
Di tengah rimbunnya hutan, Ben melihat sebuah bangunan tua terbuat dari kayu. Bangunan itu tampak tak terawat, banyak lumut dan jamur di dinding-dindingnya. Pintunya juga terbuat dari kayu, tertutup rapat. Pekikan burung gagak yang parau terdengar dari atas pohon, seakan menjaga rumah dari setiap pendatang. Aroma mistis menguar dari suasana sekitar rumah.
Ben tak habis pikir, siapa yang tinggal dalam rumah dalam hutan terpencil ini? Ataukah rumah itu kosong? Rasa penasaran membuat Ben melangkah perlahan menuju rumah kayu itu. Ada rasa khawatir yang ia rasakan, tetapi ia berusaha mengumpulkan segenap keberanian. Baginya, rumah itu menyimpan rahasia tersembunyi, yang siap diungkap.
Ben menempelkan telinga ke daun pintu yang terbuat dari kayu, berharap mendengar sesuatu. Sayangnya tak ada suara apapun ia dengar, hanya suara angin yang berdesir-desir.
Krieeet!
Karena ia bersandar pada pintu kayu, tak sengaja pintu terbuka. Suasana dalam rumah begitu gelap, tak ada perabot apa pun, kecuali sebuah meja di sudut ruangan. Aromanya aneh, Ben nyaris tak pernah menghirup aroma seperti itu dalam hidupnya. Ia berjalan memasuki ruangan dalam rumah kayu itu.
Sebuah ruangan cukup lapang di tengah, dengan tiga bilik di belakang. Meja yang terbuat dari kayu itu juga terlihat lapuk. Beberapa benda terserak di atasnya.
Ben semakin didera rasa penasaran. Ia mengambil sebuah borgol yang mulai berkarat. Ia bisa merasakan kengerian yang terjadi di rumah ini. Mungkin dahulu ada seseorang yang pernah diborgol di tempat ini.
Selain borgol, terdapat sebuah pisau yang mulai berkarat. Napas Ben seolah terhenti. Pisau selalu identik dengan penyiksaan yang keji. Ia tak berani membayangkan lebih jauh.
Puas meneliti barang yang ada di atas meja, ia beralih ke bilik pertama dalam rumah kayu itu. Di dalamnya terdapat sebuah kursi kayu, dengan ikatan tali tambang di pegangannya. Pikirannya langsung melayang, bahwa dahulu ada seseorang yang pernah duduk sambil diikat di bilik ini. Ben merasa tercekat. Kekejian macam apa lagi ini?
Rasa takut semakin merayap. Ingin segera ia tinggalkan rumah itu, tetapi apa daya rasa penasaran kian menyeretnya untuk masuk ke dalam bilik kedua. Dalam bilik ini hanya ada ruangan kosong, dengan lantai yang teramat kotor, dengan kain-kain yang berserak. Ia memungut sebuah kain yang ternyata sebuah baju wanita dengan model lama. Warnanya nyaris pudar, tak dapat didefiniskan. Ben menduga, baju ini milik orang yang disekap dalam bilik.
Bilik ketiga, hampir sama dengan bilik lainnya. Sebuah ruangan pengap dengan peti mati besar terbuat dari kayu di dalamnya. Melihat peti, pikiran Ben jadi semakin tak karuan. Ia teringat dengan cerita vampir yang tertidur dalam peti selama ratusan tahun, kemudian bangkit untuk menghisap darah. Ben semakin penasaran dengan apa yang berada dalam peti tersebut. Ia buka perlahan, mendapati sebuah kerangka manusia di dalamnya.
“Astaga!” pekik Ben.
Buru-buru ia tutup kembali peti mati berisi kerangka manusia tersebut. Siapa sosok manusia yang kerangkanya bersemayam dalam peti tersebut? Ben semakin penasaran. Dadanya berdegup kencang. Kengerian macam apa yang terjadi dalam rumah kayu ini? Di bawah peti, ia melihat sebuah tas wanita yang udah lapuk. Ia pungut tas itu, untuk memeriksa apa yang ada di dalamnya. Hanya kertas-kertas lapuk tak terbaca, sebuah kotak bedak, cermin, dan lipstik keluaran lama. Siapa pemilik tas ini?
Pikirannya bercampur aduk. Ia merasa tak nyaman berada dalam rumah kayu ini terlalu lama. Segera ia putuskan untuk keluar. Tiba-tiba, ia melihat kartu identitas usang tergeletak di lantai. Ia memungut, kemudian mengamati foto yang sudah buram dan tak dikenali. Identitas itu juga nyaris tak terbaca. Hanya tiga huruf awal nama saja yang terbaca.
MAD ....
Siapa ‘Mad’ ini?
***
Michael mendapati bilik dalam tanah yang ditunjuk Adrianna telah kosong. Adrianna tercekat. Beberapa saat lalu. Ia menjumpai Tiara ada di dalam sana, tetapi wanita muda itu menghilang. Bilik terlihat sunyi, tak ada seorang pun di dalamnya.
“Kamu yakin bilik ini?” tanya Michael.
“Aku yakin bilik ini! Bagaimana mungkin aku bisa lupa?” tanya Adrianna.
“Lalu di mana Tiara? Katamu dia ada di dalam sini,” ucap Michael.
“Ya, dia memang ada di dalam sini. Aku nggak tau bagaimana Tiara menghilang. Pembunuh itu mungkin telah memidahkan dia ke tempat lain, Michael. Kita terlambat! Tiara pasti sudah mati, sama seperti yang lain!” ucap Adrianna dengan nada sedih.
“Apakah kamu mau mencarinya?” tanya Adrianna.
“Ruang bawah tanah ini mirip labirin. Kalau kita tidak punya denah dalam ruangan bawah tanah ini, dapat dipastikan kita pasti tersesat. Kita ke atas dulu saja!” ajak Michael.
“Michael! Kita harus selamatkan Tiara! Bagaimana mungkin kamu bisa setenang itu?”
“Adrianna dengarkan aku! Kita nggak tahu Tiara ada di mana sekarang. Bisa jadi ini jebakan si pembunuh agar kita masuk lebih dalam dan menyekap kita. Belajarlah dari kejadian yang menimpa Cornellio. Bagaimana kalau tiba-tiba pas kita berjalan, disekap dari belakang dan dimasukkan ke dalam bilik-bilik ini? Apa kamu mau? Jangan gegabah. Okey?”
Michael berusaha menenangkan Adrianna yang parasnya sudah berubah sedih.
“Tapi aku kepikiran Tiara. Dia adalah sahabatku satu-satunya di kastil ini. Kamu harus tolong dia!” ucap Adrianna.
“Ya, pasti aku akan tolong dia. Tapi nggak sekarang. Kenapa? Karena musuh yang kita hadapi ini nggak jelas. Kalau kita mengedepankan emosi, maka kita tidak segera menemukan, atau kita sendiri yang hilang. Kurasa dia baik-baik saja. Pembunuh itu nggak bodoh, segera menghabisi korbannya. Firasatku mengatakan dr. Dwi masih hidup, tetapi entah di mana. Demikian juga Mariah dan Tiara. Mereka juga disembunyikan di suatu tempat yang kita nggak tahu,” terang Michael.
Wajah Adrianna melunak. Apa yang dikatakan Michael memang benar. Ia mengangguk pelan. Michael mengajak segera naik ke atas, khawatir hal buruk akan terjadi apabila mereka berlama-lama dalam ruang bawah tanah.
Di atas, Helen masih menatap mereka dengan pandangan curiga, seolah bertanya tentang kejadian yang terjadi di ruang bawah tanah. Michael dan Adrianna tak memedulikannya, mereka memilih pergi ke ruang tengah, duduk saling terdiam.
“Kastil ini begitu sepi. Semua penghuninya tak ada di tempat kecuali kita,” ujar Michael.
“Dan pembunuh itu tentunya, Michael. Dia seperti seekor bunglon yang menanti mangsanya dari balik daun dengan sabar, agar masuk perangkap. Ia juga berkamuflase menjadi teman kita, agar mudah memperdaya,” gumam Adrianna.
“Kamu masih menuduh Maira pelakunya?” tanya Michael.
“Mungkin. Entahlah, firasatku mengatakan dalang semua ini adalah Maira atau Hans. Atau mereka berkolaborasi sama-sama membantai semua yang ada di sini. Mereka pasangan aneh, selalu berpikiran kotor,” dengus Adrianna.
“Saat ini Hans dan Maira sedang di air terjun. Lalu siapa yang mengunci Tiara?” tanya Michael.
“Aku nggak yakin mereka benar-benar ke air terjun. Aku khawatir kepergian mereka ke air terjun hanya kamuflase saja. Bisa saja mereka menyelinap dan melakukan itu. Sepertinya pembunuh ini sangat terampil dalam menipu dan membunuh. Aku sungguh sangat khawatir.”
“Masuk akal, Adrianna. Apakah kamu percaya denganku? Sebab Maira bilang aku adalah pembunuh karena novel yang kubuat sangat mirip dengan kejadian di kastil ini,” ucap Michael.
“Aku nggak tahu dan nggak yakin, Michael. Kalau kamu pembunuhnya, seharusnya kamu sudah bunuh aku di ruang bawah tanah sana ketika ada kesempatan,” kata Adrianna.
Setelah beberapa lama, mereka kembali ke kamar masing-masing. Michael masih tak habis pikir dengan banyak kejanggalan yang terjadi di kastil ini. Baru saja ia membuka buku harian milik Anastasia, ketika tiba-tiba terdengar suara ledakan senjata api.
Dooorrr!
***