
Di sore yang sama, di area belakang rumah isolasi, Gilda akhirnya bisa keluar dari lubang yang menyiksa itu dengan cara dibantu oleh Pak Paiman dan Reno. Sebelumnya, Gilda telah melakukan negosiasi dengan Reno terkait keberadaannya di rumah isolasi. Setelah ini, ia dipersilakan untuk pergi meninggalkan rumah isolasi, terserah bagaimana caranya, karena jelas Reno tak bisa mengantar balik ke kota.
Dalam negoisasi yang dibuat, Gilda tak diizinkan lagi menampakkan diri di rumah isolasi, dan juga tak boleh tampil di siaran televisi untuk meliput berita. Kalau melanggar, maka Reno akan mendakwanya dengan sejumlah perbuatan yang pernah ia lakukan. Gilda keder juga mendengar ancaman itu.
"Aku hanya tak ingin melihat tampangmu lagi, Gilda. Segeralah pergi dari rumah isolasi malam ini juga. Kalau aku masih melihat kau berkeliaran di sekitar rumah, maka aku tak segan-segan akan memproses kasusmu!" ucap Reno.
"Iya, aku akan segera pergi dari tempat ini. Tapi berilah toleransi waktu, karena aku tidak mungki jalan kaki ke kota. Wilayah ini juga tak dijangkau taksi online. Jadi bagaimana aku bisa balik ke kota?" tanya Gilda sambil membersihkan bekas-bekas tanah yang menempel di baju dan kulit.
"Itu bukan urusanku, Gilda! Jadi jangan harap kamu punya hak istimewa di sini!" ucap Reno.
Jurnalis cantik itu terlihat kacau dan kotor. Rambutnya berantakan, dan di bajunya juga banyak tertempel daun-daun kering. Gilda lebih mirip seperti seorang pesakitan yang gila, daripada seorang jurnalis yang biasanya berpenampilan rapi.
"Aku harus ke kamar mandi," ucap Gilda.
Reno mengangguk. Ia bukanlah seorang manusia yang tak punya perasaan. Ia sadar, Gilda pasti akan menunaikan hasrat manusiawinya, setelah lama tertahan. Ia izinkan Gilda untuk ke kamar mandi sekaligus bengemasi barang yang masih tersisa di kamar.
"Silakan. Pak Paiman akan mengantarmu. dan setelah ini kau bisa berkemas sebentar, kemudian meninggalkan rumah isolasi. Aku masuk duluan, karena aku tak boleh berlama-lama di sini. Sebentar lagi jam makan malam, tapi kau tak usah bergabung. Aku tak ingin penghuni lain terkacukan konsentrasi karena melihatmu kembali," kata Reno.
"Aku mengerti," ucap Gilda.
Reno tak menunggu terlalu lama. ia segera masuk ke dalam rumah isolasi terlebih dahulu, meninggalkan Gilda dan Pak Paiman.
"Jadi Mbak naik apa ke kota?" tanya Pak Paiman.
"Belum tahu sih, Pak. Pak Reno tak mengizinkanku menginjak rumah isolasi lagi. Mungkin setelah ini aku berkemas dan berusaha mencari tumpangan di pinggir jalan, sampai ada yang mengangkutku ke kota," kata Gilda.
Mereka berdua berjalan menuju ke rumah isolasi. Dalam hati, sebenarnya Pak Paiman merasa kasihan juga melihat kondisi Gilda.
"Jarang ada kendaraan yang lewat sini karena sudah sore. Apalagi malam, dapat dipastikan tak ada kendaraan. Kalau pun lewat, biasanya kendaraan akan melaju dengan cepat, sehingga tak sempat melihatmu. Pinggir jalan sini sangat gelap, bisa-bisa Mbak Gilda dikira hantu wanita. Kusarankan besok pagi Mbak cari tumpangan, sebab banyak kendaraan menuju kota untuk beraktivitas kalau pagi," saran Pak Paiman.
"Tetapi, Pak Reno kan melarangku menginap di rumah isolasi, Pak?"
"Malam ini Mbak Gilda boleh menginap di rumah belakang. Kebetulan ada satu kamar kosong yang biasa ditempati oleh anakku. Mbak bisa pakai sambil menunggu pagi," ujar Pak Paiman dengan tulus.
"Ta-tapi .... "
Gilda merasa ragu dengan tawaran itu, mengingat Bu Mariyati yang masih kesal kepadanya karena pukulan di kepala. Ia tidak yakin kalau Bu Mariyati akan memberikan izin tinggal di dalam rumahnya.
"Aku paham dengan ada yang di pikiran Mbak Gilda. Jangan khawatir, aku yang akan bicara dengan istriku. Aku tak bisa membiarkan seorang wanita sendirian malam-malam mencari tumpangan di pinggir jalan. Bagaimana nanti kalau yang berhenti adalah orang jahat? Jadi lebih baik Mbak tidur di tempat kami saja," papar Pak Paiman.
"Terima kasih ya, Pak!"
Dalam hati. Gilda merasa salut kepada pria paruh baya yang begitu baik ini. Padahal ia telah berbuat jahat pada istrinya, tetapi malah dibalas kebaikan oleh Pak Paiman? Ia merasa terharu, tak menyangka akan ada orang yang memikirkannya sampai sejauh itu. Hari ini, ia belajar beberapa hal, yang akan diingatnya seumur hidup.
***
Sebenarnya, kehadiran malam tak terlalu diharapkan. Entah mengapa kalau malam menjelang, suasana menjadi lebih menyeramkan. Kegelapan yang hakiki, tak bisa ditolak, mau tidak mau menyelimuti rumah isolasi dan sekitarnya. Para penghuni rumah isolasi tidak mau mau membuat masalah di malam buta seperti itu. Kengeria merayap perlahan saat makan malam. Setelah bersantap, mereka berencana akan segera mengurung diri dalam kamar, tak mau memberi peluang pada siapa pun untuk berbuat kejahatan.
"Dia sedang kurang sehat malam ini, jadi dia istirahat di kamar," jawab Reno sambil melirik tajam ke arah Riky.
"Tadi kulihat dia masih baik-baik saja," ujar Riky lagi.
"Mungkin dia lelah," ucap Reno.
Riky tak berniat bertanya lagi, kembali fokus pada piring makanan yang sedang dihadapinya. Suasana makan malam itu tak terlalu hidup. Mereka hanya menikmati hidangan yang disajikan tanpa niat bercakap. Ammar tak menangkap ada gelagat aneh di antara mereka. Paras mereka memang sedikit tegang, tetapi semua masih dalam taraf normal.
Selepas makan malam, kembali Bu Mariyati membereskan sisa-sisa makanan dan peralatan makan yang kotor. Laura berinisiatif membantu dengan cara ikut mengambil piring dan gelas kotor yang masih ada di meja. Kali ini, Bu Mariyati tak menolak. Ia membiarkan saja Laura melakukan itu.
Sementara, Reno kembali menemui Ollan di kamarnya. Sebelum masuk kamar, Reno memastikan bahwa kondisi sekitar aman. Pria gemulai itu sudah menunggu kedatangan Reno dengan gelisah. Ia ingin segera bertukar kamar malam itu juga.
"Jadi kapan saya akan pindah Pak? Saya sudah nggak sabar. Kamar ini terasa sangat menakutkan bagiku!"
"Sabar! Sabar Ollan! Jangan buru-buru! Kau tahu, ini harus dilakukan secara hati-hati, nggak boleh serampangan. Jangan sampai seorang pun tahu kalau kau berpindah kamar. Kita harus pastikan kondisi sekitar benar-benar aman. Sekarang mereka baru saja makan malam, dan kemungkinan mereka sedang berada di kamar masing-masing. Aku akan memeriksa keadaan terlebih dahulu. Oke?" ucap Reno.
Ollan hanya bisa mengangguk. Ia pasrah saja dengan apa yang hendak dilakukan polisi itu. Yang jelas, ia hanya ingin segera keluar dari kamar itu, karena ia sudah merasa tak nyaman. Reno membuka pintu kamar dengan perlahan, melongokkan kepala keluar, sambil mengamati keadaan.
Kamar Ollan berdampingan dengan kamar para pria, dalam sebuah lorong yang cukup sunyi. Sedangkan kamar Reno berada agak ke depan, hampir berdekatan dengan ruang tengah. Reno harus benar-benar memperhitungkan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu perpindahan kamar ini.
"Kelihatannya aman .... " gumam Reno sambil memberi isyarat pada Ollan.
"Jadi bagaimana?" tanya Ollan tak sabar.
"Kamu tahu kan kamarku sebelah mana? Kamarku sekarang tidak aku kunci. Jadi kamu sekarang tinggal berjalan dengan santai. Ingat! Berjalan dengan santai! Tidak usah panik atau berlari. Ini menjaga kalau tiba-tiba ada yang memergoki. Setiba di depan kamarku, jangan langsung masuk, tapi lihat keadaan dulu. Kalau benar-benar sudah sepi dan tidak ada orang, kamu masuk ke dalam kamar secara perlahan, dan segera kunci kamar dari dalam. tak usah keluar-keluar lagi. Sementara aku akan langsung menempati kamar ini! Paham?"
Reno memberi instruksi.
"Pak Reno tidak ikut menemani?"
"Tidak! Kalau aku menemani nanti malah menimbulkan kecurigaan. Kamu sendirian saja!"
"Aku ... aku takut, Pak!"
"Astaga Ollan! Kamarku itu hanya beberapa meter dari sini dan kamu bilang kamu takut? Aku akan mengawasi dari sini. Jangan khawatir. Kalau ada apa-apa aku akan segera bertindak! Kamu nggak usah takut, oke? Ingat pesanku! Jangan panik!"
Ollan mengangguk lemah, dengan penuh keraguan. Setelah mendengar instruksi dari Reno, ia keluar kamar dengan perasaan tak menentu, sambil mengawasi kanan dan kiri sepanjang koridor yang sepi itu. Ia berharap agar tak ada orang yang melihatnya.
***