Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
318. Koordinasi


Matahari sudah merangkak perlahan ke ufuk barat. Sinarnya yang keemasan mulai menyelimuti hutan dan sekitar air terjun. Rombongan yang dipimpin oleh Ramdhan telah tiba di kawasan kastil. Sementara, Mariah menunggu di meja makan dengan paras cemas. Sudah hampir dua jam ia menunggu di meja itu dengan pikiran kacau, karena rombongan dari air terjun tak kunjung bersua. Makanan yang ia masak masih tak tersentuh di atas meja, menunggu dinikmati. Namun, para penghuni kastil belum juga tiba.


"Mereka akan segera kembali. Jangan risau." Ammar berusaha menenangkan istrinya.


Mariah hanya mengangguk. Di meja makan itu ada Ammar dan Juned yang telah siap untuk makan siang. Waktu yang tidak tepat sebenarnya, karena hari sudah menjelang sore. Namun, prut yang lapar tak bisa ditunda. Makan siang harus tetap dilaksanakan.  Sementara, Dimas yang baru saja dari halaman luar, langsung bergabung di meja makan, mengambil tempat dan menatap hidangan yang tersaji di hadapannya.


"Mereka sudah kembali," ucap Dimas.


"Di mana mereka sekarang?" tanya Ammar.


"Masih membersihkan diri di kamar masing-masing. Tetapi tak semua," kata Dimas.


"Tak semua? Apa maksudmu?"


"Kata Ramdhan, beberapa orang masih tinggal di air terjun termasuk Reno. Ada sesuatu terjadi di sana. Nanti Ramdhan akan bercerita saat makan siang. Dia diminta kembali ke sini oleh Reno dan mengamankan beberapa penghuni. Setelah makan siang ini aku akan menyusul mereka," lanjut Dimas.


Ammar mengernyitkah dahi. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk telah terjadi.  Namun, sengaja ia tak menunjukkan kecemasannya di hadapan yang lain. Tak lama, para penghuni yang baru tiba dari air terjun juga telah bergabung di meja makan. Mereka tampak bersih, sudah mandi dan berganti pakaian. Mereka segera mengambil tempat di seputar meja makan.


Karena rasa lapar sudah mencubit-cubit lambung, mereka segera memulai acara makan siang yang terlambat itu. Tak banyak yang mereka bicarakan. Ammar masih menunggu Ramdhan menyampaikan kejadian yang sebenarnya terjadi di air terjun. Mariah menunggu dengan cemas. Ia khawatir, kejadian buruk akan berulang di kastil miliknya itu.


Ramdhan telah menyelesaikan makan siang, dan kini ia tengah bersiap untuk bercerita. Setelah meneguk air putih dalam gelas ia mulai bercerita. Kejadian di air terjun iu diawali dengan hilangnya Nadine saat buang air kecil, kemudian setelah diselidiki, mereka tak menemukan keberadaan Nadine. Beberapa dari mereka memutuskan untuk pergi ke air terjun. Di lokasi tak jauh dari air terjun, Jeremy mengaku menemukan Nadine dalam sebuah pondok kayu. Namun setelah dicek keberadaannya, rupanya Nadine tidak ditemukan di lokasi pondok itu. Bahkan, Stella yang ditugaskan untuk menunggu juga menghilang, sehingga Pak Reno memutuskan untuk menyuruh Ramdhan mengawal anggota yang tersisa untuk kembali ke pondok.


Semua yang hadir di situ tercekat mendengar penuturn Ramdhan. Kejadian itu membuat Mariah benar-benar khawatir. Apa yang ditakutkannya, seolah menjadi kenyataan. Ia hanya bisa menahap napas, karena gerbang mimpi buruk seolah baru dimulai. Ia tidak menyangka kalau terbunuhnya Lidya adalah sebuah awal.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" gumam Mariah sambil menatap paras suaminya yang terlihat tenang.


"Kita tidak boleh panik dengan kejadian yang sedang terjadi. Keselamatan para penghuni kastil jelas adalah prioritas utama. Jangan sampai lengah. Dimas, segera susul Reno dan upayakan untuk bisa membawa semua yang ada dalam keadaan selamat. Kau juga harus ke sana Juned. Sementara itu Ramdhan dan Reno akan bertugas mengamankan kastil. Sebentar lagi gelap, dan itu akan membuat kondisi akan semakin sulit," kata Ammar.


Dimas segera mengangguk. Waktu petang sudah hampir tiba. Apa yang dikatakan Ammar memang benar. Saat ini ia harus segera ke sana untuk menggantikan Reno yang tengah sendirian mencari keberadaan para penghuni kastil yang menghilang. Tanpa menunggu waktu lama, ia segera menyusul Reno, ditemani dengan Juned.


***


Hutan makin gelap, matahari kian menepi di langit barat. Kecemasan melanda Jeremy dan Ryan yang belum juga menemukan istri-istri mereka. Reno juga ikut menyisir kawasan huran sekitar pondok, mencari petunjuk yang mungkin tertinggal. Namun, sepertinya tak ada petunjuk apa pun yang tertinggal.


"Kita tidak bisa menunggu sampai malam. Sebelum hutan ini makin gelap. kita harus kembali ke kastil. Tempat ini sungguh asing dan kita tidak membawa sumber cahaya yang memadai. Kita harus kembali ke kastil," kata Reno sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Tapi ... tapi bukankah kita belum menemukan mereka?" tanya Ryan dengan cemas.


Reno hanya menggeleng, sembari menghela napas.


"Kita tidak bisa memaksakan diri, Ryan. Kita tidak tahu rahasia apa yang tersembunyi di hutan ini, atau siapa yang kita hadapi. Semua bisa saja terjadi. Aku tahu saat ini kalian panik dan bingung atas kehilangan istri-istri kalian, tetapi keselamatan kalian juga penting. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kalian. Maaf, aku harus membawa kalian pulang ke kastil dalam keadaan selamat. Aku tidak mau ada korban jatuh lagi!" tegas Reno.


Belum ditanggapi oleh Ryan dan Jeremy, tiba-tiba di kejauhan sayup-sayup terdengar suara teriakan memanggil. Suara itu berasal dari arah air terjun, seperti suara perempuan.


"Kalian dengar itu?" kata Reno sambil menajamkan pendengaran.


"Rosita! Farrel! Di mana kalian?"


Demikian suara itu memanggil. Mendengar suara itu, paras Ryan berubah. Ia merasa mengenali suara itu.


"Iya, itu seperti suara Lily!"


Mereka segera bergegas menuju ke arah sumber suara. Mereka menerobos semak belukar dan jalan setapak, menuju arah air terjun. Dugaan mereka tepat. Tak jauh dari air terjun, tampak Lily yang tampak kebingungan. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari seseorang.


"Ros! Farrel!" pekik Lily.


"Lily!" panggil Ryan.


Wanita muda itu menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Parasnya tampak senang melihat kehadiran Ryan dan Jeremy, apalagi ada pula Pak Reno. Ia segera mendekati mereka.


"Kamu tidak kembali ke astil bersama rombongan Ramdhan?" tanya Reno penuh selidik.


"Oh ... aku tadi buang air kecil sebentar di bagian sana. Namun, ketika kembali aku tak menemukan Rosita atau pun Farrel. Aku jadi bingung. Makanya aku panggil-panggil mereka. Untung kalian datang. Kalau tidak mungkin aku tersesat dan tidak bisa kembali ke kastil," ucap Lily.


"Kita harus segera kembali ke kastil, Lily! Sekarang juga!" ucap Reno.


"Kembali? Memangnya Nadine sudah ditemukan?" tanya Lily dengan heran.


Reno menggeleng cepat. Ia tidak berniat menceritakan kronologis kejadian kepada wanita itu. Ia segera mengisyaratkan pada Lily agar segera mengikuti mereka kembali ke kastil. Lily sebenarnya masih ingin bertanya0tanya, tetapi ia urungkan niat itu. Ia melihat Reno memasang tampang yang begitu serius.


"Kok aku tidak melihat Maya sejak tadi?" tanya Ryan pada Lily.


"Oiya, benar. Maya tadi katanya akan menemui kalian, tetapi nggak tahu juga. Ia juga tidak kembali ke air terjun. Atau jangan-jangan sudah kembali ke kastil bersama rombongan Ramdhan?" tanya Lily.


"Ya sudah lebih baik kita segera kembali ke kastil. Masalah Maya kita urus nanti, yang jelas kita harus kembali ka kastil sekarang, sebelum hari mulai gelap!" perintah Reno.


Langit semakin menggelap. Rombongan kecil itu segera menyusur jalan setapak menjauhi air terjun. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Dimas dan Juned. Tanpa banyak kata, mereka langsung mereka kembali ke arah kastil. Reno tak perlu menceritakan panjang lebar tentang segala sesuatu yang terjadi. Esok hari, ia kembali berencana menyisir hutan untuk mencari penghuni kastil yang belum kembali.


***