Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
367. Menjelajah Hutan


Sebuah mobil menembus malam yang menggulita, di sebuah ruas jalan berkelok menuju kastil tua. Di dalamnya, Dimas sedang menyetir sambil sesekali menenggak kopi botolnya untuk menghilangkan kantuk. Namun, kafein di dalam kopi ternyata belum cukup anpuh untuk meredakan kantuk yang mendera. Dimas masih menguap beberapa kali, dan matanya juga terasa berat. Seperti biasa, jalan raya yang ia lalui tidak ramai, bahkan terlihat sepi tanpa satu kendaraan pun melintas.


Karena matanya tak bisa diajak kompromi. terpaksa ia menepikan kendaraan di tepi jalan yang sepi dan gelap. Hanya ada perkebunan membentang yang ia lihat. Ia membuka kaca mobilnya sedikit, agar ada aliran udara yang masuk. Memang agak dingin, tetapi ia membutuhkan itu daripada pendingin di mobilnya. Ia menyandarkan kepala sambil membuka ponselnya. Rupanya jaringan seluler sudah menghilang, sehingga ponsel itu tak berfungsi.


Semilir angin dari luar membuat matanya semakin berat, sehingga tanpa disadari ia tertidur sejenak. Namun beberapa menit ia memejamkan mata, ia segera membuka mata. Pikiran buruk datang tiba-tiba menyergap otaknya. Ia khawatir ada kejadian buruk yang terjadi malam ini di kastil. Rasa kantuk yang melanda tak boleh dimanja begitu saja. Ia harus segera melanjutkan perjalanan ke kastil, agar tidak terlalu dini hari sampai ke sana.


Dalam perjalanan ke kastil, ia masih berpikir tentang keluarga-keluarga para wanita yang tadi siang ia kunjungi. Yang mengejutkan adalah salah seorang wanita itu ternyata ayahnya telah menghilang dalam keadaan tak wajar. Bahkan sampai kini kasusnya ditutup karena tak terpecahkan. Sebelum berangkat ke kastil tadi, ia sudah meminta beberapa rekan polisi untuk mengawasi rumah keluarga ini. Apakah benar pria yang menghilang ini benar-benar hilang? Atau memang ada suatu rahasia yang sengaja ditutupi? Kalau memang itu suatu kebohongan, apakah motif di balik kasus itu? Pertanyaan-pertanyaan itu masih berputar di kepala Dimas.


Mobil Dimas sudah mulai mendekati kastil. Menaranya sudah terlihat di antara langit yang gelap. Dimas sudah berhasil mengusir rasa kantuk yang mendera, karena kafein dalam kopi sudah mulai bereaksi. Butuh tiga botol kopi untuk membuat matanya tetap melek. Ia melajukan mobil menuju gerbang kastil, dan segera masuk ke dalam halaman depan yang luas. Seperti biasa, kastil dalam keadaan senyap seperti tanpa penghuni.Dimas hendak masuk ke dalam kastil melalui pintu belakang, karena pintu depan memang selalu dalam keadaan terkunci.


Ia melangkah melalui halaman samping, menuju ke belakang. Suasana benar-benar sunyi malam itu. Dimas menduga bahwa para penghuni mungkin telah terlelap. Sayup-sayup ia melihat Juned di dekat kolam renang sambil mengarahkan senter ke segala penjuru. Rupanya polisi pria itu tengah berpatroli di sekitar halaman belakang. Dimas tak mau mengganggu Juned, ia langsung masuk melalui pintu dapur.


Sebelum masuk ke ruangan dalam, ia tak sengaja melihat tingkap menuju ke ruang bawah tanah yang terbuka. Kalau tingkap itu terbuka, berarti ada orang yang sedang masuk ke dalam sana. Dimas mengernyitkan dahi. Siapa yang turun ke ruang bawah tanah malam-malam begini? Apakah Reno sedang melakukan penyelidikan atau bagaimana? Ia ingin masuk ke dalam ruangan bawah tanah itu, tetapi ia ragu-ragu. Ia dalam keadaan mengantuk, lelah, dan tidak siap. Ia tidak tahu apa yang menunggu di ruangan bawah tanah sana. Ia hanya berharap agar malam ini tidak ada kejadian buruk yang terjadi.


***


Ryan masih meringkuk di sudut ruangan saat sosok hitam itu mendekat. Ia sudah menggenggam kayu  di tangan, siap dipukulkan apabila sosok itu berbuat buruk kepadanya. Namun, sosok itu tiba-tiba berhenti di dekatnya, menatap tajam ke arah Ryan, dari balik selubung hitam yang menutup kepalanya. Tanpa diduga, sosok itu mengulurkan tangan kepada Ryan.


"Ka-kamu siapa?" tanya Ryan dengan bingung.


Sosok itu tak mengucap sepatah kata pun, malah mengisyaratkan agar Ryan mengikuti dirinya. Sementara Ryan sendiri masih takjub dengan yang terjadi. Awalnya ia ingin memukul sosok itu dengan kayu yang saat ini digenggamnya, tetapi karena sosok ini tak menyerangnya, ia mengurungkan niat.


Mereka keluar pondok, masuk ke dalam hutan yang teramat gelap. Ryan merasa merinding. Seumur hidup baru kali ini berada di tempat terbuka segelap ini. Ia nyaris tak bisa melihat apa pun di sekitarnya. Namun, sosok itu mempunyai sebuah lampu senter kecil sebagai penunjuk jalan. Mereka menyusur sebuah jalan setapak kecil yang gelap, menembus hutan lebat. Ryan hanya mengikuti saja langkah sosok yang berjalan di depannya, sebagai penunjuk jalan.


Suara binatang hutan bersahut-sahutan di kejauhan, mungkin jeritan sejenis monyet atau burung-burung malam. Ryan makin kecut, karena ia tidak tahu sama sekali kemana sosok ini mengajaknya. Mereka menerobos semak dan rimbunnya hutan, makin jauh meninggalkan pondok. Yang jelas, Ryan tidak berpikir kalau mereka akan pergi ke arah air terjun, sebab Ryan tidak mendengar suara aliran air. Jalan ini belum pernah ia lewati sebelumnya.


"Kita akan kemana?"


Pada akhirnya, Ryan memberanikan diri untuk bertanya, karena kakinya sudah mulai penat. Sosok itu tak menjawab pertanyaan Ryan. Mereka terus berjalan sampai menemukan sebuah tempat yang agak terbuka, tetapi banyak pula ditumbuhi pohon besar di sekelilingnya. Dari tempat itu, sayup-sayup Ryan dapat mendengar suara aliran sungai.


Di bawah sebuah pohon besar, Ryan melihat semacam tenda darurat yang terbuat dari daun dan ranting-ranting hutan, serta bekas api unggun yang sudah dipadamkan. Ryan menatap berkeliling. Firasatnya berubah menjadi buruk. Entah mengapa ia berpikir akan dihabisi di tempat ini, lalu akan dikuliti dan menjadi santapan manusia ini. Ia terpengaruh dengan sebuah film yang pernah ditontonnya, sehingga ragu-ragu untuk melangkah maju.


Sosok itu mengisyaratkan untuk Ryan untuk duduk. Di tempat itu ada sebuah batu besar yang sepertinya difungsikan untuk tempat duduk. Ryan hanya menuruti perintah sosok itu. Ia masih bertanya-tanya, apa tujuan sosok misterius ini sebenarnya?


Sosok itu tiba-tiba menyodorkan daging yang sudah dipanggang, yang ditusuk oleh kayu. Entah daging apa yang dipanggang ini, sepertinya terlihat kurang matang, karena Ryan melihat sisa-sisa darah masih menempel pada daging itu. Apakah ini daging manusia, pikir Ryan. Tetiba ia merasa mual. Ia menggeleng cepat menolak pemberian sosok itu. Daging yang ditusuk itu diletakkan begitu saja, dengan dialasi sebuah daun lebar.


"Kamu siapa? Mengapa kamu bawa aku ke sini?" tanya Ryan makin penasaran.


Sosok itu tak menjawab. Ia terlihat sibuk mengerjakan sesuatu di dekat tenda darurat, sama sekali tak mempedulikan Ryan. Dalam hati, Ryan mengumpat, tetapi ia masih bersyukur karena ia tidak dihabisi. Atau memang sengaja dibuat seperti itu? Ryan bergidik. Ia berharap agar pagi segera tiba agar ia tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh sosok yang sama sekali tak ia ketahui identitasnya ini.


***