Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
107. Pesan Misterius.


Di sebuah ruangan kantor polisi yang terkesan berantakan, seorang polisi muda duduk sambil memelototi data di layar komputer. Sementara segelas kopi panas berada di meja, belum disentuh sama sekali.


“Reno!” Tiba-tiba rekannya datang, duduk di depan meja, sembari menatap Reno yang sepertinya sedang sibuk.


“Ntar Dim. Aku lagi memeriksa kasus-kasus yang tak terpecahkan selama 10 tahun terakhir. Ternyata kasus kastil tua masuk salah satu di antaranya. Selama ini kepolisian sengaja menutupi kasus itu,” ucap Reno dengan serius.


“Lupakan kastil tua itu! Semuanya sudah terjawab kan? Ada sesuatu yang serius yang harus kita selidiki,” ujar Dimas.


“Kasus baru?” Reno mengalihkan pandangannya pada Dimas.


“Yup! Tadi siang aku bertemu dengan salah seorang tetangga. Dia bilang menemukan mayat terapung di danau pinggiran kota. Sebenarnya aku tak menanggapi serius laporannya, tetapi karena aku berpikir bahwa tetanggaku ini adalah orang baik, aku mempertimbangkan,” ucap Dimas.


“Kamu sudah mengecek lokasi?” tanya Reno.


“Ya. Aku segera membentuk tim kecil untuk mengecek lokasi. Rupanya tetanggaku itu berkata benar. Kami menemukan mayat seorang gadis berusia sekitar 20 tahun dalam keadaan membusuk mengapung di danau. Sepertinya ia dibunuh beberapa hari lalu. Kami belum berani menyimpulkan penyebab pembunuhan itu. Saat ini tim forensik tengah melakukan otopsi. Semoga hasilnya dapat segera kita ketahui,” terang Dimas.


“Sepertinya kasus menarik. Jujur, setelah memecahkan kasus kastil tua itu, aku agak malas menyelidiki kasus baru. Tapi sepertinya kasus yang kamu tawarkan itu cukup menarik,” kata Reno.


“Aku belum ada gambaran apa-apa. Tapi lagi-lagi aku kecolongan. Beberapa wartawan TV datang ke danau dan meliput. Kami tak memberikan info apa-apa, tetapi Channel-9 melakukan wawancara secara eksklusif dengan Risman dan Yunus, orang yang menemukan mayat itu pertama kali,” keluh Dimas.


“Itu di luar kuasa kita, Dim. Bagaimanapun pergerakan dunia pers pasti nggak akan bisa dibendung. Mereka akan bertindak layaknya polisi, mencari informasi ke sana-ke mari, kemudian menyiarkan kepada publik, membentuk opini publik yang belum tentu kebenarannya. Yah, begitulah dunia pers.”


“Yah, aku sih sadar akan hal itu. Aku berharap agar laporan forensik segera turun, lalu kita kumpulkan data-data yang ada di lapangan. Kami menemukan banyak jejak sepatu berbagai ukuran, bahkan jejak kaki. Jejak itu hampir mengering dan hilang. Tapi kami sudah mengambil gambarnya.”


Dimas mengeluarkan sejumlah foto dari amplop coklat, kemudian menyerahkan pada Reno. Dalam foto-foto itu terlihat jasad seorang gadis yang telah rusak dalam berbagai posisi, serta foto-foto jejak sepatu yang bertebaran di sekitar danau.


Reno mengamati foto-foto itu dengan saksama. Keningnya berkerut, mencoba memahami gambar yang ada di foto. Ia prihatin, mengapa ada yang tega menghabisi gadis ini. Namun, sebagai seorang polisi dia sudah sering kali melihat puluhan mayat yang tewas secara tragis. Tentunya itu bukan hal asing.


“Hmm. Bagus. Bisa jadi jasad wanita itu dibuang beramai-ramai oleh segerombolan orang. Ini yang harus kita selidiki lebih jauh,” Reno manggut-manggut.


“Oke, Ren. Oya, bagaimana hubunganmu dengan Silvia? Apakah sudah membaik? Bukankah seharusnya dia bangga denganmu?” cecar Dimas.


Reno menggeleng. Sebenarnya ia tidak ingin membicarakan masalah ini dengan Dimas, tetapi ia tahu bahwa Dimas adalah teman dekatnya. Ia harus mengatur napas sebelum berbicara.


“Silvia meninggalkanku, Dim. Dia pulang ke rumah orang tuanya.”


“Astaga! Maafkan aku, Ren. Aku nggak ada maksud untuk ....”


“Nggak apa-apa, Dimas. Aku mulai terbiasa dengan kesendirian. Lupakan saja! Lebih baik kita fokus untuk menangani kasus ini,” ucap Reno.


Dimas mengangguk. Ia tak ingin bertanya apa-apa lagi. Reno benar, sebaiknya mereka lebih fokus untuk menangani kasus yang ada.


***


Setelah menerima pesan aneh dari Ferdy malam itu, Adinda jadi semakin gelisah. Perasaan tak aman mulai menghantui. Tak hanya saat di kost, tetapi juga di tempat umum. Ia merasa seperti sedang diawasi. Sialnya, ia belum bertemu Lena atau Rasty. Ia merasa was-was di mana pun dia berada.


Seperti sore itu, saat dia berjalan di sepanjang koridor kampus yang mulai sepi. Sebentar-bentar ia menoleh ke belakang, takut-takut kalau ada yang mengikuti. Tiba-tiba ia merasa ada yang mencolek dari belakang. Sontak ia terkejut setengah mati. Ia palingkan muka, mendapati seseorang yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Kamu!” ucap Adinda dengan gusar.


“Maaf ngagetin kamu, Din. Aku sengaja pengen ketemu kamu. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan,” kata Ferdy.


“Sepertinya penting banget,” ujar Adinda penasaran.


Mereka memilih sebuah tempat duduk di bawah pohon, di sisi sebelah gedung kuliah. Masih banyak mahasiswa yang berlalu-lalang. Adinda masih merasa gelisah. Pikirannya tak tenang.


“Lihat ini!”


Ferdy membuka ponsel, menunjukkan pesan-pesan singkat yang dikirim dari nomor tak dikenal. Adinda membaca pesan-pesan itu dengan gelisah.


Beberapa pesan yang ia baca adalah,


Aku tahu semuanya! Aku tahu semua yang kalian lakukan!


Jangan pernah lari, karena kalian semua akan menerima akibatnya!


Aku tenggelam dalam danau dingin sendirian. Kalian jahat!


Adinda menatap Ferdy dengan penuh rasa takut. Pesan-pesan itu membuat merinding seketika. Siapa orang iseng yang mengirim pesan-pesan ini?


“Siapa pengirimnya, Fer?” tanya Adinda.


“Aku nggak tahu, Din. Nomornya saja aku nggak kenal. Waktu aku telepon juga tak tersambung. Siapa yang mengirim pesan-pesan ini?” Paras Ferdy terlihat gelisah.


“Apa teman-teman lain juga mendapat pesan serupa?” tanya Adinda.


“Kalo aku mikirnya, pasti ada salah satu dari mereka yang iseng kirim-kirim gini. Soalnya yang tahu kejadian itu kan hanya kita bersembilan, tak ada orang lain. Ini pasti kerjaan teman-teman,” duga Ferdy.


“Iya, tapi siapa? Masa sih dia mau menebar ketakutan kayak gini? Pesan ini sumpah serem banget. Seolah-olah dikirim oleh orang yang sudah mati,” kata Adinda.


“Aku nggak percaya hantu dan semacamnya ya. Nggak ada cerita orang mati terus kirim pesan kayak gini. Ini pasti ulah iseng teman-teman!”


“Iya, tapi siapa?” tanya Adinda penasaran.


“Besok coba kamu tanya yang lain. Kalian kan satu kampus, kalau aku kan nggak. Tiap hari kerja cari duit. Siapa tau mereka juga mendapat pesan yang sama.”


“Aku seharian ini nggak ketemu sama siapa-siapa, Fer. Entah kenapa aku ngerasa nggak nyaman. Aku juga nggak terlalu percaya hantu, tetapi aku kadang merasa ada yang ngikutin gitu. Di kost sendirian, kayak ada seseorang di kamar, bahkan berbelanja di supermarket pun aku ngerasa kayak ada yang ngelihat. Ini mungkin halusinasi, tapi aku merasa kayak orang gila,” keluh Adinda.


“Kemarin aku juga gitu, Din. Kukira ada seseorang yang lagi mengawasi tempat kerjaku, tapi ternyata hanya gelandangan. Udahlah, nggak usah dipikir. Ketakutan yang berlebihan nggak baik untuk kesehatan mental. Lebih baik kamu fokus di kegiatan-kegiatan lain yang positif.”


Adinda mengangguk. Karena hari sudah mulai malam, mereka sepakat untuk berpisah. Adinda kembali berjalan sendirian menyusuri jalan setapak kampus yang mulai sepi. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk tanpa nama pengirim.


Adinda membaca pesan singkat itu.


Seseorang akan mati lagi.


***