tak mempekerjakan pembantu, tetapi melakukan apa saja yang bisa ia lakukan secara mandiri. Hari ini ia tidak ada jadwal syuting, sehinga ia bisa sedikit bersantai di rumah. Ia berharap tak ada tamu atau siapa pun yang datang mengganggu, termasuk Henry. Ia menganggap Henry sebagai teman biasa, karena ia tidak mau merusak rumah tangga orang lain.


Walaupun begitu, gosip makin kuat berhembus kalau Henry sudah pisah ranjang dengan Rianti, dan saat ini tengah dekat dengan Laura Carmellita, sang bintang sinetron. Mulanya, Laura tak mau menanggapi gosip seperti itu, namun karena acara-acara gosip di TV mulai menayangkan berita seputar rumah tangga Henry, mau tidak mau ia ikut berpikir juga. Namanya juga ikut terseret dalam konflik antara Henry dan Rianti. Beberapa wartawan gosip bahkan pernah menghubunginya untuk meminta jadwal wawancara terkait masalah itu. Namun sejauh ini, Laura masih menampik bahwa dirinya punya hubungan spesial dengan Henry.


Ia tengah membersihkan kedua tangannya di wastafel ketika pintu diketuk dengan kasar. Laura bertanya-tanya, siapa yang mengetuk pintu sekasar itu? Apakah mungkin Bang Henry? Ia ragu-ragu untuk membuka, tetapi karena ia merasa tidak punya masalah dengan siapa-siapa, maka ia beranikan untuk membuka pintu.


Setelah pintu terbuka, ia mendapati dua orang wanita berdiri dengan paras beringas, menatap tajam kepadanya. Laura sangat terkejut dengan kehadiran dua wanita itu. Jelas, ia sangat mengenal dua wanita itu. Yang satu adalah Rianti, istri dari Bang Hernry, sedang satu lagi adalah Renita Martin. Sebenarnya Laura merasa gugup, tetapi ia berusaha untuk tenang, karena ia merasa tidak punya masalah dengan mereka. Walaupun begitu, ia sudah bisa menebak maksud kedatangan mereka.


"Mana Henry?" tanya Rianti dengan nada ketus.


"Bang Hen? Mm ... dia nggak ada di sini, Mbak, Kok nyari Bang Hen di sini?" jawab Laura.


"Bohong! Kamu bohong! Kamu jangan pura-pura lugu! Kamu pasti udah tidur dengannya. Aku akan masuk untuk memeriksa!" ucap Rianti cepat sembari melongokkan kepala ke dalam rumah.


"Maaf, Mbak! Saya sudah bilang Bang Hen tidak ada di sini, dan tuduhan Mbak itu sangat menyakitkan. Kami tidak ada hubungan apa-apa, jadi apa yang Mbak pikir selama ini salah! Maaf ya, Mbak! Saya bukan pelakor. Jadi tak tertarik sedikit pun untuk menjalin hubungan dengan suami Mbak!" ucap Laura.


"Alah! Alasan aja kamu! Aku mau masuk untuk memeriksa!" ucap Rianti.


Sementara, Renita sejak tadi hanya diam. Ia memilih aman dan tidak turut campur dengan urusan itu. Namun, ia hanya tersenyum kecil, seolah senang melihat pertengkaran dua wanita itu.


"Tidak Mbak! Mbak Rianti nggak boleh masuk rumah orang sembarangan tanpa izin. Saya tidak mengizinkan Mbak Rianti masuk ke dalam rumah saya!" tolak Laura.


"Oh, jadi ada yang kau sembunyikan di dalam rumah? Dasar perempuan murahan! Kamu tuh hanya artis sinetron kelas rendah yang terlalu naif. Hanya karena Pak Daniel saja kamu beruntung, dan selebihnya hanya nol. Prestasi nol besar! Tak pantas kamu berada di kalangan kami! Dan sekarang, kamu berani-beraninya goda suamiku. Aku nggak akan biarkan hal itu terjadi. Dasar!" ejek Rianti.


"Maaf, saya tidak berminat untuk bertengkar dengan Anda. Silakan Anda mencari suami Anda di tempat lain. Selamat sore!"


Laura segera menutup pintu dan mengabaikan Rianti yang sedang gusar. Begitu pintu ditutup, Rianti kembali mengetuk-ngetuk dengan kasar.


"Hei! Buka pintunya! Aku belum selesai bicara denganmu!" pekik Rianti.


"Sudahlah, caramu itu sangat tidak elegan dan sedikit memalukan. Kurasa Laura benar, Bang Hen tidak ada di tempat ini karena aku nggak melihat mobilnya. Lebih baik kita pergi dan cari Bang Hen di tempat lain. Siapa tahu dia lagi mabuk di klub malam atau mungkin ... sedang bersama orang lain. Sudahlah!" saran Renita.


"Tidak! Aku akan membuat perhitungan dengan wanita jalang ini!" tolak Rianti.


"Yang kamu lakukan itu justru mempermalukan dirimu sendiri," ucap Renita.


Napas Rianti tampak naik-turun karen ia tak mampu mengontrol emosinya. Sejenak kemudian, ia menendang pintu rumah Laura sambil mengumpat-umpat. Parasnya memerah menahan marah yang bergejolak di dadanya.


Laura yang mendengar ucapan Rianti tak menggubris, ia hanya bisa menahan napas. Namun, ia merasa sedih karena dianggap sebagai perusak rumah tangga mereka berdua. Selain itu, publik juga sangat percaya dengan berita gosip yang beredar di media yang seolah menempatkan posisinya dalam posisi salah. Ia juga pernah melihat Rianti diwawancara televisi yang menyebutkan bahwa Laura adalah biang dari keretakan rumah tangganya.


***


Reno dan Dimas bergerak cepat tanpa melibatkan Niken yang semakin merajuk karena ia hanya dilibatkan dalam hal-hal kecil, Tentu saja hal itu membuat Niken semakin bernafsu untuk memecahkan kasus ini dengan caranya sendiri. Lagipula, ia merasa berhasil memecahkan identitas Margareth Prawira dengan wawancara langsung kepada pengacara Daniel Prawira.


Hari itu juga, Niken juga bergerak tak kalah cepat. Secara diam-diam, ia mendatangi rumah Reno ketika polisi itu sedang bertugas. Rumah Reno, seperti biasa dalam keadaan sepi. Kadang, Silvia ada di rumah, namun kadang dia ada acara di luar atau berkunjung ke rumah ibunya. Niken memastikan, bahwa tidak ada yang tahu bahwa ia mengunjungi kediaman Reno.


Tujuannya ke kediaman Reno adalah mengorek informasi yang mungkin disembunyikan Reno kepadanya. Ia tidak bisa mengakses kantor Reno, karena selalu dalam keadaan terkunci apabila dia keluar. Kini, ia berusaha mendatangi rumahnya, dan berharap mendapatkan informasi penting.


Agak ragu-ragu Niken melangkah ke halaman rumah yang sepi itu, sambil melihat berkeliling. Ia ketuk pintu beberapa kali, sampai seorang wanita muda berpakaian sederhana menampakkan diri. Wanita muda itu, Silvia, mengernyitkan kening melihat kehadiran Niken. Ia belum pernah melihat Niken sebelumnya. Agak mengherankan kalau suaminya didatangi perempuan cantik tanpa seragam polisi.


“Maaf, dengan siapa ya?” tanya Silvia.


“Oh, saya Niken, rekan sekerja Pak Reno,”  ucap Niken sambil mengulurkan tangan.


Silvia menyambut uluran tangan Niken, tetapi ia merasa waspada. Ia masih belum terlalu percaya kalau Niken adalah rekan kerja Reno.


“Oh, ada perlu apa ya?” tanya Silvia penuh selidik.


“Boleh saya masuk?”


Awalnya Silvia merasa ragu, tetapi ia persilakan juga polisi wanita  masuk ke dalam rumah. Ia tak mau dicap tak ramah. Niken merasa senang karena diizinkan masuk ke dalam rumah Reno. Matanya langsung berkeliling, melihat suasana dalam rumah. Banyak foto terpajang di dinding. Foto yang menggambarkan kemesraan Reno dan Silvia.


“Mau minum apa?” tawar Silvia ramah.


“Apa saja,” jawab Niken.


Tak lama, mereka duduk di beranda ruang tamu sambil menikmati teh hangat. Obrolan diawali dengan basa-basi, kemudian beranjak ke hal yang lebih serius. Niken ingin mengetahui tentang kasus yang sedang dihadapi Reno, sebab menurutnya, ada sesuatu yang Reno sembunyikan dari dirinya.


***