Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXXV. The Bag


Arvan tercekat melihat sosok asing yang duduk di sampingnya. Sontak, secara reflek ia tendangkan kakinya ke sosok itu, kemudian dia keluar mobil dari pintu samping kanan. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada sesosok manusia yang tak dikenal tiba-tiba menyerangnya.


Setelah turun dari mobil, ia berlari ke arah pintu depan kastil untuk mencari pertolongan. Sayangnya, baru beberapa langkah ia berlari, sebuah belati dilempar, menancap di punggungnya!


Jleb!


Aaah!


Arvan terjatuh. Ia merasakan nyeri di punggungnya. Saat ia membalikkan kepala ke belakang, sosok itu sudah menghilang. Sayangnya, sosok asing itu berhasil menancapkan sebilah belati di punggung. Darah mulai mengucur, menetes-netes. Ia tertatih menyeret kakinya menuju pintu depan kastil, berharap agar seseorang menolongnya.


Duk ... duk ... duk!


Duk ... duk ... duk!


Ia mengetuk pintu kayu agar segera dibuka. Rasa sakit tak tertahankan terasa di punggungnya. Ia ingin mencabut belati yang menancap, tetapi posisinya sulit untuk dijangkau.


“T-tolong ... tolong aku!”


Ia berusaha berteriak, tetapi suaranya pun seolah hilang dari tenggorokan. Ia berharap agar seseorang membuka pintu dan menolongnya. Ia melihat berkeliling. Sosok hitam itu telah menghilang, tetapi tetap meninggalkan rasa takut yang mendalam bagi Arvan.


Sesaat kemudian, pintu dibuka oleh Helen. Arvan menatap memelas, memohon pertolongan. Ia jatuh tersungkur di ruang tamu tanpa sepatah kata. Darah mulai mengalir dari lukanya. Helen terperanjat melihat pemandangan mengerikan itu.


“Tolooong!” teriak Helen.


Michael yang sudah sejak tadi waspada di dalam kamarnya, segera ke ruang tamu, melihat sesosok pria yang tak dikenal tergeletak dengan belati menancap di punggung. Sementara Helen berdiri dengan wajah pucat dan bingung.


“Helen! Siapa dia? Mengapa begini?” tanya Michael.


Helen gugup tak tahu harus menjawab apa. Sejenak Michael teringat akan teman Cornellio yang menunggu d depan. Pastilah ia juga turut jadi korban keganasan si pembunuh gila itu. Segera Michael memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Arvan.


“Masih hidup! Panggilkan Aldo!” perintah Michael pada Helen.


Wanita paruh baya itu mengangguk cepat, kemudian bergegas masuk ke dalam. Tak lama, ia kembali bersama Aldo dan Elina.


“Oh Tuhan! Apa yang terjadi?” gumam Elina sambil menutup mulutnya.


“Aldo, segera tolong dia!” ucap Michael.


Aldo mengangguk. Segera ia memeriksa bagian tubuh yang tertancap belati. Darah terus mengucur dari luka itu. Walaupun ia berusaha tenang, tetapi tetap saja rautnya tampak sedikit panik.


“Elina! Ambilkan alat medisnya! Helen ambilkan kain bersih!” perintah Aldo.


Tanpa menunggu perintah dua kali, Elina segera masuk untuk mengambil alat medis yang dimaksud. Demikian juga Helen. Wanita paruh baya itu bergegas mengambil yang diminta oleh Aldo.


“Darahnya keluar cukup banyak, aku khawatir dia sudah kehilangan banyak darah di luar tadi. Semoga nyawanya masih bisa diselamatkan,” ucap Aldo.


“Pembunuh biadab itu sedang berkeliaran di luar! Astaga! Bahkan dia menghabisi orang-orang tak berdosa!” ujar Michael.


Elina datang membawa satu kotak peralatan medis. Helen juga telah tiba di tempat itu. Dengan cepat, Aldo menarik belati dari tubuh Arvan dengan beberapa lembar tisu. Darah langsung membanjir keluar dari luka itu. Aldo menutup luka itu dengan selembar kain bersih yang diminta dari Helen.


“Aku akan mencuci lukanya terlebih dahulu agar tidak infeksi, baru kita hentikan perdarahannya,” ujar Aldo.


Semua terdiam, tak berani menyela. Aldo cukup cekatan melaksanakan tugasnya. Ia bahkan tak peduli dengan pakaiannya yang terkena darah. Arvan masih belum siuman, sementara Aldo berusaha semaksimal mungkin.


“Apa dia akan mati?” tanya Elina.


“Entahlah ....”


***


Kesunyian malam benar-benar terasa. Desir angin dan nyanyian jangkrik berpadu menjadi orksetra yang menyeramkan. Cahaya berpendar terlihat dari dua buah tenda yang berdiri di dekat hutan. Sepercik api menyala tak terlalu besar, sementara empat anak muda mengelilinginya.


Sonya, menatap kobaran api itu sambil merenung. Melly yang duduk di sebelahnya menawari kopi panas dalam sebuah mug aluminium. Sonya menggeleng. Sementara di seberang, Antony dan Ringo tampak menikmati kopi mereka masing-masing.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Melly.


“Tiba-tiba aku merindukan Ben,” ujar Sonya.


“Entahlah. Dia berbeda dengan cowok lain,” bisik Sonya.


“Ya, dia memang berbeda. Dia terlihat bukan seperti laki-laki normal. Karena itulah membuat dia tampak berbeda!” ucap Melly.


“Mel! Stop menghinanya!” ketus Sonya.


“Oke. Terserahlah! Daripada memikirkan Ben, lebih baik berfantasi dengan Michael. Pengarang itu jauh lebih baik daripada Ben!”


Sonya terdiam, tak mau lagi menanggapi perkataan Melly. Dilihatnya Melly meninggalkan ia sendiri, kembali masuk ke dalam tenda.


Sonya masih memilih menghabiskan waktu sendiri, walau Antony dan Ringo melambaikan tangan agar ia bergabung. Sonya hanya menggeleng. Angin dingin mencubit-cubit kulitnya. Dilihatnya bintang yang berserakan di angkasa. Suasananya sungguh romantis, apabila ia bisa berdua dengan seseorang yang disayanginya.


Tiba-tiba Melly keluar dari dalam tenda dengan gusar.


“Sonya! Kamu melihat tas ku?” tanya Melly.


“Tas? Nggak. Memangnya di mana kamu taruh tas kamu?” tanya Sonya.


“Aku meletakkannya tadi di sebelah tasmu, tapi aku tak dapat menemukannya. Kemana ya?”


“Kecampur dengan tas cowok kali!” ujar Sonya.


“Masa sih?”


Karena penasaran, Melly memeriksa tenda teman laki-lakinya. Sayangnya, tas yang dicari tetap belum ketemu. Tentu saja hal ini membuat Melly heran, demikian juga Antony dan Ringo. Mereka sekali lagi masuk tenda dan mencari tas Melly yang menghilang. Tas itu mendadak raib, tak berbekas.


“Masa sih di hutan ini ada pencuri?” gerutu Melly.


“Atau mungkin dibawa binatang hutan? Aku melihat ada beberapa ekor anjing berkeliaran dan monyet di pepohonan,” ujar Sonya.


“Sepertinya nggak. Tak ada makanan dalam tas. Biasanya binatang hutan tertarik dengan makanan. Ini agak mengherankan!”


Melly duduk di rerumputan dengan kesal. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menggerutu.


“Ada barang berharga dalam tasmu?” tanya Sonya.


“Nggak sih! Hanya berisi baju ganti dan kosmetik. Tak ada sesuatu yang menarik di situ. Huh!”


“Sabarlah dulu!”


Tiba-tiba dari dalam hutan terdengar suara Antony memanggil.


“Mel! Ini tasmu bukan?” teriak Antony.


Melly dan Sonya segera menghambur menghampiri Antony yang menyorotkan lampu senter di semak-semak di bawah sebuah pohon. Sementara Ringo juga berdiri di dekatnya. Di antara semak terlihat tas ransel berwarna coklat, dengan isi berhamburan. Baju-baju berserakan, juga bedak, lipstik dan aneka aksesoris perempuan.


“Iya ini tasku! Kok bisa berhamburan seperti ini?” pekik Melly.


“Pasti ini ulah monyet!” jawab Sonya.


“Monyet? Sepertinya bukan. Sejak kapan monyet tertarik dengan lipstik?” ucap Antony.


Semua terdiam. Melly juga tak berniat merapikan barang-barangnya yang tercecer. Mereka memandang berkeliling yang gelap gulita. Pohon-pohon mengepung.


“Sebaiknya kita kembali ke tenda dan segera tidur. Tiba-tiba aku merasa sangat seram....,” gumam Sonya.


“Baiklah, aku beresi besok saja barang-barang ini. Sekarang terlalu gelap!” ucap Melly.


Antony menyorotkan senter ke sekeliling hutan. Yang terlihat hanya pohon-pohon besar, menjulang menyeramkan. Di atas ranting sebuah pohon, terdengar suara kotak musik yang melantunkan irama musik berdenting-denting.


“Kita nggak sendirian di sini!” gumam Antony.


***