
Senja mulai menyelimuti kota. Langit bersaput merah, mengiringi matahari yang mulai beringsut di ufuk barat. Nayya menarik seprai yang membungkus kasur kemudian menyerahkan kepada Gerry yang berdiri di sebelah kompor gas. Mereka sudah siap dengan rencana yang sudah dibicarakan sebelumnya.
“Kamu siap?” tanya Gerry.
Nayya mengangguk, walau hatinya diliputi keraguan. Namun, ia tak punya pilihan lain. Apapun risikonya, mereka akan tetap melakukan rencana itu. Gerry mengambil seprai dari tangan Nayya, kemudian mendekatkan pada kompor yang baru saja dinyalakan.
“Kamu yakin ini aman?” tanya Nayya.
“Aman. Tenang saja!” ucap Gerry dengan penuh percaya diri.
Api mulai membakar ujung seprai, kemudian merambat perlahan. Asap mengepul, dan api mulai menjilat. Nayya mundur beberapa langkah karena merasa takut.
“Kamu cari saja tempat yang aman. Biar aku yang urus ini!”
Gerry memasukkan seprai yang mulai terbakar itu ke sebuah tempat sampah plastik. Asap mulai mengepul memenuhi ruangan, sehingga Nayya terbatuk-batuk. Gerry membuka pintu balkon lebar-lebar. Sehingga asap bisa keluar dari dalam ruangan.
“Sepertinya asapnya kurang banyak. Bagaimana kalau kita bakar kasurnya juga?” usul Gerry.
“Kamu gila! Kita bisa mati terbakar di tempat ini!” ujar Nayya.
“Kalau hanya seprainya yang terbakar, asapnya kurang banyak dan nggak terlihat. Kita butuh asap tebal dan banyak. Kasur ini tebal, dan aku yakin kalau dibakar akan menimbulkan asap yang lumayan banyak. Orang yang melihat akan mengira apartemen ini kebakaran. Percayalah! Kita akan aman. Ini adalah satu-satunya upaya yang bisa kita lakukan!” Gerry berusaha meyakinkan Nayya.
Pada akhirnya Nayya tidak bisa melarang Gerry. Segera saja Gerry menurunkan kasur, kemudian menyeret ke dekat pintu balkon. Seprai yang masih terbakar itu ia ambil dan lemparkan ke kasur. Sontak, api mulai membara dan membakar kasur pelan-pelan.
Rupanya apa yang dikatakan Gerry benar. Kasur itu segera terbakar, dan menimbulkan asap yang mengepul tebal. Asap itu mulai keluar dari jendela, membubung keluar. Gerry berharap ada yang melihat kepulan asap itu.
Sementara, ia juga membawa sisa seprai yang masih dirambati api ke indikator kebakaran yang ada di langit-langit ruangan. Ia naik dengan bantuan kursi, mendekatkan seprai ke indikator, sehingga air terpercik dari indikator itu. Bersamaan itu, alarm kebakaran mulai meraung ke seluruh bangunan apartemen.
Gerry tersenyum lega. Ia berharap usahanya ini membuahkan hasil, walau Nayya masih terlihat cemas. Ia merasa cukup pesimis dengan usaha ini.
“Aku bisa bayangkan saat ini penghuni apartemen ini mulai panik dan berlarian keluar,” ucap Gerry.
“Aku harap ada yang segera menolong kita, sebab kalau tidak, kita yang akan mati terpanggang di sini!” ucap Nayya.
“Kamu tenang saja, kita akan baik-baik kok!”
Asap makin pekat, bahkan ruangan itu kini diselimuti asap. Nayya menutup hidungnya, agar asap tak masuk lebih dalam ke paru-parunya. Matanya terasa perih. Ia meringkuk di ujung ruangan dengan cemas. Api memang hanya membakar kasur, tetapi tetap saja Nayya merasa cemas.
Sementara, Gerry berjaga-jaga dengan seember air dan gayung, kalau-kalau terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Dari dalam ruangan, ia bisa mendengar teriakan-teriakan dari kamar-kamar di sekitar. Rupanya penghuni apartemen mulai panik, Mereka berlaria menyelematkan apa saja yang bisa mereka selamatkan.
Tiba-tiba Gerry mendengar suara pintu digedor dari luar.
“Halo! Apakah ada orang di dalam?” Suara dari luar terdengar memanggil.
“Iya Pak! Toloong! Kami terkunci di dalam!” jawab Gerry.
“Kami akan dobrak pintunya!” ujar suara itu dari luar.
“Baik Pak!”
Gerry tertawa senang, sambil menunggu bantuan datang. Beberapa saat kemudian, ia mendengar pintu itu terbuka.
Klik!
Sosok itu masuk ke ruangan dengan tatapan dingin seolah tak terjadi apa-apa, sementara di belakangnya, seorang satpam apartemen mengikuti.
Satpam itu mengangguk, kemudian beranjak pergi dari ruangan apartemen. Sosok itu menatap ke arah Gerry dan Nayya dengan tajam, kemudian ia mengunci lagi pintu apartemen.
Klik!
***
Miranti baru saja turun dari angkot, kemudian membayar tarif pada sopir, sebelum ia berjalan menyusuri gang yang mulai lengang menuju rumahnya. Ia merasa lelah karena banyaknya aktivitas di kampus hari itu.
Rupanya, dalam waktu dekat jurusannya akan mengadakan kegiatan olimpiade yang melibatkan seluruh pelajar di kota itu. Ia terpilih sebagai salah seorang panitia, sehingga ia harus pulang menjelang malam.
Ingin segera ia sampai, mandi dengan air hangat, dan merebahkan diri di ranjang tercinta. Ia ingin melemaskan otot-otot yang terasa kaku, sambil mendengarkan musik lembut. Sambil berjalan, ia membuka-buka ponsel. Seharian ia tidak memeriksa pesan-pesan yang masuk hari ini.
Ada puluhan pesan masuk ketika ia memeriksa. Ada beberapa pesan dari teman dan dosen. Ada pula dari nomor yang tak dikenal.
“Bersiap untuk mati? Kuantar dirimu pada Jenny dan Alma lebih cepat! Aku tidak ingin membunuhmu, tetapi kupikir kamu harus mati!”
Membaca pesan itu, seketika jantung Miranti bergemuruh. Ia terhenti dari langkahnya, menatap sekeliling. Gang itu terlihat sepi. Rumah-rumah warga tertutup, seolah hanya dirinya seorang diri yang berada di gang itu.
Segera ia mempercepat langkah dengan cemas. Ia tidak mau mati atau terbunuh begitu saja. Siapa sebenarnya yang mengirim pesan itu?
Ia membalas pesan itu.
“Siapa kamu? Jangan coba menakuti aku! Aku akan laporkan ke polisi!” balasnya.
Walau sebenarnya ia memang merasa takut, ia berusaha sok berani.
“Hahaha aku adalah seorang teman. Kita tidak kenal dekat, tetapi kamu pasti tahu aku. Jangan ancam aku dengan polisi. Pikirmu aku takut? Aku tidak takut pada polisi. Jadi selamat menikmati kejutan dariku!”
Kembali sebuah pesan ia terima. Miranti semakin takut. Ia menelepon nomor yang mengirim pesan itu, tetapi panggilannya ditolak.
“Brengsek!” umpatnya.
Miranti melangkah dengan langkah cepat. Jarak ke rumahnya masih beberapa ratus meter, tetapi terasa puluhan kilometer rasanya. Sementa Miranti berjalan cepat, sampai ia merasakan ada seseorang yang mengikuti.
Ia berjalan dengan cemas, menyusuri gang. Terdengar langkah seseorang yang berjalan tak jauh di belakangnya. Ketika ia mempercepat langkah, sosok di belakangnya juga mempercepat langkah.
Rasa penasaran menggelitik Miranti, untuk melihat siapa yang berjalan di belakangnya. Segera ia membalikkan badan dengan cepat, tetapi tidak ada siapa-siapa.
“Oh, mungkin hanya perasaanku saja,”
gumamnya sambil menghela napas lega.
Ia memperlambat langkah sembari terus berjalan. Walau banyak pikiran buruk di kepala, ia terus berjalan tanpa menengok ke belakang lagi. Sementara rumahnya sudah mulai terlihat. Ia merasa lega, karena baginya rumah adalah tempat teraman di dunia. Di sana ada kakak laki-lakinya yang jago bela diri.
Tap!
Tiba-tiba ia merasa ada yang menepuk pundaknya. Miranti hampir terloncat, ia berbalik ke belakang, mendapati seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakangnya!
“K-kamu? Ngapain kamu buntutin aku?” tanya Miranti.
***