
Para mahasiswa kembali berkumpul di taman kampus untuk berdiskusi. Kali ini mereka mendengar penjelasan Rudi yang baru saja diinterogasi oleh polisi. Ia juga memohon maaf karena menyebutkan nama mereka kepada polisi sebagai bahan penyelidikan. Besar kemungkinan, setelah ini akan ada panggilan polisi terkait dengan kasus pembunuhan Jenny dan Alma.
“Maafkan aku, terpaksa aku menyampaikan nama kalian satu-persatu kepada polisi. Aku nggak punya pilihan lain. Kita harus saling mendukung. Aku sama sekali tidak mengatakan pada mereka kalau mayat Jenny kita temukan di kamar mandi di rumah Gerry. Aku hanya mengatakan pada polisi bahwa terakhir melihat Jenny ke lantai atas pada pukul 02.00. Jadi kuharap kalian nanti kalau ditanya-tanya, harus sama jawabannya. Ingat! Jangan ada yang mengatakan kalau melihat mayat Jenny di kamar mandi. Katakan saja Jenny ke lantai atas pukul 02.00 atau kalau memang ragu, bilang saja tidak tahu karena fokus ke acara pesta,” kata Rudi.
Semua terdiam. Mereka khawatir, karena mau tidak mau mereka semua sudah terseret dalam arus kasus ini. Tak ada pilihan lain, selain menghadapi itu semua. Tentu saja, masing-masing dari mereka tidak ada yang mengakui telah membunuh Jenny. Rasa curiga mulai menyergap di benak mereka.
“Kita akui atau tidak, pembunuh Jenny masih berkeliaran, dan mungkin saat ini bersama kita di sini. Aku mulai percaya, pembunuh Jenny adalah seseorang yang mempunyai masalah personal dengan dia, entah itu apa. Saat ini yang tidak hadir di sini adalah Gerry, karena rumahnya akan diperiksa polisi siang ini. Ferdy juga tidak hadir karena harus bekerja seperti biasa. Dalam keadaan seperti ini selayaknya kita saling membantu. Bila ada yang menjatuhkan yang lain, sudah pasti dia lah pembunuh sebenarnya,” lanjut Rudi.
“Tapi aku menduga pembunuhnya adalah dirimu sendiri, Rud! Jenny diketemukan dalam keadaan hamil. Sepertinya agak janggal kalau pelakunya adalah perempuan!” tuduh Rasty.
“Jangan sembarangan Rasty! Semua orang juga tahu kalau kamu cemburu berat dengan Jenny. Kecemburuan itu akan memberatkanmu. Mohon maaf, kemarin aku mengatakan pada polisi bahwa kau yang punya alibi terkuat, karena begitu cemburu pada Jenny.”
“Kamu mengatakan hal itu pada polisi? Oh Tuhan! Betapa brengseknya dirimu!”
Rasty terlihat mulai emosi melihat Rudi yang hanya bergeming.
“Maaf, kamu nggak ngerti posisiku saat interogasi itu. Jadi aku mengatakan semua yang aku rasakan. Maaf!”
“Kamu memang brengsek, Rud! Harusnya kamu aja yang mati! Bukan Jenny! Persetan dengan kalian semua! Kalian puas kan kalau aku dipenjara? Fu*ck with you all!”
Rasty merasa kecewa, melenggang pergi dengan mengacungkan jari tengah. Semua yang ada di situ menahan napas. Mereka memahami perasaan Rasty, di saat seperti ini ia merasa dipojokkan dengan pembunuhan Jenny.
“Ya udah sekarang kita bubar aja. Ntar kalau polisi tahu kita kumpul-kumpul kayak gini, nanti dikira ada persekongkolan. Untuk sementara ini mending kita menjaga diri agar nggak saling ketemu dulu, kecuali dipanggil polisi. Kalau ada yang perlu dibicarakan lewat grup Whatsapp aja ya. Nanti aku bikinkan grup nya,” kata Alex berusaha meredam ketegangan di antara mereka.
“Dan kamu akan menamai grup itu ‘Tersangka Pembunuhan Jenny’ begitu?” seloroh Lena.
“Hahaha. Mungkin tidak. Aku akan namai grup itu ‘Siapa pembunuhnya?’” jawab Alex.
“Udah deh jangan bercanda. Ini aku tegang banget tahu. Sumpah, seumur hidupku baru pertama kali aku bersentuhan dengan polisi. Ngurus SIM aja lewat calo, ini sekali kena langsung kasus pembunuhan. Siapa yang nggak stres coba?” ucap Miranti.
“Jujur ya, sebenarnya aku nggak mau bahas masalah pembunuhan itu, karena terus terang aku stres banget. Makanya aku diam aja dari tadi. Setelah ini aku mau cuti dan liburan ke kota sebelah. Aku sudah merasa muak di kota ini.” Adinda turut bersuara.
“Saranku sih mending kita nggak ninggalin kota ini daripada polisi berpikir yang enggak-enggak ke kita,” saran Rudi.
Mereka kembali terdiam. Menjelang siang, kumpulan mahasiswa itu membubarkan diri. Beberapa harus mengikuti perkuliahan selanjutnya, beberapa lagi pergi ke tempat lain.
Rasty merasa gusar dengan pernyataan Rudi. Ia menyingkir menyendiri ke lobby perpustakaan. Di situ ada beberapa mahasiswa yang sedang membaca koran atau majalah. Di layar TV sedang menyiarkan berita tentang seorang mahasiswa pemarah saat diwawancarai. Rasty merasa makin terpukul, karena dalam siaran itu Gilda Anwar jelas-jelas mengambil gambarnya ketika sedang marah saat di pemakaman Alma.
“Apa pula ini!”
Rasty tak ingin orang yang ada di situ mengenali wajahnya. Segera ia beranjak dari tempat duduk, pergi meninggalkan gedung perpustakaan megah itu.
***
Rumah berlantai tiga itu terlihat megah, dengan desain modern minimalis. Taman di depannya cukup luas, sehingga memang cocok untuk kegiatan pesta dan sejenisnya. Jarak antar rumah dengan tetangga juga lumayan jauh, sehingga privasi sangat terjaga. Mereka menduga, di lingkungan sekelas ini, tetangga tidak saling mengenal dan tidak mencampuri urusan satu sama lain. Tempat ideal untuk satu tindak kejahatan.
Gerry sudah menyambut di teras dengan paras cemas. Baru pertama kali ini rumahnya dikunjungi polisi untuk urusan penyelidikan. Sungguh, ia belum merasa sepenuhnya nyaman. Ia masih berduka juga atas kehilangan Alma, kini rumahnya harus diperiksa oleh polisi.
Tanpa basa-basi terlalu lama para polisi segera melaksanakan tugas. Gerry menunggu di ruang tamu dengan perasaan cemas, sementara Dimas dan Reno duduk pula di dekatnya, sambil mencatat segala yang mereka anggap penting di rumah itu.
“Jadi kamu tinggal sendirian di rumah ini?” tanya Dimas.
“Iya Pak,” jawab Gerry singkat.
“Terus pesta tahun baru itu dimulai jam berapa, dan selesai jam berapa?” Dimas mulai menyelidik.
Ia mengambil buku kecil dan mulai mencatat.
“Jam sepuluh malam teman-teman mulai berdatangan, kami berpesta seperti biasa, dan berakhir pukul empat pagi.”
“Hmm. Ada berapa orang yang hadir di pesta itu, dan siapa saja mereka?”
“Maaf, Pak. Saya tidak begitu ingat, karena mereka membawa teman, dan ada pula yang berhalangan hadir. Tetapi sekitar 30 undangan saya sebar hari itu. Yang datang mungkin lebih, karena saya melihat rumah ini begitu penuh sampai lantai atas. Mereka adalah teman-teman kuliah saya, tetapi ada juga yang bukan. Mereka diajak karena kenal saja sih.”
Gerry menerangkan setenang mungkin, walau jantungnya berdebar. Ia berusaha agar tak salah bicara.
“Kamu nyadar nggak kalau salah satu dari tamu undanganmu menghilang, dan ditemukan mengapung di danau karena pembunuhan?” tanya Dimas.
“Oh, begini Pak. Saya perlu meluruskan bahwa Jenny sebenarnya bukan termasuk tamu yang saya undang, karena teman saya yang bernama Rudi membawa ke pesta ini. Makanya saya juga kaget, setelah tahu bahwa Jenny adalah salah satu tamu di pesta tahun baru itu. Maaf, saya memang sekilas lihat dia, tetapi tak terlalu perhatian, mengingat saya adalah tuan rumah, jadi lebih fokus pada jalannya acara,” terang Gerry.
“Kapan kamu terakhir melihat Jenny?”
“Wah, saya tidak begitu ingat Pak, karena banyak tamu datang malam itu. Semakin malam semakin banyak yang datang, jadi saya tidak terlalu fokus. Yang jelas sekitar pukul 11 saya masih melihat Jenny tertawa-tawa senang, setelah itu saya nggak lihat lagi,” ungkap Gerry.
“Hmm. Apakah ada CCTV di rumah ini?” tanya Reno.
“Iya Pak ada, tetapi tidak di seluruh bagian ruangan. Hanya bagian teras depan, samping dan belakang. Untuk ruang-ruang utama kami tidak pasang,” kata Gerry.
“Kami akan melihat-lihat sekitar sebentar!” ucap Reno, sambil beranjak dari duduknya.
Dimas juga turut beranjak. Mereka kembali memeriksa semua ruangan yang ada di dalam rumah itu. Gerry menunggu dengan perasaan tegang.
***